Ibadah Kita Dalam Perspektif Diagram Cartesius
"Ustadz, saya mau menanyakan sesuatu nih..." tanya temanku disela-sela rutinitas perkuliahan bahasa arab. Tentu saja dengan senang hati ustadz mengiyakan. Karena justru dengan pertanyaan itulah beliau punya ide untuk bercerita sekaligus menjawab apa yang ditanyakan mahasiswanya. Saya akui, hadirnya tanya jawab dalam kegiatan pembelajaran seringkali terbukti ampuh untuk mengusir rasa bosan dan kantuk, terlebih apabila materinya amat monoton. Perlu diselingi iklan lewat.. biar pada melek semua.
"Ustadz, misalnya ada 2 orang yang saling berbeda perilakunya. Yang satu sangat fanatik dalam kegiatan ritual, boleh dibilang hubungannya dengan Tuhan okelah, namun dia kurang berhubungan baik pada sesamanya. Atau orang kedua, yang sangat baik pada sesama, Namun dia melupakan Tuhannya. Menurut ustadz, manakah yang lebih baik". Tanyanya dengan serius. "Hayo, ada yang mau menjawab, bagaimana menurut kalian" ustadz malah melemparkan pertanyaan itu pada kami. Krik.... Krik.... Krik...."
Ada yang mau menjawab ?" Krik.... Krik.... Krik.... Hening seperti suasana persawahan dimalam hari.
"Silakan ustadz saja yang menjawab, kami gak sombong kok" Sahut salah seorang teman disampingku diiringi cengar-cengir teman-teman yang lain. "Ya Sudah, Kalian udah pernah dengar cerita tentang.........."Belum selesai bicara langsung kami sahuti "Belom denger ustadz.......". Biasalah, watak mahasiswa yang sukanya dengar cerita. Modus, biar nanti gak pelajaran, cerita aja.
"Ya Sudah, Ada cerita tentang seorang yang sangat loyal dalam beribadah, setiap hari ia habiskan dengan kegiatan ritual dengan Tuhannya. Hingga suatu saat ketika sedang melaksanakan ibadah, ada seekor anjing yang menggonggong didepan rumahnya, karena sangat mengganggu ibadahnya, dengan kesal ia lemparkan terompahnya dan tepat mengenai wajah anjing itu hingga terluka parah. Tak lama berselang, ada seorang brandal yang kebetulan lewat dan mendapati anjing itu berjalan terseok-seok menahan rasa sakit. Karena masih memiliki peri kehewanan dalam jiwanya, maka ditolonglah anjing itu. diobatinya dengan sabar hingga sembuh. Mana yang lebih baik? Ibadah namun melupakan sosial? atau jiwa sosial yang melupakan ibadah? Keduanya rasanya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Maka janganlah kalian memilih salah satu dari keduanya, karena keduanya saling melengkapi. Ibadah Vertikal dapet, Horizontal juga dapat...."
Merenungi dari apa yang dilontarkan ustadz tadi, terlintas dibenak saya tentang diagram cartesius. Siapa yang tak mengenal diagram ini, sejak pertama kali diperkenalkan di sekolah dasar, diagram ini sangat populer hingga tingkat perguruan tinggi. Diagram yang terbagi 4 kuadran ini seakan-akan menggambarkan berbagai tipologi bagaimana ibadah kita saat ini. Kita ibaratkan sumbu X sebagai ibadah horizontal kita (hubungan sesama makhluk) dan sumbu Y sebagai ibadah vertikal kita (hubungan dengan Tuhan). Maka kita akan mendapati berbagai tipologi berikut...
a. Kuadran I (Sumbu X positif dan Sumbu Y Positif)
Mampu menyeimbangkan antara spiritualitas dan sosialitas
b. Kuadran II (Sumbu X negatif dan Sumbu Y positif)
Mementingkan spiritual, Melupakan Sosial
c. Kuadran III (Sumbu X positif dan Sumbu Y negatif)
Melupakan Spiritual, Mementingkan Sosial d. Kuadran IV (Sumbu X negatif dan Y negatif)
Melupakan spiritual sekaligus jiwa sosialnya rusak
Hidup itu pilihan kawan, Ibadah kita bergantung atas apa yang kita perbuat sekarang. Yang jelas, misi utama Rasulullah dulu adalah "Menyempurnakan Akhlak". Bagaimana kita berakhlak Karimah pada Allah dan Bagaimana kita berakhlak Karimah pada sesama makhluk. Andaikan kita mampu menyempurnakan keduanya, maka implementasi Islam sebagai rahmatal lil alamin akan benar-benar terealisasi. Kesimpulannya? Jadilah yang pertama...
Perpaduan jiwa spiritualitas dan jiwa sosialitas kita akan membentuk suatu garis keseimbangan antara keduanya. Itulah cerminan pribadi yang "Ulul Albab". (^_^)
Hal ini linear dengan apa yang difirmankan Allah (Al-Asr (1-3))
--> Demi Masa
--> Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian
--> Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran
Semua kriteria orang yang beruntung ada dalam kuadran I, senantiasa beriman (Spiritual) dan mengerjakan amal saleh (Sosial). Maka, Semoga kita senantiasa diistiqomahkan Allah dalam menapaki jalan hidup yang mustakim (lurus) seperti lurusnya garis imbang dalam kuadran I. Amin....
Wallhu A'lam Bisshowab


Posting Komentar untuk "Ibadah Kita Dalam Perspektif Diagram Cartesius"