Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Begini Suka Duka Menjadi Imam Tarawih Lintas Madzab

Ramadhan tahun ini memang terasa amat berbeda, teruntuk diri saya sendiri. Betapa tidak, setiap hari selama ramadhan ada seseorang yang membangunkan sahur dan menyuapi ketika berbuka. Seseorang itu telah menjadi tulang rusuk saya dan saya menjadi tulang punggung untuknya. Jadilah kami berdua bertukar tulang dengan ikatan halal. Ehem. Bagi kalian para jomblo, jangan baper. hehe. InsyaAllah, akan halal pada waktunya. Entah kapan.



Baiklah, bukan itu fokus utama pembicaraan artikel ini. Itu hanya mukaddimah, yang menjadikan menarik adalah realita bahwa bapak mertua saya adalah salah satu tokoh sentral organisasi besar islam di Kecamatan Mojosari. Sedangkan, saya sendiri adalah ketua salah satu ormas islam se-kecamatan Mojosari. Meski sesama islam, bendera ormas kami dan madzab yang diikuti kebetulan berbeda. Dan kami tidak pernah mempermasalahkan itu. Prinsip kami tetap menghormati perbedaan dan menyepakati yang sepaham. Jika ramadhan tiba, bapak mertua seringkali memimpin tarawih 8 rakaat disertai ceramah singkat menjelang shalat witir. Berbeda dengan latar belakang saya yang istiqomah tarawih 20 rakaat dengan kecepatan tinggi. Perbedaan jumlah rakaat itu pun tidak kami masalahkan sama sekali. Toh, semua pada nyodorin bukti dalil andai ditanya landasan amaliyahnya. Jadi ini adalah lingkup khilafiyah, tanpa harus menyalahkan satu sama lain.

Simak tulisan saya lainnya : Imam Tarawih Balapan, Jamaah Pingsan

Namun, tiba-tiba menjadi masalah ketika bapak mertua saya mempromosikan menantu barunya ini untuk menjadi imam di masjid-masjid yang biasa beliau imami. Tentu awalnya saya gugup level tinggi. Hal ini dikarenakan ada khilafiyah lain yang berseberangan dengan kebiasaan saya. Takutnya, hadirnya saya menjadi imam malah membuat gaduh jamaah. Padahal itu hanya asumsi belaka.

Bapak mertua sudah mewanti-wanti untuk meminta kesediaan saya menjadi imam di hari pertama tarawih. Saya merengek minta dispensasi. Alasan saya cukup diterima. "Biar hari pertama bapak mertua dulu yang menjadi imam, sekalian saya bisa belajar menyesuaikan bagaimana kebiasaan tarawih di masjid yang melaksanakan 8 rakaat. Besoknya, biar saya menyesuaikan sesuai dengan kebiasaan itu."  


Akhirmya, masa sulit itu pun datang. Hari kedua tarawih, saya benar-benar diminta menjadi imam tarawih 8 rakaat. Bukan di musholla kecil, melainkan langsung di masjid besar yang menjadi pusat kegiatan dan dakwah salah satu organisasi islam di kecamatan saya. Melihat jumlah jamaah yang membludak, bulu kuduk merinding luar biasa. Gugup level akut dan badan gemetaran seperti orang penyakitan. Sepengetahuan saya, imam yang memimpin tarawih 8 rakaat jarang membaca surat pendek-pendek seperti yang  dibaca oleh imam tarawih 20 rakaat. Untuk itulah, saya sudah menyiapkan hafalan beberapa pilihan ayat yang panjang-panjang sejak pagi. Perjuangan yang tidak mudah, karena saya sudah terlanjur ahli membaca surat qulhu. Untungnya, istri menjadi teman muraja'ah yang romantis. Ciye, jomblo jangan baper lagi. 

Saya berusaha memimpin tarawih sebaik mungkin. Gemetar rasanya belum hilang, bahkan suara pun ikut gemetar. Sebelum takbir, tidak lupa untuk mengecek barisan shaf para jamaah. "Sawwu... sufufakum!". Sengaja saya suarakan dengan tegas dihadapan jamaah, agar terlihat meyakinkan sebagaimana imam profesional. Para jamaah malah menoleh ke saya semua. Mungkin penasaran, karena baru kali ini ada imam muda nan tampan berani memimpin tarawih. Saya jadi salah tingkah. "Eh, apa-apaan ini, kok pada liat saya pak?", teriak saya dalam hati. 

Singkat kata, pengalaman pertama saya memimpin tarawih 8 rakaat sukses besar. Baru kali ini saya merasa kayak jadi imam profesional seperti di masjid-masjid besar dengan bacaan surat yang panjang dan tempo yang sangat pelan. Sehingga, semua bacaan shalat dapat terbaca sempurna dan tumakninah dalam shalat tercapai. Tentu, durasi shalat tarawihnya menjadi lebih panjang dari pada yang melaksanakan 20 rakaat. Apalagi ditambah ceramah agama menjelang shalat witir. Saya sudah melakukan MoU dengan bapak mertua. Meski saya yang menjadi imam, namun saya belum bersedia menjadi penceramah karena kedangkalan ilmu. Khawatir malah salah ucap. Agar tidak menjadi fitnah dan kegaduhan, saya berusaha menyesuaikan dengan kebiasaan di masjid itu. Terutama dalam masalah khilafiyah yang dulunya sudah tuntas dibahas para ulama salaf.   

Esok harinya, undangan untuk menjadi imam tarawih datang dari masjid yang biasa shalat tarawih 20 rakaat. 

Bersambung...



Posting Komentar untuk "Begini Suka Duka Menjadi Imam Tarawih Lintas Madzab"