Minim Penduduk, Sholat Jumat Hanya Belasan Jamaah
Jumat itu, waktu menunjukkan pukul 11.00 siang, dengan pasti saya melajukan kendaraan menuju Kota Malang melalui jalur curam yang kini sudah saya anggap biasa. Yakni, melalui jalur Pacet - Kota Batu dengan jalan berbukit, berkelok, sunyi senyap dan menanjak tak karuan. Walau dengan berat hati, saya harus segera sampai di kota tujuan karena ada keperluan mendesak di kampus. Konsekuensinya, saya harus mencari masjid di pinggir jalan untuk menunaikan kewajiban sholat jumat.
Memasuki kawasan Kali Kromong, saya berfikir sejenak untuk menata rencana. Waktu masih pukul 11.00 lebih sedikit. Rencana pertama,jika saya tetap nekat menerobos Hutan R. Soeryo, maka tidak ada pilihan lain kecuali hanya dapat melaksanakan sholat jumat di Desa Sumber Brantas, Batu, namun beresiko tinggi ketinggalan sholat. Itu pun jika cuaca bersahabat, mengingat saat itu gumpalan awan hitam sudah menghiasi puncak Gunung Welirang, maka rencana lain harus diadakan. Pilihan kedua, saya dapat melaksanakan sholat jumat di Dusun Sendi, daerah terpencil sebelum memasuki area hutan. "Tapi apa iya disana ada jamaah sholat jumat? Wong masjidnya saja mirip seperti langgar kecil kalau di desa saya. Ah, yang penting kesana dulu", pikir saya ragu.
Suara motor terdengar meraung keras. Saya memaksa agar jangan sampai tak kuat menanjak. Andai saja saya berboncengan, pasti salah satu harus turun agar motor tetap kuat di tanjakan. Beberapa menit menjelang Dusun Sendi, cuaca mendung tiba-tiba merubah gerimis. Saya tidak teralu peduli, toh saya masih memakai jaket sebagai pelindung badan. Tanpa diduga, kabut tebal mendadak menyelimuti jalan. Ah, ini yang sejak dulu saya khawatirkan manakala melewati jalur ini. Masalahnya kabut disini tebalnya bukan main. Kabut ini membuat saya laksana berada di alam mimpi. Bagaimana tidak, karena yang terlihat hanya warna putih menyelimuti kondisi sekitar. Jika sudah begitu, tidak ada pilihan lain kecuali dengan melajukan motor dengan sangat pelan agar tidak terperosok ke tepi jalan.
Rumah-rumah bambu mulai sedikit terlihat di tengah pekatnya kabut, itu tandanya saya telah sampai di Dusun Sendi. Saya harus segera sampai di masjid, mengingat guyuran hujan ternyata turun semakin deras. Hingga akhirnya sampailah didepan masjid kecil yang bernama Masjid As-Salam Dusun Sendi. Saya beruntung karena masjid ini benar-benar digunakan untuk sholat jumat. Saat itu, muadzin baru mulai mengumandangkan adzan dan imam belum menaiki mimbar. Segera saya melepas jaket yang sudah basah kuyup dan menaruhnya dalam tas.
![]() |
| Sholat Jumat Belasan Jamaah di Masjid Dusun Sendi, Pacet |
Saya teringat ketika mengaji kitab fiqh bab sholat jumat. Disitu disebutkan bahwa dalam madzab Syafi'i, jumlah jamaah minimal yang disyaratkan untuk melaksanakan sholat jumat adalah 40 orang, itu pun semuanya harus mukim alias penduduk asli tempat itu, dan para pendatang tidak dapat dihitung sebagai pelengkap syarat 40 orang tersebut. Lha, jika begitu bagaimana jika keadaan seperti sekarang? Hanya belasan jamaah yang menunaikan sholat jumat? Apakah pelaksanaan sholat jumat ini harus dibubarkan? Ah, itu fikiran yang terlalu ngaco. Jika menukil pendapat para ulama, ternyata tetap diperbolehkan menunaikan sholat jumat walau penduduk disini tidak mencukupi 40 orang. Masak harus impor penduduk dari daerah lain agar genap 40? Malah konyol sekali. Dan ini termasuk ranah khilafiyah ulama dalam bahasan sholat jumat. Mengingat kondisi geografis Dusun Sendi yang terpencil dan cukup susah dijangkau. Maka, saya sangat yakin jika sedikitnya jamaah ini tidak karena banyaknya penduduk yang tidak sholat jumat, namun memang karena penduduk laki-laki yang baligh jumlahnya sedikit. Atau mungkin saja banyak penduduk asli yang merantau ke daerah luar.
Kalau kita lebih bijak, sebenarnya yang perlu dipermasalahkan adalah bukan masalah banyak atau sedikitnya jamaah jumat. Karena sesungguhnya yang pantas dipersoalkan adalah mereka yang enggan melaksanakan sholat jumat.
Wallahu A'lam Bisshowab
Malang, 24 Februari 2016

Posting Komentar untuk "Minim Penduduk, Sholat Jumat Hanya Belasan Jamaah"