Tagih Kenaikan Honor Penyuluh di Hadapan Menteri Agama
Kamis, 5 Juli 2018, Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur punya gawe besar. Bertajuk halal bihalal dan dialog kebangsaan tokoh lintas agama, acara ini dihadiri sekitar lima ribu (5000) Aparatur Sipil Negara yang berada lama lingkup kemenag. Tidak lupa, mengundang pula Penyuluh Agama Islam Non-PNS se-Jawa Timur yang diwakili setiap kabupaten. Sebenarnya acara ini terbagi menjadi tiga zona. Dua zona lain bakal diselenggarakan di Kota Batu dan Kab. Kediri dengan tajuk yang sama.
Sebagai salah satu penyuluh Non-PNS di Kab. Mojokerto, saya diminta hadir bersama satu bis rombongan perwakilan penyuluh dari kabupaten saya. Berangkat pukul 5 shubuh, kami serombongan menuju ke lokasi dan disambut oleh kawan-kawan kami para penyuluh dari perwakilan berbagai kabupaten di Jatim. Tidak hanya penyuluh yang beragama islam, bahkan kami pun bisa berdialog akrab dengan penyuluh dari agama lain. Kebetulan yang berdekatan dengan tempat duduk kami adalah penyuluh agama kristen dan konghucu. Intinya, kami bisa sharing pengalaman untuk membina masyarakat.
Rombongan menteri agama datang tepat waktu. Sekitar pukul 07.00 WIB, kedatangan rombongan menteri agama disambut oleh berbagai kolaborasi kesenian keagamaan. Ada barongsai, rebana, dan adat hindu. Banyak peserta yang berlarian ke arah menteri agama. Mungkin penasaran, ingin tahu wajah beliau secara langsung dan memastikan, apakah sama seperti yang biasa dilihat di teve. Ada juga yang ingin selfi bareng menteri agama. Itu pun jika beruntung saja, karena banyaknya rombongan yang mengiringi menteri agama. Salah satu yang beruntung adalah Pak Imam Ghozali, penyuluh Non-PNS Mojoketo ini berhasil mengabadikan momen langka bersama beliau. Selamat pak Mmam atas kegigihannya.
Menteri Agama baru sambutan setelah Kakanwil Kemenag menyelesaikan pidatonya yang berapi-api. Beliau sekaligus menjelaskan secara rinci acara yang telah berlangsung pada 3-5 Juli 2018. Menteri agama senantiasa berpesan agar keluarga besar kementerian agama bisa senantiasa menjaga keharmonisan keberagamaan di Indonesia, khususnya untuk penyuluh agama yang menjadi corong dan garda terdepan kemenag dalam menghadapi masyarakat. Di akhir sambutan, menteri agama memberikan informasi terkait usulan kenaikan honor penyuluh agama non-PNS. Tiada henti-hentinya beliau berjuang untuk meng-goal-kan usulan itu bersama anggota DPR. Namun beliau tidak bisa memastikan jika tahun ini bisa dinaikkan. Kalau tahun depan, 2019, insyaAllah bisa. Semoga penyuluh bisa bersabar dan tetap fokus dalam tupoksinya masing-masing.
Setelah berpidato sekitar 40 menit, menteri agama mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Madura. Beliau diminta untuk meresmikan IAIN Madura. Namun untungnya, beliau membuka kesempatan bagi para peserta untuk bedialog. Akhirnya, ada 3 peserta yang mewaliki untuk maju. Peserta pertama mewakili agama Konghucu dari Malang. Kedua, mewakili penyuluh agama non-PNS dari Lamongan. Ketiga, mewaliki guru di lingkungan kemenag. Nah, menurut saya, peserta kedua yang paling menarik dan dramatis.
Baca Juga : Menjadi Penyuluh Agama Islam : Dulu dan Sekarang
Pertanyaan dan kritikan peserta kedua ini mewakili aspirasi keseluruhan penyuluh non-PNS yang hadir. Saya lupa mencatat nama beliau, yang jelas beliau berasal dari Lamongan. Dengan lantang dan tegas beliau menyuarakan keluh kesahnya selama ini kepada menteri agama, "Pak Menteri, tentu bapak tahu jika penyuluh agama Non-PNS ini menyimpan potensi yang luar biasa untuk membantu suksesnya program-program pemerintah di masyarakat. Tugas penyuluh juga semakin berat ditengah arus gelombang radikalisasi. Sejak tahun kemarin, kami hanya mendengar pak menteri hanya menyampaikan kalau honor penyuluh sedang diusulkan untuk dinaikkan. Diusulkan, diusulkan diusulkan melulu. Kami belum menerima realisasi bapak menteri".
Tepuk tangan peserta berdengung riuh. Pernyataan bapak itu benar-benar mewakili keluh kelah penyuluh yang lain, termasuk saya. Berani sekali si bapak meng-skakmat pak menteri. Kemudian, bapak itu melanjutkan, "Pak menteri, jika diizinkan, kami akan membentuk forum komunikasi penyuluh se-Indonesia untuk mengawal kenaikan honor kami, langsung di Senayan sana. Biar tidak terhambat lama seperti ini. Itu saja pak menteri, semoga Bapak mendengar keluh kesah kami".
Tepuk tangan lagi-lagi membahana mengiringi pak penanya kembali ke tempat duduknya. Sang bapak dielu-elukan oleh penyuluh lain bak seorang pahlawan. Menteri agama angkat bicara. "Sudah saya singgung tadi diakhir pidato saya, bahwa kenaikan kesejahteraan itu memang sedang kami proses. Saya terus mengawal, mewakili kementerian agama, mengawal masalah ini hingga tuntas di Senayan. Tentu, kami harus patuh dengan peraturan yang ada. Karena APBN 2018 sudah disahkan, maka tidak memungkinkan jika kesejahtaraan itu terealisasi tahun 2018 ini. Paling tidak, kami terus mengupayakan akan menaikkan kesejahtaraan penyuluh mulai 2019 nanti. Mohon bersabar, dan teruslah menjadi penyuluh yang memberikan keteladanan di masayarakat kita."
Jawaban menteri agama memang bijak dan bisa diterima. Sebagai penyuluh, saya hanya bisa menunggu hingga tahun 2019 nanti. Apakah menteri agama hanya janji atau bakal membuktikan diri? Entahlah...



Posting Komentar untuk "Tagih Kenaikan Honor Penyuluh di Hadapan Menteri Agama"