Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Gontor, Man Jadda Wa Jada Bukanlah Mitos

"Pak, Jadi bagaimana acara kita besok?" tanya saya penasaran. "Begini, besok Mas Fauzan ngisi acaranya seharian, acara kita mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Kalau ditempatkan di laboratorium, mungkin kurang kondusif, jadi workshopnya kami tempatkan di hotel milik Unida saja", jawab beliau meyakinkan. Mendengar kata 'hotel', pikiran saya melayang ke mana-mana. Yang saya tahu, sarana yang tersedia di hotel identik dengan kenyamanan dan kemewahan. Persis seperti rapatnya para pejabat. Maklum, orang desa seperti saya amat jarang punya acara di hotel.  Apalagi langsung dijadikan pemateri workshop. Ah, pasti keren sekali, unimaginable.

"Lho mas, jangan bengong saja, ayo makanannya segera disantap", ajakan Pak Kaprodi membuyarkan lamunan. Malam itu, kami yang baru saja tiba dari Kota Malang disambut hangat oleh Pak Kaprodi dan Sekjur Teknik Informatika, Unida Gontor.  Alih-alih diajak keluar ngopi, kami malah ditraktir jamuan makan malam di salah satu warung makan yang terhitung mewah di Kota Madiun. Benar-benar sambutan yang berkesan. Kami bercerita banyak hal penuh keakraban, rasanya seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu. Beliau berdua memang bukan sosok asing, sejarah mencatat bahwa beliau berdua pernah mengajar kami di kampus UIN Maliki Malang. Alhamdulillah, di kampus yang baru, ternyata beliau berdua diberikan amanah menjadi petinggi. Sebagai sesama alumni UIN Maliki, tentu ada rasa bangga. Apalagi bisa menjadi petinggi di Gontor, tempat yang dikenal sebagai rahim lahirnya generasi cerdas di tanah air.

Kesan yang kami tangkap, beliau berdua tidak terlalu berbeda dibandingkan ketika menjadi dosen kami dulu. Tetap ramah dan tak ada kesan menggurui. Walaupun kami tetap mengganggap beliau sebagai dosen kami, beliau justru tak ingin memposisikan kami sebagai mahasiswa beliau. Saya bahkan harus menolak dengan halus ketika beliau menawarkan hotel di Unida atau di sekitar Ponorogo sebagai tempat kami menginap. Semoga beliau berdua tetap diberikan kesuksesan mengabdi di kampus Unida Gontor.
***

Pagi itu, saya ditemani dua kawan (Anshori dan Dana) berangkat bersama meluncur ke Ponorogo. Tujuannya jelas, bertandang ke kampus Unida, sebutan keren untuk Universitas Darussalam Gontor. Sesuai agenda, kami bertiga diundang oleh Komunitas Robotika Teknik Informatika Unida sebagai pemateri workshop "Arduino Basic Training for Beginner". Sebelumnya, kami sudah janjian untuk menjemput pak kaprodi di rumah beliau, kebetulan searah, sekitar perbatasan Madiun-Ponorogo.

Lima menit dari Kota Ponorogo, terlihat gapura kampus penyapa dengan gagahnya, terukir indah membelah hijaunya persawahan. Siapapun akan takjub untuk membaca tulisan di gapura itu "Welcome to University of Darussalam, Gontor, Indonesia". "Ini dia kampusnya, keren sekali!", gumam saya dalam hati. Itu untuk pertama kali dalam sejarah, saya bisa menjejakkan kaki di bumi gontor. "Saya ajak kalian thowaf keliling kampus dulu ya," ucap pak kaprodi. Bak seorang guide, beliau dengan gamblang menjelaskan berbagai bangunan indah di setiap sudut kampus. Mulai dari masjid, gedung perkuliahan, rumah dosen, asrama mahasiswa, hotel hingga gedung utama kampus yang baru saja diresmikan presiden. Perkembangan kampus ini begitu cepat. Baru tahun 2014 lalu kampus Unida ini lahir, hasil metamorfosa dari ISID (Institut Studi Islam Darussalam), nama lamanya. Ibarat bayi, kampus ini harusnya masih merangkak. Tapi nyatanya tidak, kampus ini sedari bayi sudah mampu berlari. Gaungnya mendunia. Bukti dari kerja keras. Melalui film negeri lima menara, saya dapatkan filosofi keren dari Gontor, "Man Jadda Wa Jada", siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkan hasil dari kesungguhan itu. Filosofi ini nyatanya memang benar adanya, bukan omong kosong apalagi mitos. Bahkan saat ini sedang dijalankan oleh Unida. Sejauh ini, hasilnya cemerlang.
Bangunan utama kampus Unida Gontor

"Lho, pak! Saya kok ndak melihat ada cewek ya?" tanya saya keheranan. Saya perhatikan Pak kaprodi cuma senyam-senyum, "Mas Fauzan, mau nyari perempuan Gontor ya? cocok itu", jawaban pak kaprodi bikin saya jadi salah tingkah, "Eh, ndak begitu maksudnya pak, yang saya tahu, biasanya di kampus-kampus kan memang ada mahasiswa dan mahasiswinya, kok disini tak ada mahasiswi satupun". "Memang disini, putra dan putri harus dipisah mas, bahaya. tegangan positif dan negatif memang harus dipisah biar ndak nyetrum, kampus Unida ada dua, disini kampus putra satu lagi ada kampus Unida di Mantingan Ngawi, itu khusus kampus putri, jadi jangan harap bisa ketemu mahasiswi disini, hehe... ."

Saat itu, jam menunjukkan pukul 8.30 pagi, rombongan kami diajak memasuki ruang hotel tempat acara berlangsung. Benar sekali, ini seperti yang saya duga, panitia serius sekali menyiapkan acara. Banner besar terpampang tulisan nama saya sebagai trainer workshop. Komponen arduino juga sudah dibelikan lengkap, para perserta pun sudah berkumpul menanti kami. Tinggal eksekusi acara saja.  This is the real workshop ! 

Acara dibuka resmi oleh MC. Syukur Alhamdulillah, ternyata acaranya tetap menggunakan bahasa indonesia. Gontor terkenal sebagai pusatnya bilingual. Andai acara workshop dilaksanakan pakai bahasa arab/inggris, terus saya mau ngomong apa nantinya. Acara dibuka secara resmi oleh pak kaprodi. Beliau hanya berpesan bahwa kehadiran kami jauh-jauh dari Malang ini jangan sampai disia-siakan, atau dengan kata lain harus dimanfaatkan maksimal, serap sampai habis ilmunya. Waduh, saya jadi takut nih.

Pembukaan selesai, acara kami ambil alih seluruhnya. Tentu tak kami sia-siakan. Saya pandang mereka, wajah peserta workshop adalah wajah yang optimis. Pakaian mereka rapi dan tak banyak tingkah. Tampak dari gayanya, mereka mahasiswa cerdas. Bahkan sejujurnya, saya minder jika harus berbicara dihadapan mereka. Tapi apa mau dikata, acara terlanjur dimulai. Tak mungkin jika saya harus lari, padahal sudah dielu-elu jadi pemateri inti. Bismillah, saya akan sampaikan yang terbaik.

Acara kami bagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama adalah pengenalan. Saya harus mengenalkan diri saya. Biar terkenal gitu loh. Saya ceritakan panjang lebar perihal pengalaman saya, terutama jalan cerita bagaimana saya berkecimpung dibidang robotika. Pengalaman menarik terkait perakitan robot, pengalaman berkompetisi, pengalaman juara, dan berbagai suka duka. Anggap saja seperti curhat, tapi ini curhat yang berkelas, berbagi pengalaman yang tak ternilai harganya. Saya amati, mereka adalah pendengar yang serius. Setiap tutur kata yang saya ucapkan, mereka serap dengan teliti. Tak heran, kadang mereka tersenyum, berkenyit dahi hingga tertawa riuh. Oh, berarti mereka menikmati apa yang saya sampaikan. Akhir sesi saya buka kesempatan berdiskusi, mereka bertanya berbagai hal, saya jawab sesuai dengan pengalaman yang saya alami. Mereka dengan semangat dan harapan kuat, ingin sekali menjadikan komunitas robotika di Unida menjadi komunitas yang maju. Saya berikan motivasi bagaimana kami dulu berjuang membesarkan komunitas robotika UIN Maliki Malang.
Pemberian cinderamata oleh ketua robotika Unida Gontor

Sesi dua berlanjut dengan pemaparan materi inti dari workshop. Saya sampaikan materi dasar arduino beserta contoh implementasi komponennya. Saya amati mereka begitu antusias untuk mempelajari hal-hal baru. Materi yang belum mereka kuasai, mereka tanyakan detail. Pernah juga saya berikan kesempatan agar mereka memikirkan sendiri program arduino yang akan dijalankan. Tidak disangka, mereka dapat bergerak kreatif melampaui level pemula. Untuk kali kedua, filosofi man jadda wa jada berhasil diuji. Harus saya akui, mereka mahasiswa yang pantang menyerah. Banyak diantara mereka yang gagal memasang komponen, itu wajar. Namun mereka punya nilai lebih, tak ingin menyerah dengan keadaan. Yang lebih membanggakan, saya sempat menjumpai keadaan bahwa tak satupun kelompok yang gagal memasang komponen. Ya, mereka bersungguh-sungguh, dan mereka berhasil. Ini sunnatullah. Hal itulah yang membuat saya optimis, komunitas robotika Unida suatu saat akan besar. Kuncinya satu, filosofi man jadda wa jada harus tetap mereka genggam erat.

Hari itu, perasaan saya berbuanga-bunga. Andai saya punya tinta emas, akan saya goreskan pengalaman saya di lembaran kertas yang terbaik. Saya belajar banyak dari kampus Unida Gontor, betapa kesungguhan pasti akan membuahkan hasil. Filosofi man jadda wa jada bukan hanya ada dalam film. Filosofi itu bukanlah mitos. Filosofi itu nyata adanya. Dan Gontor mampu menjalankannya dengan cemerlang. Di akhir sesi, kami foto bersama. Perhatikan gaya sigap kami ketika kepalkan tangan. Dibalik kepalan itu, kami genggam erat man jadda wa jada.
Foto bersama peserta workshop, pemateri, dan pak kaprodi


Mojosari, 6 Februari 2017

Salam hangat

tanda-tangan

2 komentar untuk "Tentang Gontor, Man Jadda Wa Jada Bukanlah Mitos"

  1. Masyaallah luar biasa Prof. Saya bangga bisa menjadi rekan kerja jenengan. Semoga segala pengalaman dan ilmu yang jenengan punya bisa membesarkan UNU blitar

    BalasHapus