Dimas Kanjeng dan Fenomena Masyarakat Sakit
Selasa malam kemarin, sengaja saya menyaksikan acara TV yang memang saya sukai sejak lama dan selalu saya nanti-nantikan, Indonesia Lawyer Club (ILC). Acara ini menyajikan diskusi hangat bersama para pakar dan tokoh nasional untuk membahas masalah yang lagi hangat di tanah air, biasanya topik yang diangkat adalah masalah yang kontroversial. Tak jarang, topik yang dibahas memunculkan argumentasi pro kontra yang berkelas, berdasarkan opini maupun data dan fakta dari para narasumbernya. Sangat layak dinikmati sambil nyeruput kopi. Namun entah mengapa selasa kemarin, ILC hanya menyajikan rekaman ulang topik mengenai masalah Dimas Kanjeng. Itu rekaman lama yang di-record sekitar awal oktober lalu, beberapa hari sejak beliau dijemput paksa dari singgasananya. Kasusnya amat pelik, penipuan ribuan pengikut dan pembunuhan. Padahal beliau sama pengikutnya sudah dinobatkan menjadi raja besar dengan spesialisasi keahlian sebagai pengganda uang. Ah, andaikan dia juga bisa menggandakan cinta. Eh sorry, keceplosan.
Awalnya, saya kurang berminat untuk mengikuti acara hingga akhir. Toh, topik yang dibahas itu-itu saja. Namun, suasana ILC mulai terlihat menarik ketika beberapa tokoh yang diundang saling beradu argumen. Saya kira hampir seluruh tokoh beropini kontra terhadap Dimas Kanjeng. Kecuali salah seorang tokoh yang mungkin hingga kini selalu istiqomah membela Dimas Kanjeng, tanpa ia mempedulikan ketokohan ataupun keprofesorannya. Ya, akrab disapa Marwah Daud. Banyak dari kita barangkali menyayangkan, bagaimana bisa seorang akademisi hebat lulusan luar negeri percaya begitu saja dengan apa yang dilakukan Dimas Kanjeng. Rupanya beliau punya alasan lain.
![]() |
| Marwah Daud dan Dimas Kanjeng (sumber : tempo.co) |
Ketika diberikan kesempatan berbicara oleh pembawa acara ILC, Karni Ilyas. Beliau menjelaskan alasan-alasan mengapa begitu getol membela Dimas Kanjeng. Beliau mengatakan bahwa fenomena Dimas Kanjeng ini adalah fenomena trans-dimensi, dan susah sekali dinalar menggunakan pendekatan teori ilmiah akademis macam fisika kuantum. Saya sebagai pemirsa awam kadang juga bingung apa yang dimaksud trans-dimensi versi Marwah Daud ini. Beliau melanjutkan bahwa, beliau percaya dengan apa yang dilakukan Dimas Kanjeng dalam penggandaan uang karena ia melihat dengan mata kepala sendiri, Dimas Kanjeng mampu melakukan itu. Bahkan mengajak pemirsa ikut serta menyaksikan video bagaimana Dimas Kanjeng melakukan penggandaan uang rupiah dan berbagai mata uang asing di depan pengikutnya dengan cara merogoh saku dibalik jubahnya.
Beberapa kali Karni Ilyas menyela penjelasan Marwah Daud dengan bertanya, bagaimana beliau bisa menjelaskan fenomena Dimas Kanjeng secara ilmiah dan rasional, sehingga bisa diterima semua pihak bahwa aksi Dimas Kanjeng itu memang nyata. Lagi-lagi Marwah Daud tidak menjabarkan secara gamblang, malah beliau bercerita sesungguhnya mempercayai fenomena Dimas Kanjeng baginya membutuhkan proses panjang bahkan sampai istikhoroh beberapa kali. Akhirnya beliau merasa diberikan jawaban oleh Allah dengan menemukan cerita dalam Al-Qur'an mengenai pemindahan singgasana Ratu Bilqis pada zaman Nabi Sulaiman. Beliau berkilah, jika memindah istana yang megah saja mudah bagi Allah, apalagi hanya memberikan karomah pada Dimas Kanjeng untuk menggandakan uang, pastinya sangat mungkin. Marwah seakan menggiring opini bahwa fenomena Dimas Kanjeng ini sesungguhnya bukan ranah rasional, sehingga sulit untuk menjelaskan secara ilmiah kepada masyarakat.
Menyinggung kata 'karomah' yang memang hanya biasa dimiliki oleh orang-orang sholeh yang dekat dekat Allah (auliya'). Karni Ilyas tertarik untuk bertanya apakah Dimas Kanjeng menurut Marwah Daud termasuk dalam golongan para auliya' sehingga diberikan karomah oleh Allah? Padahal salah seorang narasumber ILC menyatakan dengan begitu jelas bahwa Dimas Kanjeng tidak mampu membaca Al-Qur'an dengan baik ketika diminta membacanya. Namun, Marwah Daud hanya menanggapi santai, masalah itu adalah ranah pribadi yang hanya bisa diketahui oleh Dimas Kanjeng. Yang jelas, Dimas Kanjeng masih rajin sholat.
Narasumber lain yang diberikan kesempatan berbicara malah tak seorang pun yang mendukung argumentasi Marwah Daud. Akbar Faisal bahkan lebih tertarik untuk membahas fenomena Dimas Kanjeng berdasarkan fakta dan data yang ia temukan langsung ketika berkunjung ke Istana Dimas Kanjeng. Beliau berpendapat bahwa sepanjang suatu masalah mampu kita analisis secara rasional dan ilmiah, maka tak perlu dikait-kaitkan dengan hal mistis dan supranatural. Beliau mampu membuktikan dengan jelas bahwa aksi penggandaan uang ala Dimas Kanjeng tak lebih dari aksi seorang penipu ulung. Beliau buktikan dengan banyaknya uang palsu ala mainan monopoli yang digabung bersama uang asli, penemuan batangan emas yang ternyata hanyalah kuningan, hingga masalah jubah sakti ala Dimas Kanjeng yang hanya berupa jubah biasa yang dijahit khusus, ada tambahan kantong besar didalamnya, diduga untuk menyimpan uang puluhan juta. Menariknya, diakhir sesi penjelasannya, beliau dengan berkaca-kaca, mengajak Marwah Daud yang beliau anggap sebagai kakak sendiri untuk kembali ke jalan yang benar.
Lain lagi dengan apa yang disampaikan oleh KH. Abdusshomad Buchori, beliau seakan tidak sudi untuk menyebut pengikut Dimas Kanjeng sebagai santri dan menyebut padepokan Dimas Kanjeng sebagai pesantren. Pesantren itu mengajarkan ilmu agama islam kepada para santri melalui kyai. Pesantren itu tempat menggandakan ilmu bukan tempat menggandakan uang seperti padepokan Dimas Kanjeng. Narasumber lain seperti Mahfud MD bahkan bersikap lebih keras pada Dimas Kanjeng. Secara tidak langsung beliau merasa sakit hati oleh sikap Dimas Kanjeng yang memperlakukannya bak seorang murid yang sedang ngelmu ke Dimas Kanjeng kala berceramah dihadapan para pengikutnya. Akhlak Dimas Kanjeng menurut Mahfud tidak menunjukkan seorang yang berilmu, apalagi seorang auliya yang memiliki karomah, ibaratnya jauh panggang dari api. Mahfud mengkritik keras pendapat Marwah yang mengaitkan fenomena Dimas Kanjeng dengan cerita pemindahan singgasana Ratu Bilqis pada zaman Nabi Sulaiman. Justru menurutnya, Dimas Kanjeng lebih relevan dengan cerita kemampuan sihir para pengikut Raja Fir'aun. Menurut beliau, fenomena Dimas Kanjeng jika memang dikaitan dengan mistis dan supranatural, tak lebih dari kemampuan sihir yang menipu masyarakat. Menggandakan uang adalah tindak pidana, karena yang berhak untuk menggandakan uang dan mencetaknya kembali ada ditangan Bank Indonesia, bukan Dimas Kanjeng.
Diakhir sesi diskusi, kyai sepuh Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Muzadi mengajak masyarakat untuk menggunakan logika sederhana dalam menyikapi fenomena Dimas Kanjeng. Jika memang dia benar-benar mampu menggandakan uang, mengapa uang orang lain yang mesti digandakan? mengapa bukan uangnya sendiri saja. Mungkin bisa saja dia hanya bermodalkan uang 10 ribu digandakan menjadi 10 juta, lalu digandakan lagi menjadi 10 milyar bahkan sampai 10 trilliyun. Lalu bisa dibagikan ke masyarakat. Bukankah itu lebih bermanfaat daripada harus pakai mahar dengan mengambil uang orang lain.
Lepas dari fenomena Dimas Kanjeng yang lagi membahana, mantan ketua PBNU ini menyoroti keadaan masyarakat kita yang barangkali sedang sakit. Jika ada belasan orang saja pengikut Dimas Kanjeng mungkin masih wajar-wajar saja. Lah ini sudah ribuan orang pengikut yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, khususnya Jawa Timur. Apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka? Mengapa ribuan orang itu dengan mudah tergiur penggandaan uang tanpa berpikir menggunakan akal sehat. Benar-benar masyarakat sedang sakit. Yang miskin ingin kaya secara instan tanpa harus bersusah payah. Yang sudah kaya pun demikian, rasa serakah membuat mereka selalu merasa kurang dengan harta melimpah yang telah dimiliki. Fenomena Dimas Kanjeng membuat masyarakat yang sudah sakit ini menjadi semakin sakit. Sakit imannya, sakit agamanya, sakit pikirannya, sakit moralnya, bahkan bisa saja sampai sakit jiwanya.
Wallahu A'lam Bisshowab
Mojosari, 4 Januari 2017


Posting Komentar untuk "Dimas Kanjeng dan Fenomena Masyarakat Sakit"