Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jadi Guru, Dapat Honor Rp 30.000 Per Bulan

Setelah lulus sidang skripsi Bulan Juni 2016 silam, saya ditawari mengajar komputer di salah satu SMK, tepatnya di kampung halaman saya, Mojokerto. Tak tanggung-tanggung, yang menawari langsung adalah bapak kepala sekolahnya. Beliau bercerita bahwa di SMKnya tidak memiliki guru yang berijazah linear untuk mengajar komputer, malah biasanya mata pelajaran komputer diajar oleh guru-guru sarjana non IT. Memang di SMK tersebut tidak ada jurusan IT semacam RPL, MM atau TKJ, namun komputer tetap diajarkan di semua jurusan dengan sebutan KKPI. 

Menjadi Guru, Pengabdian?
Bulan Juli 2016, saya mulai aktif mengajar KKPI hanya untuk kelas XII SMK. Untuk kelas X dan XI masih diajar guru lama yang non linear. Mulai tahun ajaran baru selanjutnya, saya diminta mengajar penuh. Lagipula, saya keberatan jika langsung mengajar tiga kelas, mengingat pada tahun ajaran yang sama, saya diterima menjadi mahasiswa lagi untuk melanjutkan jenjang magister di ITS.

Seminggu sebelum mulai mengajar, pak kepsek memanggil saya secara personal. Beliau bercerita bahwa sekolah yang ditempati sekarang adalah sekolah baru yang memang belum terlalu mandiri secara finansial. Saya paham arah pembicaraan beliau, tak lain adalah tentang honor guru. Beliau tidak menyebutkan besarannya. Intinya, beliau meminta maaf karena honor yang bakal diterima tidaklah besar. Hanya Rp 15.000 per jam. Saya perjelas lagi hanya Rp 15.000 per jam. Dan saya pun maklum. Lagipula, saya sendiri juga tidak keberatan dengan hal itu, mengingat, saya ingin punya pengalaman mengajar siswa sebelum nantinya bakal mengajar mahasiswa.

Singkat cerita, setiap minggu saya rutin mengajar setiap hari senin. Hanya untuk 2 jam pelajaran KKPI kelas XII.  Awal bulan berikutnya, amplop gajian saya datang. Saya senang bukan main. Sejujurnya, itu gajian pertama saya setelah lulus S1, walaupun belum wisuda. Senang karena akhirnya dapat honor dari jerih payah sendiri. Sengaja amplop saya buka di kamar sambil berdoa, semoga uang honor ini barokah.  hehehe. Amplop pun akhirnya saya buka. Disinilah letak kesalahpahaman yang terjadi.

Awalnya, saya mengira honor Rp 15.000 per jam itu bakal didapatkan guru setiap kali bertemu dengan siswa. Sehingga ketika saya menghitung honor yang bakal saya terima, honor yang bakal didapatkan adalah Rp 15.000 x 2 jam mengajar = Rp 30.000 tiap minggu, kemudian dikalikan 4 minggu dalam sebulan berarti Rp 30.000 x 4 = Rp 120.000. Lumayan dong. Minimal buat beli bensin dan paket data. Maka berdasarkan perhitungan ini, alangkah banyaknya honor guru yang mengajar 20 jam per minggu. Yaitu, Rp 15.000 x 20 x 4 = Rp 1.200.000. Itulah yang saya pikirkan sebelumnya.

Saya baru sadar ketika mendapati kenyataan bahwa honor guru dihitung berdasarkan jam mati. Artinya walau guru mengajar selama 4 minggu tiap bulannya, namun honor yang dia terima hanyalah gaji seminggu.Ya, hanya seminggu. Kenyataan pahit yang diterima oleh guru hononer. Saya tertunduk lesu memegang amplop gajian dan mengambil recehan senilai Rp 30.000 honor mengajar saya selama sebulan untuk 2 jam pelajaran tiap minggunya.

Bahkan untuk beli paket data saja tidak cukup. Kecuali paket data 1 GB saja. hehehe. Mau tidak mau, memang itu kenyataan pahit yang dihadapi guru honorer dimanapun mereka berada. Kecuali ketika guru hononer tersebut mendapatkan honor tambahan dari sertifikasi pemerintah. Insya Allah sudah hidup agak layak. Atau ketika sekolah swasta berani membayar mahal untuk setiap jamnya karena memiliki siswa yang banyak.

Bersabarlah wahai guru hononer!!! Tunggulah nasip membaik. InsyaAllah....

1 komentar untuk "Jadi Guru, Dapat Honor Rp 30.000 Per Bulan"

  1. *_Jeritan Hati Guru_*

    Perhelatan Asian Games sudah berlalu.
    Cermin Indonesia bersatu.
    Seluruh dunia pun mengaku.
    Para atlet kini terharu,
    Bukan karena tak akan bertemu.
    Tapi, karena uang miliaran sudah ada di saku.
    Juga dapat rumah baru,
    Dan menjadi PNS tanpa tes dulu.

    Kami, semua para guru
    Hanya bisa menangis pilu.
    Lidah pun terasa kelu.
    Melihat semua itu.
    Betapa tidak? Mereka diserbu bonus berlimpah susu dan madu.
    Juga disebut pahlawan pemersatu.
    Padahal kami para guru.
    Lebih layak mendapatkan semua itu.
    Bukankah kami juga pahlawan tanpa ragu?
    Mendidik anak bangsa tiap waktu.

    Namun, mengapa pencairan Sertifikasi selalu tidak tepat waktu?
    Ya, kami harus menunggu berbulan-bulan dahulu.
    Kadang, dipotong sekian ratus ribu.
    Belum dipotong pajak melulu.
    Padahal, para atlet tidak dipotong pajak, walau hanya seribu.

    Kami, para guru hanya ingin berseru.
    Mengapa perlakuan kepada kami selalu begitu?
    Itu kami terima sejak dahulu.

    Kami, para guru.
    Hanya ingin Pemerintah mensejahterakan para guru.
    Bukankah para guru itu.
    Harus digugu dan ditiru?

    BalasHapus