Gebrakan Kemajuan Untuk TPQ dan Diniyah Al-Mukthi
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Mu’thi, begitu masyarakat mengenal namanya, terletak di ujung timur laut Dusun Sambeng, hanya berjarak puluhan meter dari tempat saya tinggal. Sebutan Al-Mu’thi untuk nama TPQ diselaraskan dengan nama masjid besar yang berdiri kokoh tepat didepan gedung TPQ. Karena tinggal di dusun itu sejak kecil, maka saya tahu betul bagaimana perjalanan panjang TPQ Al-Mu’thi melewati lika-liku sejarah. Ketika itu, pertengahan tahun 2002, saya merengek ke orang tua untuk dicarikan tempat mengaji yang pas untuk anak seusia saya. Sebelumnya, saya mohon izin untuk mengaji di TPQ Al-Mu’thi saja mengikuti teman-teman satu kampung yang kompak mengaji disana semua, terlebih lagi ibu saya adalah salah satu pengajar tetap di TPQ itu. Namun anehnya, ibu saya sendiri malah melarang saya mengaji disana, beliau beralasan bahwa pengajar TPQ yang didominasi oleh sanak famili dikhawatirkan membuat saya tidak serius dalam belajar agama.
Sejak saat itu, saya dititipkan kepada kenalan beliau sekaligus kerabat jauh bernama Ibu Ruqayyah pemilik TPQ At-Thohiriyyah II yang berada di kompleks pesantren besar Mambaul Ulum asuhan KH. Mansur Hamid. Beberapa bulan mengaji di TPQ asuhan Bu Ruq, justru saya mulai menyadari bahwa saya dipaksa mengaji disini barangkali karena fasilitas anak didik yang memadai, mulai dari tenaga pengajar yang berkualitas, sarana penunjang yang komplit hingga metode pengajaran yang mudah difahami. Bahkan dapat dikatakan, TPQ At-Thohiriyyah II saat itu adalah salah satu TPQ yang paling sukses dalam menerapkan metode Qira’ati dalam pembelajaran.
Bagaimana dengan TPQ Al-Mu’thi masa itu ? Boleh saya bilang cukup memprihatinkan dan mengenaskan. Saya yang ketika itu sudah bergumul dengan ruwetnya hafalan tajwid dan implementasinya dalam Al-Qur’an, telah berlari jauh meninggalkan teman sekampung yang masih bergelut dengan iqra’ jilid. Ditambah dengan kondisi gedung TPQ Al-Mu’thi yang hampir rapuh dan tak elok dipandang. Tidak hanya pengajar TPQ yang mengeluh tidak nyaman, bahkan wali santri pun mulai banyak yang enggan menitipkan putra-putrinya belajar disana. Mungkin saja, kondisi ini sudah menemani TPQ itu sejak lama.
Beberapa tahun berikutnya, saya terkejut ketika mendapati gedung TPQ Al-Mu’thi dihancurkan total. Ruangan sempit yang berjumlah tiga lokal berdempetan dengan tempat wudhu masjid ternyata semua diratakan jadi satu. Rupanya masyarakat mulai menyadari bahwa kualitas sarana prasarana berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh para santri. Berkat kepemimpinan kepala dusun yang piawai dan kerjasama yang baik antara ta’mir, donatur serta segenap masayarakat dusun, maka dibangunlah gedung TPQ Al-Mu’thi baru yang berdiri kokoh dan luas, ditambah dengan satu ruang guru dan kamar mandi santri.
Gedung baru membuat pamor TPQ Al-Muthi cukup melejit, suasana gedung yang nyaman membuat para wali santri berduyun-duyun menitipkan putra-putri mereka disana. Gebrakan kemajuan Al-Mu’thi tidak cukup sampai disana. Gedung baru tidak membuat pengurus masjid dan TPQ berpuas diri. Perbaikan sarana dan prasarana pendidikan harus dibarengi dengan kualitas pendidik yang handal untuk melahirkan generasi cerdas. Motivasi itu setidaknya telah digenggam erat oleh guru TPQ Al-Mu’thi manakala mereka dengan ikhlas harus mengikuti madrasah khusus untuk mendidik kualitas pengajar TPQ yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif NU Mojokerto. Setiap minggu selama setahun, para ustadz dan ustadzah TPQ dibawah naungan PGPQ (Persatuan Guru Pendidikan Al-Qur’an) dengan semangat belajar metode pengajaran baru bernama Az-Dzikr dan metode Yanbu’a untuk pengganti metode Qira’ati. Menjelang ujian akhir PGPQ, saya yang belum pernah mengikuti ‘kuliah’ pendidik Al-Qur’an diseret ibu saya untuk mencoba keberuntungan dengan mengikuti tashih untuk menguji kelayakan guru TPQ, mungkin saya ketika itu masih sekolah menengah. Eh, tak dinyana saya pun dinyatakan lulus tashih dengan nilai yang baik. Hehe… Insya Allah bias menjadi bekal saya menjadi guru TPQ. Amin..
Maka, jadilah sejak saat itu, TPQ Al-Mu’thi memiliki tenaga pendidik yang tersertifikasi oleh lembaga resmi. Kualitas pendidik dan kenyamanan sarana prasarana ternyata betul-betul menghasilkan santri yang berkualitas. Satu demi satu bibit prestasi ditorehkan, baik di tingkat kecamatan dan kabupaten. Setidaknya itu adalah hasil yang membanggakan jika dikaitkan dengan perjuangan berat selama ini.
Awal saya menginjakkan kaki di sekolah menengah atas, saya dipanggil oleh salah seorang pengajar TPQ untuk diminta kesediaan mengajar di TPQ Al-Mu’thi. Tentu dengan senang hati saya sanggupi, dengan bangga saya niatkan untuk mengamalkan sedikit ilmu yang dimiliki. Namun ada yang janggal, saya diminta bukan mengajarkan ilmu Qur’an sekaliber tajwid, tilawah atau apalah itu yang biasa ada di TPQ. Lantas saya mengajar apa? Ternyata saya mendapatkan kabar bahwa TPQ Al-Mu’thi mendapatkan bantuan dari donator kaya asal Jakarta yang menyumbangkan dua computer baru Pentium IV. Dan sudah saya tebak, ternyata saya diminta mengajarkan dasar-dasar computer kepada seluruh santri TPQ dari yang belajar jilid I hingga santri yang lancer membaca Al-Qur’an. Awalnya saya protes, bagaimana bias materi TPQ dicampur adukkan dengan materi sekolah formal ? Janggalnya adalah tidak ada TPQ saat itu didaerah saya yang mengajarkan materi computer atau bahkan menggunakan sarana computer dalam mngajar TPQ. Namun, seluruh pengurus baik ta’mir masjid maupun TPQ menyadari justru ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan maksimal. TPQ juga diharapkan mampu mengimbangi kecanggihan teknologi era modern.
Sejak saat itu, TPQ Al-Mu’thi boleh berbangga karena mungkin saja menjadi satu-satunya TPQ wilayah daerah yang mengajarkan materi computer praktis. Kabar ada TPQ yang mengajarkan computer segera menyebar ke seluruh penjuru desa. Tak heran jika sampai ada wali santri yang jauh-jauh mendaftarkan putranya di TPQ Al-Mu’thi demi memperoleh pendidikan yang menurut mereka ‘berbeda’ dari TPQ lain.
Kini, hampir tujuh tahun berlalu ketika materi computer petama kali diajarkan. Tahun ini, TPQ Al-Muthi mencoba mendirikan diniyah sebagai bentuk kelanjutan dari TPQ di sore hari. Diniyah akan diperuntukkan bagi santri remaja yang telah diwisuda dari TPQ, akan dilangsungkan pada malam hari ba’da maghrib. Target dari materi diniyyah adalah pendalaman kitab-kitab klasik, sebagai bekal pemahaman komprehensif terhadap agama islam.
Saya sempat mengikuti rapat pengurus ta’mir dan pengurus TPQ Al-Mu’thi untuk mengkonsep diniyyah bersama para donator. Lagi-lagi hal janggal saya temui, setelah materi computer pada TPQ, rencananya diniyyah diharapkan mendapat tambahan materi bahasa inggris praktis sebagai alat komunikasi antara guru dan murid. Tentu saja, ini adalah gebrakan yang terlihat konyol. Namun tentu sesungguhnya memiliki cita-cita yang mulia. Santri diharapkan tidak hanya memiliki keilmuan islam yang mumpuni, namun juga memiliki kemampuan bahasa asing praktis sebagai sarana komunikasi. Bukankah menguasai bahasa adalah kunci menguasai peradaban? Saya akan tetap mendukup kemajuan TPQ dan Diniyyah Al-Mu’thi sebagai ikon kemajuan pendidikan islam di daerah kelahiran saya.
![]() |
| Santri, Wali Santri dan Guru TPQ berlibur ke pantai |
![]() |
| Penghargaan terhadap santri berprestasi |
Wallahu A’lam.


Posting Komentar untuk "Gebrakan Kemajuan Untuk TPQ dan Diniyah Al-Mukthi"