Habis Renang, Pandangan Mata Berkabut
Meski saya tidak begitu pandai berenang, namun berenang tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan terutama untuk melepas kepenatan harian. Suatu ketika di hari minggu, saya sengaja mengajak tiga teman untuk pergi berenang. Selain untuk berlibur, sejujurnya memang sejak dulu saya ingin sekali belajar berenang. Maklum, puluhan kali pergi berenang, bisanya cuma renang di tempat dan ujung-ujungnya akan tenggelam jika berada di air yang dalam. Akhirnya disepakatilah untuk berenang di salah satu hotel yang cukup berkelas di Kota Malang. Wuih, di hotel ? Bukannya sok, melainkan karena memang salah satu teman saya, Ikhsan Hadi kenal dekat dengan karyawan di hotel itu, sehingga kami diberikan diskon paket super murah untuk berenang di kolam hotel sepuas-puasnya, yang penting kolam renangnya jangan dibawa pulang.
Sesampainya di lokasi kolam renang, birunya air kolam mengayun pelan menghasilkan riak gelombang. Kami makin tidak sabar untuk segera nyemplung dan menikmati segarnya air kolam. Terlihat beberapa muda-mudi dan sepasang keluarga turut meramaikan kolam renang. Sepertinya mereka sejak tadi sudah asyik bermain air. Enaknya, kami oleh pelayan hotel diberikan fasilitas handuk dan segelas orange juice. Ah... Nikmatnya.
Segera saya berganti pakaian dan langsung menceburkan diri ke kolam. Airnya cukup dingin juga ternyata. Dengan percaya diri, saya meliuk-liukkan tangan ke depan dan menggoyang-goyangkan kaki seperti perenang handal, padahal tidak jua membuat posisi badan bergerak. Bak gayung bersambut, teman-teman pun juga tak sabar segera berganti pakaian dan menyusul saya ke dalam kolam. Biur..... Satu per satu mereka menceburkan diri ke kolam, menyelam, dan mengambang ke permukaan dengan lihainya. Ah, memang hanya saya yang belum dapat berenang.
"Woi... Piye carane renang, rek ! ", berharap ada yang mengajari. Dana, salah satu teman saya yang sudah sangat ahli berenang menyahut, "Gampang, tangan luruskan ke depan, gerakkan kaki dengan luwes, ojo kaku-kaku !". Saya mencoba sepertinya disarankan, cukup susah ternyata, karena yang digerakkan tidak hanya telapak kaki, tapi seluruh kaki dengan gerakan yang halus, hingga badan bergerak ke depan. sejak dulu, saya belum pernah membuka kelopak mata dalam air. Takut matanya kenapa-napa. Sehingga ketika badan benar-benar bergerak ketika berenang, seringkali saya menabrak tembok tepi kolam atau bahkan menabrak sesama perenang. Tapi itu cukup membuatku gembira, minimal sudah hampir bisa berenang.
"Kalau berenang ya melek aja dalam air, gak papa !", "Biar dapat melihat arah depan", ujar Dana menyahut. Saya tahu, semua teman saya ketika itu bisa melek dengan bebas dalam air. Walaupun hasilkan, mata mereka memerah seperti kena penyakit mata, hi.. mengerikan. Pelan-pelan saya coba membuka mata dalam air, awalnya sih cukup perih di mata, namun lama kelamaan membuat saya makin ketagihan untuk melek dalam air. Ternyata menyenangkan sekali. Sambil menyelam dan menggerakkan kaki, saya melihat arah depan. Wah, saya dapat merasakan badan saya bergerak mengikuti irama kaki. Yeah... Akhirnya bisa berenang. Selama satu setengah jam, tak terasa saya sudah beberapa kali mengelilingi tepi kolam saking semangatnya berenang, hingga satu per satu teman saya angkat kaki dari kolam, saya tetap setia terbuai bermain air.
Hingga ketika saya mentas, dan duduk di tepi kolam. Saya merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pandangan saya. Keadaan sekeliling kolam kok berkabut ya. Ini berkabut beneran atau karena kabut asap ? Ah, mungkin hanya kabut sore hari. Saya hanya berpikir positif, mengingat memang, lokasi hotel berhawa sejuk seperti di pegunungan. Saya menghampiri teman-teman yang sudah berbalut dengan handuk. Saya lihat wajah teman-teman kok pada berkabut. Saya mulai was-was.
Saya ikutan melilitkan handuk untuk menghangatkan badan sambil berfoto ria. Saya amati hasil jepretan kamera. Astaga... Kok sekeliling kolam di hasil jepretan gak berkabut, sedangkan pandangan mata saya terlihat jelas kabutnya semakin menebal. Perasaan saya mulai gak enak. "Rek, pandangan kalian berkabut gak, kok pandangan ku berkabut ya, kenapa ini !", saya mulai panik. "Ah, biasa itu, memang sehabis renang biasanya kayak gitu, aku juga kok, tapi sekarang udah enggak, lama-lama juga hilang sendiri. Mungkin itu pengaruh kaporit dalam kolam", ujar Dana menenangkan, ucapan Dana juga di iyakan oleh teman-teman. "Oh gitu ya... Aku baru tahu.. kalau seperti ini kan aku gak khawatir", ucapku tenang.
Suasana semakin sore, kami segera berkemas untuk kembali pulang. Sesampainya di asrama, saya kembali bertanya kepada Ikhsan, "San, pandanganmu berkabut juga gak?", "Iya pak, sama, tapi semenjak meninggalkan tempat berenang tadi, kabut di mata sudah menghilang, pun juga dengan warna merah di mata, hilang juga," ujarnya. "Aduh, kok pandanganku masih berkabut ya, rasanya ada yang menghalangi pandangan mata", ujarku kembali panik.
Ketika lampu kamar ku nyalakan, suasana aneh datang menyergap, ketika mata saya arahkan ke arah lampu yang menyala, saya melihat dengan jelas ada pelangi besar berada di sekeliling lampu. Padahal pandangan berkabut belum hilang sekarang malah kedapatan pandangan pelangi ketika menatap cahaya. Hal ini diperparah ketika saya naik motor malam hari untuk pergi ke rumah teman, pandangan saya terlihat makin buram, bahkan ketika ada sorot lampu motor atau mobil dari arah berlawanan, terlihat warna pelangi besar memenuhi jalanan. Ah...... Mataku kenapa ini.
Saya menemui Dana, untuk meminta pertanggungjawaban karena menyuruh saya melek dalam air. "Piye iki Dan.. kok mripatku dadi ngene terus", selorohku geregetan. "Waduh, gak tahu aku, wong aku udah sembuh kok, biasanya lho gak papa." dia membela diri. Ketika saya buka HP, alangkah kagetnya karena cahaya layar LCD HP kelihatan tambah besar dan buram. Karena sudah lelah dan dihantui oleh rasa cemas yang tinggi, saya berniat keesokan paginya akan pergi ke dokter mata atau minimal beli obat tetes mata biar tidak semakin parah. Saya rebahkan badan ke kasur, dan akhirnya tertidur.
Tengah malam saya terbangun, ku tengok arah lampu kamar saya yang masih menyala. Hey.. pandangan pelangi di sekitar lampu sudah hilang. Alhamdulilllah, senang sekali rasanya. Namun, pandangan kabut masih ada. Apa ini karena kandungan kaporit dalam kolam terlalu banyak sehingga berimbas ke pandangan mata? Entahlah. Saya coba untuk tidur kembali sambil berdoa agar pas bangun shubuh, pandangan sudah sembuh total.
Eng... Ing.. Eng...
Tepat shubuh saya terbangun, ku buka mata perlahan, dan lampu ku nyalakan. Eh, akhirnya udah normal kembali, namun, karena keadaan mata masih mengantuk, maka pandangan terlihat masih agak buram. Saya segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah dipastikan sudah tidak ngantuk, saya amati sekeliling kamar, melototi lampu kamar, mengamati dengan seksama cahaya laptop dan HP. Alhamdullillah Ya Allah...... Mata saya sembuh... tidak jadi ke dokter. Yeah...
Saya berkesimpulan jika mengalami kejadian seperti itu lagi, yang paling pas adalah mengistirahatkan mata terlebih dahulu, biarkan kandungan alami dalam mata akan menetralisir gangguan yang ada. Namun, jika gangguan pandangan masih ada, maka langkah terbaiknya adalah pergi ke dokter mata untuk diperiksa lebih lanjut. Semoga pengalaman ini dapat memberikan wawasan bagi teman-teman yang mungkin pernah mengalami kasus serupa. Wallahu A'lam Bisshowab.
Malang, 10 Februari 2016
Salam Hangat





Ini Di Ubud Ya Mas? Saya Baru Dr Sana Jg Merasakan Hal Yg Sama
BalasHapusBenar mbak anggari, berarti memang air kolamnya bermasalah ya....
BalasHapusTrims sharingnya, sy abis berenang dan ngalamin hal yg sama.
BalasHapusKhawatir banget,
Tp mudah2n segera pulih
Sama-sama bang, semoga bermanfaat
HapusMas hari ini saya hbs berenang d hotel ubud malang dan samapai sekarang mata saya kabur spt berkabut spt asap..ini jg lg khawatir smg bsk kembali normal
BalasHapusSama mas, saya juga renang disitu. Banyak orang mengalami hal yang sama karena efek air kolamnya.
HapusThanks info nya
BalasHapus