Kota Mojosari di Tengah Pusaran Peradaban
Mojosari, begitu masyarakat memanggilnya, hanyalah kota kecil yang terletak sekitar 18 km sisi timur Kota Mojokerto. Bahkan, tidak sedikit yang meragukan apakah Mojosari layak disebut kota atau bukan. Bagi saya tidak masalah, karena kota ini sudah saya anggap sebagai kampung halaman saya sendiri. Bagaimana tidak, wong memang rumah saya berada di Kecamatan Mojosari kok. Setidaknya lebih dari 15 tahun saya menghabiskan usia di kota yang dijuluki Mozart van Java ini, mulai dari TK hingga SMA setia di Mojosari.
Sebagai putra daerah, setidaknya saya patut bersyukur dapat tinggal di kota Adipura ini. Mojosari memang memiliki keindahan kota yang berbeda dengan kota lainnya. Pepohonan yang rindang, pot bunga di sepanjang jalan dan kebersihan kota yang terjaga dengan baik senantiasa menghiasi kota mungil ini. Ditambah letaknya yang berada di kaki Gunung Welirang membuat udara Mojosari cukup sejuk dan segar, walaupun hanya dapat dinikmati di pagi hari. Hal itulah yang membuat siapapun akan kangen untuk kembali ke Mojosari. Terutama bagi mereka yang sedang menimba ilmu di luar kota, suatu saat wajib kembali ke kota ini untuk mengembangkan potensi yang ada.
Kota yang Strategis
![]() |
| Mojosari, dilintasi Jalur Nasional Mojokerto - Pasuruan |
Jika kita mengamati letak geografisnya dari peta, Mojosari diapit oleh kota-kota besar di Jawa Timur. mulai dari arah barat ada Kota Mojokerto (18 km), arah utara ada Kota Surabaya (40 km), arah timur ada Kota Pasuruan (50 km) dan Sidoarjo (45 km), dan arah selatan oleh Kota Batu (50 km) dan Kota Malang (75). Keuntungan yang didapatkan oleh masyarakat Mojosari adalah jarak yang relatif dekat untuk menuju ke kota-kota penting tersebut dan begitu pula sebaliknya, mudah dijangkau oleh masyarakat luar. Terlebih lagi, Mojosari yang dilalui oleh Jalan Nasional penghubung Mojokerto - Pasuruan, menjadikannya tidak pernah sepi dari keramaian kendaraan yang lalu lalang setiap harinya. Barangkali letak yang strategis inilah, yang menjadikan salah satu faktor kehidupan masyarakat di Mojosari relatif lancar dan rukun tanpa hambatan apapun.
Ibu Kota Kabupaten Mojokerto
Salah satu wacana pemerintah kabupaten Mojokerto yang semakin mendekati kenyataan adalah dengan dijadikannya kecamatan Mojosari sebagai Ibu Kota Kabupaten Mojokerto. Tak heran jika akhir-akhir ini geliat pembangunan di Mojosari begitu membahana. Pemindahan pusat kabupaten akan menjadikan gedung-gedung pusat pemerintahan kabupaten yang sebelumnya "numpang" di Kota Mojokerto dapat bergeser ke Mojosari.
Maka cepat atau lambat, gedung pemerintahan dan fasilitas umum akan semakin menyemarakkan Mojosari. Terbukti, sekarang sudah ada kantor Polres Mojokerto, RSUD, stadion, terminal, SMPN, SMAN, MAN, kemudian akan disusul dengan gedung DPRD dan wacana pembangunan alun-alun Kabupaten di pusat Mojosari. Tentu saja itu semua akan meningkatkan kualitas masyarakat Mojosari menjadi lebih maju sehingga Mojosari akan menjadi kota penting yang berpengaruh. Semoga saja.
Kota Pusaran Peradaban
Mojosari adalah kota pusaran peradaban. Mengapa? Mojosari seakan menjadi saksi silih bergantinya peradaban umat manusia sejak zaman kerajaan majapahit, masa penjajahan hingga era modern seperti sekarang ini. Letaknya yang berada kisaran pusat kerajaan Majapahit membuat banyak sekali peninggalan-peninggalan masa majapahit yang ditemukan oleh masyarakat. Saya pun tidak kaget jika ada masyarakat yang secara tidak sengaja menemukan guci, gentong besar, koin, bahkan batu bata candi yang berserakan ketika sedang menggali di sawah atau pekarangan rumah. Bukti-bukti itulah yang menggambarkan Mojosari sudah memiliki peradaban maju sejak masa Kerajaan Majapahit. Peninggalan Majapahit lainnya di Mojosari adalah adanya situs makam Aryo Binangun dan Situs Sumber Tuwiri.
![]() |
| Makam Aryo Binangun, Senopati Kerajaan Majapahit (sumber : disporabudpar.mojokertokab.go.id) |
Situs makam Aryo Binangun terletak di Desa Menanggal Kecamatan Mojosari, beliau merupakan seorang senopati pada masa Kerajaan Majapahit. Hingga kini makam tersebut banyak di ziarahi terutama pada Jumat Legi.
Situs Sumber Tuwiri terletak di Desa Seduri Kecamatan Mojosari. Teman-teman jangan mengaku orang Mojosari kalau tak pernah singgah disini, walaupun hanya sekadar ngopi. Sumber air ini diperkirakan juga bekas peninggalan jaman Kerajaan Majapahit. Uniknya, sumber ini mengalirkan air jernih yang tidak pernah mengering. Walaupun situs ini dikenal cukup angker, namun tidak sedikit masyarakat yang menjadikannya tempat wisata pemandian. Bagaimana dengan peninggalan Majapahit yang lain? Cukup itu dulu.
Sekarang berlanjut ke peninggalan zaman penjajahan. Mojosari juga menjadi saksi bisu akan geliat berkembangnya pembangunan pada masa penjajahan. Walaupun sekarang tidak semua bangunan kuno masih dapat terlihat, setidaknya ada beberapa bangunan penting yang sampai sekarang masih berdiri kokoh, seperti rumah kuno, tandon air, kantor pos ada juga rel kereta yang kini sudah terkubur pembangunan modern. Rata-rata tahun yang tertera pada bangunan kuno itu berkisar antara 1900-an hingga 1920-an. Khusus peninggalan sejarah berupa Stasiun Mojosari, saya tuliskan artikelnya di Mengenang Stasiun Mojosari, Dimanakah Kini?.
Salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang cukup popuper adalah Pabrik Gula Mojosari. Lho, memangnya ada? Ya, pernah ada. Pabrik gula mojosari berada tepat di tengah kota Mojosari, yaitu di sebelah barat pertigaan Adipura. Lokasi ini dipilih karena berdekatan dengan stasiun kereta api yang berjarak sekitar 500 meter, sehingga memudahkan pendistribusian gula ke pelabuhan. Pada waktu itu, Hindia Belanda mengandalkan sarana kereta api untuk mengangkut penumpang dan barang. Kini, peninggalan pabrik ini sudah tidak bersisa sama sekali, baik bangunannya maupun stasiun kereta apinya. Kini, mungkin hanya segelintir masyarakat Mojosari yang mengetahui bahwa dulu ada sebuah pabrik gula besar di daerahnya karena kurang adanya pengetahuan dan informasi mengenai sejarah Mojosari tempo dulu. Yang saya tahu, sejak saat kecil, bangunan ini sudah menjadi pabrik kertas besar, namun seiring waktu, pabrik itu juga dirobohkan dan sekarang sudah berganti menjadi kumpulan ruko. Amat disayangkan.
Bangunan kuno lainnya adalah Kantor Pos Mojosari yang dibangun pada kisaran tahun 1900-an. Uniknya, bangunan bersejarah ini hingga kini masih aktif digunakan sebagai Kantor Pos Mojosari yang melayani jasa pengiriman barang masyarakat Mojosari. Lokasinya berada di Jl. Masjid atau dikenal dengan embong tengah.
Jika ditelusuri semua peninggalan penjajahan, banyak sekali yang belum teruraikan, namun sayangnya peninggalan-peninggalan sejarah itu kini semakin rapuh bahkan menghilang tergerus kemajuan peradaban.
Kota Mojosari kini akan semakin maju dan berkembang. Namun, tetaplah ingat bahwa Mojosari kini adalah hasil dari peradaban Mojosari masa lalu. Pun Mojosari masa kini adalah akar dari peradaban Mojosari masa depan. Mojosari sebagai kota pusaran peradaban sudah selayaknya menjaga hasil peradaban masa lalu sebagai kenangan dan pengalaman, untuk membenahi Mojosari masa kini dari kenyataan menuju Mojosari masa depan yang cemerlang. Tetaplah jaya Mojosariku, kita selalu bersamamu membangun masa depan.
Wallahu A'lam Bisshowab
Mojosari, 10 Januari 2016










waaahh arek mojosari ono sing nggawe artikel. podo arek mojosari tos disik.. hahhahaha
BalasHapusomahku nang gang ngarep kantor pos mas e. mampir2 lahh.. hehe
Wah, podo mojosari ne rek.... suwun mampir nang blogku bro
BalasHapusapik brooo.... eling jaman cilik, beskop jaya, terminal lawas taman, EA, sodae wak ka pasar legi lawas, ados sumber. terus alon-alon e arep dideleh endi??? omahku ngarep MAN
BalasHapusapik broo... eling jaman cilik, onok foto mojosari tempo dulu liane taaa trus rencana alon-alon arep dideleh ndi? omahku ngarep MAN
BalasHapusWah, tonggo dewe mas bro, aku asli arek Sambeng... Prempatan awang-awang ngulon. Perbatasan karo deso awang-awang
BalasHapusMojokerto-Mojosari dibangun Monorail / Rapid Train mas, ben ekonomi masyarakat berputar cepat.
BalasHapusMojokerto (dan area suburbannya: Puri, Sooko) dan Mojosari (dan area suburbannya: Ngoro) hrs kolaborasi, bkn kompetisi.
btw, cilikanku smp ne ya nang Mojosari mas, SMP 1 Mojosari hehe
Sakjane ngarepe kantor kecamatan kuwi nganggur bro. Daripada bangunan serba guna rusak koyok ngunu, mending dibangun alun-alun mojosari....
BalasHapusAda bekas rel kereta antara mojokerto dan mojosari. Bahkan sejarah mencatat dulu ada stasiun kereta di mojosari. monorail mojokerto-mojosari usul yang cukup tepat. Perkiraan beberapa tahun kedepan, mojosari dan mojokerto adalah kota penting sebagai pusat ekonomi.
BalasHapusWah, salah satu artikel yang sangat bermanfaat mas. Pemuda2 Mojosari seperti sampean mas yg patut di apresiasi.
BalasHapusbtw, q dulu sekolah di MAN Mojosari mas, cedak karo SMANSA.
Wick...
BalasHapusOh y mas. Bien pas cilik'anku onok rel pinggir dalan. Aku jek menangi. Menangi rel'e tok maksute :v trus aku takok iku gae opo. Jare mbahku bien iku munu dalane **** (jnenge sepur sng momot tebu, aku lali jnenge 😁 . Kadang di batek pakai lokomotif kadang pakai traktor) Itu rutenya nyampek bangsal trus mojokerto Mungkin rellnya masih kliatan di utara jalan depan balaidesa yg sebelah pertigaan ke mojoanyar).
Tumut copas mas..
Eh tomot share ngge. ....
selain karena sejarah msalalu.hal berikut ini juga ikut mendorong kemajuan ekonomi di moosari adalah sembutan lumpur lapindo yg menyebabkan lumpuhnya pasar porong dan mengalihkan pedagang dan pembeli ke daerah mojosari terutama dari konsumen wilayah ngoro dan juga karena berkebangnya pembangunan kawasan industri NGORO INDUSTRI PERSADA
BalasHapusAku yo asli mozar ket cilik lur, cuma saiki geser sitik ndek kutorejo. Monggo mampir dolan omahku. Jo lali mampir blog ku elek2 sitik ono di bully soale newbie
BalasHapusmojosari sdh jd kota mari kita bangun sperti kota kota lainnya yg bisa meningkatkan perekonomian daerah. suka dgn artikelnya terus dikembangkan ya biar di contoh anak anak sy nantinya :) salah rumah helm mojosari
BalasHapusMatur nuwun bro infonya gali lagi info Mojosari nya di tunggu
BalasHapusNggeh mas,, suwun... Saya tetangganya pak sariman mas, beliau kan guru MAN Mojosari
BalasHapusIya mas, bahkan depan rumah saya ada (Desa Belahan Tengah), masih kelihatan besinya sekitar awal tahun 2000-an. Tapi kini terkubur. Andai mojosari masih punya stasiun kereta. Ah.. sudahlah
BalasHapusBenar mas, saya merasakan mojosari mulai ramai ketika semburan lumpur mengalihkan arus kendaraan lewat mojosari
BalasHapusMantep lur, blog sampeyan keren lur, "Nusantara Itu Indah", arek mojokerto ancen kreatip....Ayo dibudayakno nulis
BalasHapusOke bro.... suwun kunjungane
BalasHapusKeren lah wong mozar ada sing buat kyo ngene ikian
BalasHapusIsinya lumayan lho, g kyo artikel sing isine sithik2 ngnu
Informasi bgus buat yg blm tau mojosari
Sumber tiri msok angker mas? Anak bayekq msti tak renangno ng kono e hahahahah
Sukses terus yo mas
Awas anak bayine kesurupan lho mbak ika... hehehe
BalasHapusSip mas.... terima kasih masukannya
BalasHapusKeren, mungkin lain kali buat artikel tentang mitos di mojosari.
BalasHapusMojosari memang selalu sukses mengelabukan rindu
BalasHapusBenar, pohon sono dan trotoar sepanjang jalan utama yang rapih. Sangat rapih, kota2 lain belum ada yang memiliki. Surabaya saja baru menggeliat setelah Bu Risma.
Mojosari selalu menarik saya untuk pulang.
Karena ibukota kini pun kian mengekang.
Salam Historia!
Hebat mas rafen, arek mojosari bisa melanglang buana ke ibu kota..
BalasHapusSalam,bagus mas tulisan njenengan,sepur mojosari aku masih mengalami rute perjalanan ,mojokerto,bangsal,mojosari,terakhir japanan.Stasion besar ada di mojokerto,bangsal(sekarang pom bensin),mojosari (sekarang ps.raya mojosari) dulu banyak gerbong ,ada sumur bor yg ada tandon diatas diputar manual untu isi ketel loko,mklum mesin uap....lek kepingin ngerti mojosari main ke rumah jika pas pulang ..rumahku candirejo gg 1 sblh timur masjid alhidayah..salute..
BalasHapusSalam kenal mas sugeng, saya tiga tahun pernah mengaji di madrasah diniyah nazilul hidayah candirejo pimpinan abah mail... Kita tetangga desa.
BalasHapusSalut mas, artikel nya bagus. Dulu saya pernah mencoba meng-online-kan mojosari tapi cuma 3 tahun hbs itu ndak terurus lagi web nya. Lanjutkan berbagi ilmu mas, saya senang dan bangga anak2 muda yg berwawasan dan berpikir seperti anda. Salam.
BalasHapusTerima kasih banyak mas Agung Cahyo, saya akan terus menulis untuk berbagi ilmu dan pengalaman ....
BalasHapusWah... Akhirnya nemu artikel tentang mojosari... Aq Topik arek pungging mas. Sharing pengalaman dan numpang promosi sesama blogger. Iku foto pabrik gula mojosari, daerah ndi mas???
BalasHapushttp://saesouvenir.blogspot.co.id/p/souvenir.html
http://saesouvenir.blogspot.co.id/p/undangan.html
http://saesouvenir.blogspot.co.id/p/mahar.html
http://kinphotographi.blogspot.co.id/
Alhamdulillahh....
BalasHapusSalam nang polo Sambeng (Muslik)mas Fauzan,s sampean pancen the best..artikel yg sangat bermanfaat.👍👍👍👍
BalasHapusUntuk pabrik gula mojosari tempo doeloe..
BalasHapusTerhitung singkat rel kereta api dari japanan - mojokerto dst.. rel menuju pabrik gula tepatnya depan gudang dolog melintang nyudut timur..
Sebelum pabrik gula - dulu tempat markas jepang - kemudian belanda - baru pabrik gula - pabrik pari - di jadikan pabrik kertas EUREKA ABA.
Di bawa bangunan ada terowongan saya istilakan jalan tikus, juga ada sungai kecil dari belakang WIDYA GAMA tembus sampai barat luarnya area markas ato pabrik gula, sungai tersebut bentuk trowongan.
Untuk jalan tikus tadi, berujung ruangan senjata juga tempatnya kumpulnya orang jepang/belanda.
Rumah tua yg ada di depan/timur jalan itu dulu banyak selongsong besar entak itu bekad selongsong bom ato bukan, selongSong pluru juga banyak, bahkan bagian belakang rumah tempat ibarat garasi PANSER.
Demikian yg dapat saya sampaikan.