Begitu hasil lab saya terima, mata saya tertuju ke tulisan "swab antigen". Hasil itu yang paling saya tunggu. Sejak tadi mengganggu pikiran.
Akhirnya, ketemu. Di pojok kiri bawah. Meski hanya selembar, isinya begitu berharga. Apapun hasilnya, tentu berpengaruh pada keputusan dokter selanjutnya. Terutama hasil swab antigen itu.
"Alhamdulillah, negatif covid, uma!", saya senang bukan main.
Istri tersenyum kecil. Menanti di parkiran motor.
"Coba lihat, Bi. Hasil lab lainnya gimana?".
Saya tenangkan istri. "ndak usah khawatir, uma!". "Yang positif cuman satu kok. Satu Salmonella doang. Toh masih ada tiga Salmonella yang negatif", terang saya dengan wajah serius tapi santai. Sembari nempelin jari telunjuk ke tulisan imuno serologi. Berasa jadi ahli tafsir penyakit. Sejujurnya saya tak paham hasil lab. Toh intinya, negatif covid. Tak usah dirisaukan. Apalagi, pikir saya, salmonella kan nama yang bagus. Kurang pantas jika digunakan untuk nama penyakit mematikan. Bahkan jadi nama anak juga pantas. Misalnya, Salmonella Amanda Amalia. Panggilannya Salma. Keren juga.
Sebagai lulusan ilmu biologi yang kuliah nyaris 10 semester. Istri saya gemas bukan main. Andai tak di tempat umum, mungkin hidung saya sudah dicubitnya. Jika itu terjadi, saya bakal cubit balik hidungnya. Itulah definisi suami romantis di kala senang maupun susah.
"Berarti adek positif tipes, Bi".
"Lho, kok tipes?" wajah santai saya berubah jadi wibawa. Hasil lab ini harus di-tashih-kan ke ahlinya ahli.
Timing-nya tepat. Saya di-WA oleh asisten dokter untuk mengabarkan hasil lab. Bisa saja hasil lab saya foto lalu kirimkan via WA. Tapi, tak lega rasanya jika tak langsung menemui dokter. Anak kami sudah negatif covid. Tidak ada alasan lagi untuk menolak kami menemui dokter.
"Bapak tunggu saja di depan apotek, biar hasil lab saya konsulkan ke dokter".
"Tapi kan...!"
Apa daya, kami masih dilarang menemui dokter. Benar anak kami negatif covid. Namun kami orang tuanya tidak bisa menunjukkan surat bebas covid. Saya sih mikirnya simpel, ngapain buang-buang duit hanya untuk tes yang kami sudah bisa memprediksi hasilnya. Masalah orang lain tak percaya, biarlah.
"Anak bapak positif typhoid", asisten dokter menjawab WA saya. Sungguh jawaban yang lugas dan penuh misteri.
Ada banyak pertanyaan menggelayut dibenak.
Menyebalkan. Kadang pertanyaan saya hanya di-read doang. Saya tidak menuntut jawaban panjang. Inilah konsekuensi konsultasi via WA. Tidak melegakan. Saya paham, dokter dan asistennya melayani banyak pasien. Sudah bagus kami diberitahu penyakit yang diderita anak. Apalagi diberi bonus obat. Gratis. Hanya perlu ditukar dengan nomor antrian apotek.
"Lho mas, sekalian dilunasi ya!"
Astaga.
***
Penyakit tipes rasanya sudah menjadi penyakit endemik. Begitu populer. Menguasi belantara perpenyakitan negeri ini. Berduet maut dengan sahabat karibnya, demam berdarah. Namun, semua berubah kala negara covid menyerang.
Meski penyakit tipes jarang diberitakan di TV nasional, gaungnya masih menasional. Tidak perlu bikin gugus tipes untuk memitigasi penyakit ini. Saking biasanya mendengar kata "tipes". Sampai saya mengira tipes ini biasa-biasa saja. Anggapan yang gegabah.
"Panasnya adek kok naik turun, uma?". Saya mulai khawatir. Kami beri obat dari dokter. Muntah. Kami beri asupan makanan. Dimuntahkan lagi. Si kecil mogok makan. Maunya nen terus. Berat badannya turun.
"Nadifah kok kurus". Dipeluknya Nadifah dengan erat. Hari itu, Nadifah dijemput Eyang Ti dan Eyang Kung, panggilan sayang kami untuk nenek dan kakek Nadifah. Di Mojokerto banyak sanak famili. Banyak pula teman bermain. Semoga tambah gembira. Biar abinya mendoakan dari Blitar. Sendirian.
***
"Memang tipes tiap orang berbeda pak, jadi lama sembuhnya pun beda-beda. Banyak yang sembuh dalam beberapa hari saja. Ada juga yang lama, seperti tipes saya", sahut bu Siti kala saya ceritakan ihwal tipesnya anak.
Beliau yang juga Direktur kami di LSP UNU Blitar ini pernah menderita tipes parah awal tahun silam. Kami sempat su'udzon, jangan-jangan beliau kena covid. Lama sekali. Hingga berminggu-minggu. Kisah sakitnya heroik. Ada drama air mata juga. Andai beliau mau menceritakan kisah sakitnya, tentu layak dijadikan satu buku novel.
Saya jadi teringat rekan dosen kami di Prodi Peternakan. Drh. Mita Fibriani, M.Agr. Masih muda. Energik sekali. Kami terakhir berjumpa saat beliau mengurus BSU dosen. Akhir tahun lalu. Nama beliau tiba-tiba hilang dari daftar penerima BSU. Meski kecewa, namun beliau memahami. PDDIKTI telah mendeteksi beliau sebagai penerima BPJS ketenagakerjaan. Beberapa hari beliau mengeluh sakit. Ternyata kena tipes. Tak kunjung membaik. Nafasnya berat. Dirujuklah beliau ke rumah sakit. Hasil swab menunjukkan beliau positif Covid-19. Hingga, kabar mengejutkan datang. Tanggal 12 Februari lalu beliau wafat. Sedih sekali. Apalagi melihat anak-anak beliau yang masih kecil itu. Kehilangan ibunda saat lagi sayang-sayangnya.
Setiap orang mendapatkan ujiannya masing-masing. Bukankah sudah selayaknya untuk selalu berprasangka baik pada Tuhannya?. Terngiang nasihat Ust. Izzudin, wakil rektor kami yang keren itu. "Yang penting, badan kita ikhtiar, batin kita tawakkal. InsyaAllah, Allah berikan yang terbaik."
Posting Komentar untuk "Negatif Covid, Positif Typhoid"