Pilihanmu Saat Ini Adalah Dirimu Masa Depan
"Hei, kok melamun saja !" sontak teguran beliau mengagetkanku. Wajahku memucat. Mematung dihadapan wali kelas layaknya duduk di kursi pesakitan. Beliau harap-harap cemas. Menanti keputusan finalku.
"nilai sosialmu tinggi, lho ! Sebenarnya saya lebih yakin kalau kamu memang berminat di IPS." beliau menambahkan. "Jangan cuma ikut-ikutan pilih IPA hanya karena gengsi, ikuti kata hatimu. Apa yang kamu putuskan hari ini, kelak akan menjadi penentu seperti apa dirimu dimasa depan".
Jantungku semakin berdegup kencang, ku tarik nafas panjang untuk menenangkan keadaan. Setelah ku dapatkan rangkaian kata yang meyakinkan, akhirnya aku angkat bicara, "Sudah saya fikirkan masak-masak, Pak. Saya berani menanggung segala resiko, Saya tetap berkeyakinan bahwa segala ilmu itu mudah dipelajari, asal dengan sungguh-sungguh pastinya. Saya berkeinginan menjadi seorang saintis yang berjiwa sosial, izinkan saya masuk IPA, pak !"
Sorot mata beliau menatapku tajam. "Yakin lho ya !", ucap beliau seraya mencomot bolpoin tebal dari saku cokelatnya. Dengan teliti, beliau membuka lembar demi lembar raporku, hingga berhenti di lembaran penilaian semeter genap kelas X. Pada bagian pojok kanan bawah, tepat diatas tanda tangan wali siswa, beliau menuliskan dengan hati-hati. "Masuk Jurusan IPA". kembali hening. krik...krik...krik...
***
Cerita singkat yang cukup dramatis, bukan? Sedikit menggambarkan bagaimana galaunya saya 4 tahun silam. Entah apapun permasalahannya, setiap saat kita pasti harus memilih, bukan hanya berlaku 4 tahun yang lalu saja. Banyak dari teman saya yang mengatakan, "Halah, tinggal milih aja apa susahnya". Memilih memang gampang, apalagi memilih wakil rakyat, tinggal coblos, lipat, masukin kotak. beres. Mudah banget ya ? Bukan itu yang saya maksudkan.
Tentu saja yang susah itu bukan ketika memilihnya, tapi justru ketika menjalani resiko dari apa yang telah kita pilih. "Ya udah wes, aku golput aja, gak milih apa-apa beres kan?". Golput itu juga pilihan, kampret !
"Ah, masa pilihan kita sekarang beresiko dimasa depan sih? Kok aku milih apapun rasanya aman-aman saja". Jika pilihanmu tidak berdampak apapun dalam kehidupanmu, maka periksalah, indra perasamu tidak berfungsi dengan baik. Coba renungkan baik-baik, apapun yang kamu kerjakan adalah sebuah pilihan yang pastinya memiliki dampak.Masih gak percaya? buktikan sendiri.
Kau pilih makan, pasti dampaknya kenyang. Kau pilih bolos, dampaknya presensi bolong-bolong. Kau pilih rajin, dampaknya IPKmu selangit. Pilihan kita ini berkaitan dengan konsep sebab-akibat, yang akibatnya pasti terjadi dimasa depan. Ingat, masa depan bukan ketika kamu sudah jadi tua, bahkan sedetik setelah sekarang pun dapat dikatakan sebagai masa depan. Maka, hati-hatilah dalam memilih karena pilihan kita pasti berdampak dimasa depan.
"Aduh, berarti memilih itu menakutkan ya!"
Ya, tidak segitunya, keleus...Seseram-seramnya danpak pilihanmu, sentuhan ikhtiar dan tawakkalmu akan merubah keadaan. "Kok bisa?"
Jika kita kaitkan dengan teologi islam, 'memilih' ternyata sedikit nyerempet dalam konsep free will dan predestination, free will adalah kebebasan berkehendak, dipandang oleh kelompok Qodariyah sebagai konsep yang terjadi dalam kehidupan, padahal tidak semua. Sedangkan, predestination adalah takdir, yang teorinya disalah kaprahkan oleh kelompok Jabariyah. Lantas yang benar seperti apa? Bayangkan,perjalanan panjangmu tiba-tiba dihadapkan oleh 2 tirai yang tertutup, mau tidak mau, kau harus memilih salah satu untuk melanjutkan perjalanan hidup. "Ciye.. kayak super deal 2 milyar." Hush.. ini serius..
Mengapa kedua tirai tertutup? ketertutupan tirai adalah gambaran masa depan yang ghoib, yang kedua mata indahmu tidak akan dapat menembus seberapapun tajamnya penglihatanmu. Jika tirai itu tiba-tiba muncul disela-sela perjalanan panjangmu, maka salah satu tirai akan menjadi pintu masuk jenjang masa depan. Free will adalah posisi ketika kamu harus memilih, engkau yang menentukan arah kehidupanmu. Peganglah petunjuk Allah sebagai lentera. Masuki tiraimu dengan hati-hati.
"Bagimana jika dibalik tirai adalah lembah bebatuan yang terjal? Apa aku salah pilih?" Tidak. Semua tirai memiliki tantangan. Disinilah konsep predestination muncul, jika dihadapanmu adalah bebatuan terjal, maka sungguh Allah telah menetapkan ujian sesuai dengan free will yang engkau pilih. Janganlah berputus asa! tiada yang tidak mampu melewati bebatuan terjal sepanjang dia senantiasa berikhtiar dan bertawakkal. Giatkan usaha tanpa melupakan doa. Disitulah, engkau akan menemukan secercah cahaya masa depan dari apa yang teleh engkau pilih.
So, apapun yang telah engkau alami sekarang adalah predestination dari free will yang engkau tanamkan. Pilihanmu sekarang menentukan bagaimana dirimu dimasa depan. (^_^).
Ingat ! Peganglah surah Al-Fatihah sebagai lentera petunjuk masa depan, "Ya Allah, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus".
Wallahu A'lam Bisshowab..

Posting Komentar untuk "Pilihanmu Saat Ini Adalah Dirimu Masa Depan"