Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alunan Gending Jawa di Keheningan Malam

Entahlah, aku merasa memang ditakdirkan sebagai bocah penakut, setidaknya itu ku alami sejak kecil. Bukan masalah takut pada PR dari guru sekolah, bukan juga takut anjing, ular, atau bahkan kelabang. Meskipun biatang-binatang seram itu mampu membuatku begidik dan berteriak histeris. Namun, ini masalah lain. Takut yang kurasakan setidaknya lebih dari bertemu binatang seram. Aku takut akan suasana malam. Padahal malam adalah keniscayaan yang tak dapat dibantah, apalagi dihindari. Bagiku, malam itu gelap, kelam, dan penuh aroma mistis. Entahlah, apa yang harus kulakukan di kegelapan malam.


“kenapa harus takut pada malam hari, nyalakan api dalam hati. Ikuti segala kelamnya..”. Meskipun diluar sana, lirik serenada ini cukup populer, tetap saja tidak ada hubungannya dengan ketakutanku pada suasana malam. Menyalakan api dalam hati untuk menyinari kelamnya malam? Bah, itu hanya alunan lirik yang tak dapat ku nalar dengan akal sehat.Pernahkah ada yang mencoba menyalakan api dalam hati?

Sejatinya, aku tidak menyalahkan suasana malam. Justru, yang membayangiku adalah mereka yang menjadikan malam menjadi dingin dan hening. Mereka bukan makhluk nyata yang dapat kupahami gerak-geriknya. Aku pun mulai berfikiran, mereka adalah makhluk metafisik. Menghantuiku dalam bayang-bayang ketakutan. Padahal mereka sendiri tak pernah menampakkan diri. Pun aku tak pernah memelototi sosok mereka secara langsung.

“Kamu pasti lahirnya siang hari ya?” Ujar seorang teman dekatku waktu sekolah dasar . “Lah, apa hubungannya dengan ketakutanku pada suasana malam?”, tanyaku heran. “Begini, menurut cerita yang kudengar dari kakek, mereka yang lahir siang hari pasti takut kegelapan malam, sedangkan yang lahir malam hari, mereka menjadi anak yang pemberani.” Jelasnya mantap.

Kenyataan memang selaras dengan yang dikatakan temanku itu. Ibuku pernah bercerita bahwa aku dilahirkan pada hari jumat siang, tepat setelah sholat jumat usai. Menilik keadaanku yang penakut, maka mitos penakut karena lahir siang barangkali ada benarnya. Meski aku tak pernah percaya.
Beberapa hal yang membuatku sering ketakutan adalah bayang-bayang penampakan, padahal tidak ada yang gentayangan menghantuiku. Aku mengira itu hanya halusinasi. Halusinasi yang menghantui diri sendiri. Tapi, ada kejadian aneh yang kuanggap lebih dari sekadar halusinasi. Hmm.. Dihantui suara misterius.

Suatu ketika, aku menuju kamar mandi yang berada di pojok belakang, dekat dapur rumah, sendirian. Sesampainya di dalam kamar mandi dan buang air. Tiba-tiba, dari arah dapur, ada suara aneh yang memanggilku dengan suara nyaring, “Ha….ris….. Ha…ris…. Haris…. “, semakin lama terasa makin dekat dan mengeras. Aku ingat betul bahwa itu suara kakekku. Kakiku mendadak bergetar lemas manakala aku tahu bahwa kakekku telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Lah, lantas siapa yang memanggilku? Kudekati pintu kamar mandi dan kubuka perlahan. Suara itu tak lagi terdengar, saking takutnya saat itu, pintu kamar mandi ku buka dengan keras, “Bruaaak….” Aku berlari keluar kamar mandi sekencang-kencangnya, melewati dapur tempat suara aneh berada. Sesampai diruang tengah, kuberanikan diri menengok arah dapur. “Suara siapa itu?”, aku berteriak keras.Berharap itu suara seseorang yang sedang mengerjaiku. Ku tunggu beberapa saat.Ternyata hanya keheningan tanpa jawaban.

Kejadian dihantui suara mistis tidak hanya kurasakan sekali itu saja. Pernah suatu ketika aku sengaja tidur larut malam untuk menonton film Hollywood favoritku di box office Trans TV. Kejadian ini agak lama, seingatku saat masih sekolah dasar. Aku asyik melihat TV hingga mendekati tengah malam. Tidak ada hal-hal aneh hingga film usai. Dengan santai, aku beranjak menuju kamar tidur, merebahkan badan dengan nyaman sambil memeluk bantal.

Nuansa senyap, Malam itu tak kudengar satu pun suara-suara kendaraan besar yang lalu-lalang di jalanan depan rumah. Bahkan suara-suara khas penunggu malam seperti jangkrik maupun kodok pun seakan enggan untuk datang menyapa. Tak mengherankan memang, karena samping timur rumahku berupa kebun pisang dan rimbunan pohon bambu yang lebat, maka suara jangkrik, kodok maupun burung hantu adalah hiburan gratis setiap malam.Saking sepinya, jadilah malam itu ku seperti hidup sendirian dalam keheningan.Entah kenapa mataku sulit terpejam, kulihat sekeliling kamar. Berharap mataku akan lelah dengan sendirinya. Kuamati seonggok laying-layang besar yang terpajang dengan gagah ditembok kamar. Layang-layang itu adalah symbol kebanggaan. Layang-layang terbesar yang pernah kuperoleh selama pengejaran layang-layang putus.

Tiba-tiba, Lamunanku terhenti oleh suara aneh. Ya, suara aneh dari arah samping timur rumah, tempat kebun pisang dan rimbunan pohon bambu berada, sayup-sayup ku dengar suara seperti gending jawa ditabuh merdu. Ting… Tong… Ting… Dung….

Aku bergidik kaget, aku mengira itu suara orang punya gawe (hajatan) dari arah timur, yang suaranya kena angin malam hingga tembus meluncur melewati sela-sela jendela kamar. Sayangnya, dugaanku salah. Suara gending yang awalnya beralun merdu berubah menjadi campuran suara-suara mistis. Suara beberapa alat musik jawa kini menyatu menjadi satu. Dari hanya sekadar gending jawa, berubah menjadi seperti suara gong, bonang dan suara alat musik jawa lain yang tak kuketahui namanya.

Badanku gemetar ketakutan. Kini, yang kurasakan seperti mendengar pertunjukan wayang kulit tepat disamping rumah. Suaranya terdengar ramai dengan alunan musik jawa yang membahana. Aku bahkan berkeyakinan, suara mistis itu mampu membangunkan orang tidur saking kerasnya. Aku ketakutan. Aku coba berteriak memanggil ibu dan ayah yang tidur dikamar tengah. Nihil, mereka tidak bangun saking nyenyaknya tidur.

Suara mistis gending jawa semakin keras mendekati kamarku. Seakan tepat berada didepan jendela kamar. Untuk menenangkan keadaan, ku coba melafalkan doa-doa pendek yang kuingat dari guru TPQ. Namun, tidak merubah keadaan. Bantal guling yang tadinya berada disamping badanku, kutarik dengan keras untuk menutupi telingaku. Aku diam tak bergerak sambil menutupi telinga dengan bantal, mencoba tak mempedulikan suara aneh yang datang dari samping rumah. Bertahan hingga terlelap tidur dengan sendirinya.

***

Paginya, aku bercerita pada ibu terkait kejadian mistis semalam. Ibuku menanggapi dingin, seakan menganggapku hanya membual. Toh, kenyataannya ibu memang tidak mendengar apapun tadi malam. Sejak kejadian itu, aku tak berani begadang sendirian hingga larut. Aku takut keheningan malam.

Bertahun-tahun kejadian itu kusimpan rapat, hingga suatu ketika ibu bercerita bahwa rimbunan pohon bambu disamping rumah sebelah timur adalah tempat bemukimnya jin-jin yang pernah dipindahkan dari rumah. Sejarahnya, rumahku dulu adalah kebun lebat yang tanahnya dianggap sintru (angker) oleh tetangga sekitar. Jadi, agar tidak mengganggu penghuni rumah, maka mahkluk gaib itu terpaksa dipindahkan. Mungkinkah suara mistis gending jawa itu bagian dari akivitas makhluk metafisik yang menempati rimbunan bambu itu? Entahlah, kejadian itu memaksaku untuk percaya bahwa alam lain juga menikmati kehidupan, beraktivitas disekitar kita. Wallu a’lam.

3 komentar untuk "Alunan Gending Jawa di Keheningan Malam"