Corona Pangkas Anggaran Riset?
Belakangan, isu pemangkasan anggaran riset santer berkembang. Ups, bukan hanya isu anggaran riset. Pemangkasan anggaran puluhan kementerian juga [1]. Saya rasa hal ini wajar. Sudah darurat. Pemerintah dituntut bertindak cepat dan tepat. Wabah sudah mengguncang APBN tahun ini. Jika ada suara sumbang mengatakan pemerintah tidak siap, silakan cari negara mana yang siap. Sekelas negara adidaya saja berguncang. Apalagi negara rakyat santuy. Mau tidak mau, pemerintah bakal menggelontorkan banyak pengeluaran. Pandemi ini sulit dipantau ujungnya. Sementara keberlangsungan ekonomi tentu tak berujung.
Entah mengapa, isu pemangkasan anggaran riset menarik. Bahkan oleh non akademisi sekalipun. Paling parah, jadi senjata menyerang pemerintah [2]. Bisa jadi karena prosentase pemangkasan kemenristek terbesar dibanding kementerian lain [3]. Ya, saya paham yang dipermasalahkan. Logikanya, bagaimana mungkin peneliti mampu memberikan kontribusi keilmuan, jika anggaran terbatas. Terutama penelitian bidang kesehatan. Yang negara lain sudah jor-joran bikin vaksin itu.
Sejujurnya, cerita anggaran riset yang dipangkas sudah ada. Sejak dulu. Tak perlu menunggu corona datang. Pemangkasan anggaran riset datang duluan. Setidaknya yang menyampaikan itu lembaga riset pemerintah [4], bukan media penuh drama. Jika peneliti dikabari anggaran riset turun. Oh biasa. Cerita lama. Tak perlu kagetan, apalagi gumunan. Saya tak peduli itu. Dulu. Maklum, hanya anak muda lugu yang ingin segera lulus kuliah. Lalu nikah. Ups.
Sebentar, saya masih penasaran, masa benar-benar dipangkas tahun ini? Saya dipaksa peduli. Kehidupan perguruan tinggi memaksa saya untuk jangan hanya mengajar. Ada beda dengan guru di sekolah. Dosen harus melaksanakan dua kewajiban lain, meneliti dan mengabdi di masyarakat. Pemerintah telah menfasilitasi dua kewajiban itu, terutama pendanaan riset. Tinggal dosen yang take action. Memberikan sumbangsih terbaik bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Berlaku untuk seluruh dosen, baik di PTS maupun PTN.
Beberapa waktu lalu, saya beruntung mendengarkan sendiri narasumber yang kredibel. Mengenai pendanaan riset. Prof. Suprapto, DEA, orang nomor satu di LLDIKTI Wilayah VII -Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII Jawa Timur-. LLDIKTI menjadi kepanjangan tangan Menristek di wilayah provinsi. Penjelasan dari lembaga ini cerminan lembaga diatasnya. Secara hirarki. Saya mewakili Kepala Pusat Penelitian, Publikasi dan HKI UNU Blitar untuk bergabung di acara sosialisasi yang berlangsung daring. Membahas pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di tengah pandemi. Pakai aplikasi yang lagi booming itu. Yang kabarnya 500 ribu usernya di-hack itu.
"Ada isu anggaran penelitian yang dipangkas, itu isu yang tidak benar. Anggaran riset tetap utuh. Bahkan ada penelitian yang direkomendasikan oleh kemenristek untuk dialihkan ke topik yang mendesak, tentang covid 19, di LLDIKTI Wilayah VII ada 15 judul". ujar Prof. Suprapto penuh semangat. Kalau bicara langsung tatap muka, beliau sering menghibur. Suasana bisa cair. Pendengar bisa tersenyum dan terpingkal. Daring agaknya merenggut kotak tertawa. Dua jam bukan lagi serius. Duarius.
Setidaknya, penjelasan dari pihak yang kredibel lebih melegakan. Walaupun penjelasan kemenristek melalui media sudah ada duluan [4]. Penyampaian LLDIKTI Wilayah VII ini linier dengan kemenristek yang mengklaim anggaran riset tahun ini aman [5].
Entah mengapa, isu pemangkasan anggaran riset menarik. Bahkan oleh non akademisi sekalipun. Paling parah, jadi senjata menyerang pemerintah [2]. Bisa jadi karena prosentase pemangkasan kemenristek terbesar dibanding kementerian lain [3]. Ya, saya paham yang dipermasalahkan. Logikanya, bagaimana mungkin peneliti mampu memberikan kontribusi keilmuan, jika anggaran terbatas. Terutama penelitian bidang kesehatan. Yang negara lain sudah jor-joran bikin vaksin itu.
Sejujurnya, cerita anggaran riset yang dipangkas sudah ada. Sejak dulu. Tak perlu menunggu corona datang. Pemangkasan anggaran riset datang duluan. Setidaknya yang menyampaikan itu lembaga riset pemerintah [4], bukan media penuh drama. Jika peneliti dikabari anggaran riset turun. Oh biasa. Cerita lama. Tak perlu kagetan, apalagi gumunan. Saya tak peduli itu. Dulu. Maklum, hanya anak muda lugu yang ingin segera lulus kuliah. Lalu nikah. Ups.
Sebentar, saya masih penasaran, masa benar-benar dipangkas tahun ini? Saya dipaksa peduli. Kehidupan perguruan tinggi memaksa saya untuk jangan hanya mengajar. Ada beda dengan guru di sekolah. Dosen harus melaksanakan dua kewajiban lain, meneliti dan mengabdi di masyarakat. Pemerintah telah menfasilitasi dua kewajiban itu, terutama pendanaan riset. Tinggal dosen yang take action. Memberikan sumbangsih terbaik bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Berlaku untuk seluruh dosen, baik di PTS maupun PTN.
Beberapa waktu lalu, saya beruntung mendengarkan sendiri narasumber yang kredibel. Mengenai pendanaan riset. Prof. Suprapto, DEA, orang nomor satu di LLDIKTI Wilayah VII -Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII Jawa Timur-. LLDIKTI menjadi kepanjangan tangan Menristek di wilayah provinsi. Penjelasan dari lembaga ini cerminan lembaga diatasnya. Secara hirarki. Saya mewakili Kepala Pusat Penelitian, Publikasi dan HKI UNU Blitar untuk bergabung di acara sosialisasi yang berlangsung daring. Membahas pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di tengah pandemi. Pakai aplikasi yang lagi booming itu. Yang kabarnya 500 ribu usernya di-hack itu.
"Ada isu anggaran penelitian yang dipangkas, itu isu yang tidak benar. Anggaran riset tetap utuh. Bahkan ada penelitian yang direkomendasikan oleh kemenristek untuk dialihkan ke topik yang mendesak, tentang covid 19, di LLDIKTI Wilayah VII ada 15 judul". ujar Prof. Suprapto penuh semangat. Kalau bicara langsung tatap muka, beliau sering menghibur. Suasana bisa cair. Pendengar bisa tersenyum dan terpingkal. Daring agaknya merenggut kotak tertawa. Dua jam bukan lagi serius. Duarius.
Setidaknya, penjelasan dari pihak yang kredibel lebih melegakan. Walaupun penjelasan kemenristek melalui media sudah ada duluan [4]. Penyampaian LLDIKTI Wilayah VII ini linier dengan kemenristek yang mengklaim anggaran riset tahun ini aman [5].
Dengan demikian, terbantahlah anggapan sebagian netizen yang menyayangkan pemangkasan anggaran riset. Saya yakin. Pemerintah sedang mati-matian mengangkat marwah riset kita. Bukan hanya mempertahankan anggaran riset ditengah himpitan pandemi. Coba lirik grafik yang imut itu. Setidaknya dokumen riset Indonesia yang terindeks Scopus -pengindeks bereputasi internasional- meningkat pesat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah (mungkin), dokumen riset Indonesia tertinggi di ASEAN. Apakah semuanya dari Jurnal Terindeks Scopus? Saya tidak tahu. Apakah rangking tertinggi di ASEAN itu meningkatkan kualitas penelitian? Saya tidak tahu. Lantas, apa hubungannya dengan isu pemangkasan anggaran riset? saya tidak tahu. Wong saya mengarang bebas. Luruskan saya yang ternyata masih lugu ini.
[1] Jokowi Pangkas Anggaran 20 Kementerian/Lembaga Demi Penanganan Virus Corona
[2] Warganet Protes Anggaran Kemenristek Dipotong 40T untuk Corona
[3] Jokowi Pangkas 94 Persen Anggaran Kemenristek untuk Penanganan Covid-19
[4] Anggaran Lembaga Riset Terus Dipangkas
[5] Penjelasan Kemenristek soal Pemotongan Anggaran Rp 40 T
[6] Anggaran Dipotong Jokowi, Kemenristek Klaim Dana Riset Aman
Mantabs Prof.
BalasHapusTerima kasih banyak Prof, ditunggu gebrakan celotehnya
Hapus