Menghormati Guru, Dihormati Murid
Sebagaimana biasa saat lebaran, tadi pagi saya diajak silaturahmi ke kediaman keluarga besar istri. Di daerah Adisono, Pungging.
Di halaman depan si empunya rumah, ada jalan kecil menuju sungai. Tak singka, ayah mertua tiba-tiba menyapa seseorang dan menyalaminya. Saya tengok wajah beliau. Ternyata tidak asing. Beliau guru saya, masa SMA.
"Pak, njenengan guru saya", sambil sungkem ke beliau. Beliau tersenyum. Meski lupa siapa saya, namun sebagai murid, saya tetap ingat.
"Mau kemana, Pak?"
Beliau menjawab santai, "Biasa, ape budhal macul".
Memang beliau bawa pacul. Wajah beliau seakan tak berubah seperti sepuluh tahun lalu. Kini, sudah pensiun.
Kenangan yang membuat saya selalu terngiang adalah momen ketika shalat jamaah dzuhur di masjid SMA. Beliau jadi imam dan beberapa siswa termasuk saya jadi makmumnya. Tak disangka, beliau mengeraskan bacaan fatihah sebagaimana shalat Maghrib. Sampai-sampai, teman-teman saya kompak mengucapkan amin di akhir fatihahnya. Saking wibawanya beliau saya tak berani protes masalah itu. Saya tetap menghormati beliau, sebagai guru yang berjasa.
Baru tadi Maghrib, gantian saya yang disapa. Seusai shalat di masjid pertigaan Gondang, dari arah timur ada motor melaju mendekat. Memarkir motornya dekat jalan raya. Dia bergegas menghampiri.
"Pak Fauzan, saya mahasiswa njenengan". Sambil menyalami saya.
Saya kenal wajahnya, lupa namanya.
"Dari Ilkom UNU Blitar, ya?" Saya memastikan. Maklum, mahasiswa ilmu komputer sudah 400 ratus lebih. Menghapal namanya bukan perkara mudah.
"Njih leres pak, saya asli Gondang sini pak".
Saya senang sekali. Memang ada puluhan mahasiswa ilkom dari Mojokerto bisa berkuliah di UNU Blitar.
Bagian dari takdir Allah ketika tadi siang saya tak sengaja bertemu dan menyalami guru. Malamnya, gantian saya ditemui dan disalami murid. Bisa saja karena wasilah menghormati guru tadi, akhirnya dihormati oleh murid.
Dulu ketika ngaji ta'lim muta'allim, Saya teringat dawuh guru. Sejatinya, memuliakan guru tidak hanya untuk guru tersebut. Justru kemuliaan itu akan kembali ke diri sendiri. Bukankah setiap dari kita bakal menjadi guru, minimal bagi anak-anak kita sendiri?
Posting Komentar untuk "Menghormati Guru, Dihormati Murid"