Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Batuk Demam Pra Corona

Saya pernah tiba-tiba batuk. Batuk kering. Tenggorokan terasa sakit. Tanpa disertai pilek. Tanpa saya tahu sebabnya. Awalnya, saya anggap enteng saja. Itu terjadi sehari setelah saya ketiban sampur. Mewakili kampus di acara besar. Dihadiri orang-orang besar pula. Termasuk unsur pimpinan PTNU se-Jatim. Acara rapat kerja LPTNU Jatim. LPTNU ini bagian dari lembaga nahdlatul ulama. Yang khusus membidangi perguruan tinggi. Rapat kerja berlangsung sehari. Tanggal 29 Februari 2020. Dengan agenda yang bisa ditebak. Menyusun program kerja setahun kedepan. Perlu strategi khusus untuk memajukan PTNU. Secara kolektif. Saat itu belum ramai protokol kesehatan. Belum dikenal physical distancing. Apalagi PSBB. Corona dianggap masih jauh. Di negeri china sana.

Senin, 2 Maret 2020. Saya kembali ke Blitar. Batuk tak kunjung hilang. Semakin menjadi ketika badan lelah. Siang hari, demam muncul. Lengkap sudah. Batuk-batuk dan panas tinggi. "Ada sesak napas?", tanya dr. Puspa Wardhana. "Oh ndak, dok. Saya tidak punya riwayat sesak napas". "Mungkin pernah berkumpul dengan banyak orang sebelumnya?" tanyanya lagi. Tensimeter di lengan saya dilepas. "Ada dok, memangnya kenapa dok?" saya mulai was-was. "Tidak apa-apa, jika timbul sesak napas, mungkin diagnosa akan lain". Saya tahu arah pembicaraan beliau. Hari itu, pemerintah mengumumkan kasus pertama corona. Barang tentu semua dokter sudah waspada. Dokter mendiagnosa gejala typus. Plus bonus batuk-batuk. Saya disarankan istirahat. Efek kelelahan.

Rabu, 4 Maret 2020. Panas tinggi tak kunjung usai. Saya berinisiatif. Harus tes darah di laboratorium. Saya merenung panjang. Tes di Blitar atau Mojosari. Hasil tes tentu pengaruhi segala macam kemungkinan. Tentang penyakit yang diderita. Dan yang terburuk, kemungkinan opname. Saya tengok istri yang gendong bayi mungil itu. Sungguh berat tugasnya. Merawat bayi di perantauan. Lagipula, opname di perantauan tidaklah mudah. Saya putuskan untuk nekat pulang kampung. Keluarga besar ada disana. Saya nyetir sambil gemetaran. Persendian terasa ngilu. Nyetir 110 km tidaklah dekat. Bisa dijangkau 3 hingga 4 jam, non-stop.

"Trombosit sudah mulai berkurang mas. Mendekati 100. Opname saja ya!". Dokter penyakit dalam membacakan hasil tes darah. "Masa kritisnya 7 hari. Kena DB", tambahnya. Saya sudah menduga kena DB, dari gejalanya. Deman berdarah termasuk berbahaya. Jika tak segera tertangani. Angka kematiannya pun tinggi. Tapi, penyakit ini terlanjur merakyat. Sudah dianggap biasa. Obatnya ada. Obat alami hingga ilmiah. Tak perlu pakai APD. Penularannya animal to human. Tak bakal masif.



Hari itu, kali pertama dalam sejarah hidup saya. Merasakan cairan infus. Terbaring di kasur sempit. Berhari-hari. Alhamdulillah. Sakit itu mengingatkan nikmat sehat. Masih terngiang ngilunya disuntik lewat infus. Rasa ngilunya bergerak dari telapak tangan hingga lengan. Makin pekat cairan yang disuntikkan. Makin mantap ngilunya. Tak sekali dua kali disuntik begitu. Berkali-kali-kali-kali.

Saya sekamar dengan pasien lain. Kakek tua. Baru datang larut malam. Semalaman saya tak khusyuk tidur. Sebentar-sebentar terbangun. Ada suara aneh di kamar saya. Seperti suara orang menggigau. Sepanjang malam. Saya menduga dari pasien kakek tua itu. Kelambu membatasi pandangan saya. Menjelang shubuh. Suara ngorok terdengar keras.

"Mas tolong dibantu". Terdengar suara wanita paruh baya mencari-cari perawat. Suaranya parau. Kesenggukan. Perawat datang cepat membawa tabung oksigen. Nafas sudah tersengal. Suasana tegang dan haru. Jantung saya berdegup kencang. Saya menyaksikan langsung betapa kematian sangat dekat. Saking dekatnya, saya takut malaikat maut ganti noleh ke arah saya. Ternyata Allah belum izinkan. Nikmat hidup memaksa manusia lemah ini untuk senantiasa menyebar manfaat.

Tak sampai sebulan, semenjak saya keluar dari rumah sakit, dunia berubah drastis. Batuk dan demam pra corona tak mencekam macam kini. Batuk dan demam saya dulu masih ringan. Secara fisik dan spikis. Hanya karena corona waktu itu tak seviral sekarang. Saya membayangkan, bagaimana jika ada orang mendadak batuk kering disertai demam tinggi. Punya riwayat berkumpul dengan banyak orang. Dan itu terjadi hari ini. Anda sudah tahu jawabannya. Akan ada PDP baru dan klaster baru. Entahlah. Beruntunglah anda yang pernah batuk demam pra corona. Jika itu terjadi hari ini, mungkin hidup anda berbeda.  

10 komentar untuk "Batuk Demam Pra Corona"

  1. Oke cerita yang cukup menarik, hmm.
    Btw, tombol subscribe e iki nandi mas ? 🤣

    BalasHapus
  2. Ya ndak ada mas putra. Kan bukan yutub. Hanya dibaca aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada pak, blogger menyediakan fitur follower.

      Hapus
    2. Betul mas aruman, sepertinya ada pak, seperti widget mungkin ya

      Hapus
  3. Sakit masih sempat senyum , semoga sehat-sehat disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena senyum penambah imun, bunda may. Matur nuwun

      Hapus
  4. Saya batuk 1 bulan lebih sampai sekarang. Indikasi apa ya?

    BalasHapus