Bapak Tukang Becak: "Mas, Mau Beli Baju Saya?"
Kian hari kian tak menentu. Wabah corona menciptakan ketidakpastian. Salah satunya ketidakpastian kondisi ekonomi. Sektor informal yang awalnya paling terpukul. Bagaimana tidak, mereka memerlukan upah harian yang tanpa Corona pun sudah susah. Belakangan, sebagian sektor formal mengalami tekanan pula. Logikanya, ketika produksi berhenti atau daya beli merosot, bagaimana perusahaan akan mendapatkan income. Jika income melorot, gaji buruh bakal terancam. Akhirnya terjadilah mimpi buruk itu, entah berapa ribu buruh ya di-PHK. Kadang media memperhalusnya dengan istilah "dirumahkan". Ujung-ujungnya, buruh yang "dirumahkan" tadi mau tidak mau harus kerja informal juga untuk bertahan hidup.
"Assalamualaikum mas", suara parau itu mengagetkan lamunan saya. Hari itu masih pagi, pikiran saya terlanjur kemana-mana mikir corona. "Nggih, waalaikumsalam pak, monggo pinarak mriki". Saya ingat wajah sepuh beliau tapi lupa namanya. Kita bertetangga tapi ajak jauh. Seperti lagu Ebiet, keriput tulang pipi beliau menggambarkan perjuangan hidup yang berat. "Mboten mas, kulo mriki mawon". Beliau bilang hanya sebentar saja, saya persilakan masuk rumah tapi tidak mau. Akhirnya kami berbincang di teras. Beliau menenteng tas kresek berisikan sesuatu, "Kulo mbade nawari niki teng mas e". "Njenengan bawa apa niku pak?" saya penasaran. "Mas e mau beli baju saya?". Saya kaget. Wajah beliau malu-malu. "Ini baju masih bagus mas, baju kulo, biasanya saya simpan terus di lemari". Saya lihat isi tas kresek beliau. Ada dua lembar baju batik bekas dan satu potong sprei. Hati saya menangis lihat beliau yang makin mengiba. "Niki kepepet mas, kulo mboten saget kerja lagi, makanya jual baju kaleh sprei, damel kebutuhan sehari-hari, kulo nggih sakit diabetes, damel tumbas obat mas". Mata beliau berkaca-kaca walau masih menyisakan seutas senyum. Saya yakin dua baju itu adalah baju terbaik beliau. "Dijual pinten pak?" mungkin saya bisa mengganti baju beliau. "Tiga ratus ribu, mas". Harga yang mahal untuk ukuran baju bekas dan sprei. Tapi terlalu murah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dirundung ketidakjelasan. "Sekedap nggih pak".
"Assalamualaikum mas", suara parau itu mengagetkan lamunan saya. Hari itu masih pagi, pikiran saya terlanjur kemana-mana mikir corona. "Nggih, waalaikumsalam pak, monggo pinarak mriki". Saya ingat wajah sepuh beliau tapi lupa namanya. Kita bertetangga tapi ajak jauh. Seperti lagu Ebiet, keriput tulang pipi beliau menggambarkan perjuangan hidup yang berat. "Mboten mas, kulo mriki mawon". Beliau bilang hanya sebentar saja, saya persilakan masuk rumah tapi tidak mau. Akhirnya kami berbincang di teras. Beliau menenteng tas kresek berisikan sesuatu, "Kulo mbade nawari niki teng mas e". "Njenengan bawa apa niku pak?" saya penasaran. "Mas e mau beli baju saya?". Saya kaget. Wajah beliau malu-malu. "Ini baju masih bagus mas, baju kulo, biasanya saya simpan terus di lemari". Saya lihat isi tas kresek beliau. Ada dua lembar baju batik bekas dan satu potong sprei. Hati saya menangis lihat beliau yang makin mengiba. "Niki kepepet mas, kulo mboten saget kerja lagi, makanya jual baju kaleh sprei, damel kebutuhan sehari-hari, kulo nggih sakit diabetes, damel tumbas obat mas". Mata beliau berkaca-kaca walau masih menyisakan seutas senyum. Saya yakin dua baju itu adalah baju terbaik beliau. "Dijual pinten pak?" mungkin saya bisa mengganti baju beliau. "Tiga ratus ribu, mas". Harga yang mahal untuk ukuran baju bekas dan sprei. Tapi terlalu murah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dirundung ketidakjelasan. "Sekedap nggih pak".
Saya masuk rumah. Berharap ada uang yang dibutuhkan bapak tadi. Saya raih dompet yang tertinggal di tas ransel. Saya buka dompet perlahan, Ya Allah, saya tak tega lihat dompet sendiri, tersisa selembar uang 50 ribu. Saya cari dompet istri, Alhamdulillah, ada 50 ribu lagi. "Pak, ngapunten, pripun kalau bajunya saya beli satu saja", "Oh, nggih mboten nopo-nopo mas, ngersakne sing pundi?". Wajah beliau mendadak sumringah. Sebenarnya ingin langsung saya kasih saja uangnya tanpa harus ambil baju. Namun, takutnya malah bikin beliau sedih, seakan meminta-minta. Akhirnya terpaksa saya ambil satu batik.
Belakangan saya tahu jika beliaunya ternyata kerja menjadi tukang becak. Karena sakit diabetes yang beliau derita, akhirnya beliau tidak bisa lagi kerja berat. Tentu saya prihatin. Saya yakin ada banyak orang-orang seperti beliau di kiri kanan saya. Saya share cerita tentang beliau ke teman-teman dosen UNU Blitar. Saya curhatkan juga ke teman-teman reviewer jurnal unu blitar, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi besar. Muncullah ide bersama untuk berdonasi. Mereka mengamanahkan sebagian honorarium. Saya belikan kebutuhan pokok, seperti beras, minyak dan mie instan.
Saya ucapkan terima kasih banyak, Jazakumullah khoiron. Semoga Allah yang membalas kebaikan teman-teman dosen dan reviewer. Memang ini sangat tidak seberapa. Kami tidak mampu memberikan setiap hari, padahal kebutuhan hidup tidak bisa di-stop. Paling tidak, mereka bisa bernafas lega, ada hari dimana mereka tidak bingung untuk mendapatkan beras.

Posting Komentar untuk "Bapak Tukang Becak: "Mas, Mau Beli Baju Saya?""