Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nuansa Kesegaran di Tenggorokan


Selepas ashar, saya bersiap ikutan leyeh-leyeh di samping si kecil yang masih terlelap. Ya, siapa tahu tertidur hingga adzan maghrib. Barangkali serasa seperti tidurnya ashabul kahfi yang ketika terbangun, langsung menemukan suasana baru.

"Astaghfirullah", ucap saya spontan.

Istri saya bergegas keluar kamar, takut ada sesuatu yang saya alami. 

Memang benar. Saya mengalami sesuatu di tenggorokan saya. 

"Ada apa, Bi?", tanyanya.

Saya masih terdiam memegangi tenggorokan. 

"Ada yang aneh, Uma".

"Bi, kenapa?", istri mulai khawatir.  

Saya berusaha keras mengingat sesuatu. 

Nah, sudah ingat.

"Tadi lupa minum air segelas, Uma", jawab saya dengan wajah polos tanpa dosa. 

Pantesan, tenggorokan saya terasa tidak wajar. Biasanya sore begini, tenggorokan seperti sepetak sawah di musim kemarau, kering kerontang. Tapi sekarang mendadak muncul nuansa kesegaran. 

Kirain saya tadi dapat 'karomah'-nya waliyullah, hingga tenggorokan dapat anugerah kesejukan meski seharian puasa. Ternyata lupa minum air segelas.

Ya mau bagaimana lagi. Orang lupa kan tidak dikenai dosa syariat. Toh, puasanya tetap bisa dilanjutkan dengan penuh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Entah kenapa, tadi saya seperti sedang berada di alam bawah sadar. Karena terbiasa melakukan sesuatu yang jadi rutinitas, akhirnya terbawa-bawa tanpa sadar jika sedang puasa. 

Saya seringkali nyeruput air segelas sehabis dari kamar mandi. Ditambah pula pikiran sedang melamun teringat yang lain. Klop sudah. Keluar kamar mandi, ambil teko plastik, lalu menuangkan airnya dalam gelas. Saya minum dengan tuntas. Maka, terjadilah ketidaksinkronan antara pikiran dan perbuatan.

Istri menghela napas panjang, "Siapa tahu besok lupa makan sepiring, ya Bi". 

"Ya mau bagaimana lagi, jika Allah sudah berkehendak, kita cuma bisa apa, Uma".

Tapi tenang, kejadian dramatis macam itu terjadi di awal-awal puasa dulu. Makin hari, otak makin canggih mengingatkan jika sedang puasa. Apalagi hanya sekadar membedakan adzan dhuhur dan maghrib, tentu mudah sekali. 

Catatan khusus: foto ini hanya ilustrasi, jangan sampai anda terprovokasi untuk ngopi di sore hari dengan alasan ben kuat posone. Ya terkecuali jika anda mendadak ingat kalau tadi lupa sudah ngopi segelas.

Posting Komentar untuk "Nuansa Kesegaran di Tenggorokan"