Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Reaksi Kami Ketika Si Kecil di-Swab Antigen

Wajah istri nampak pucat di kursi tunggu klinik laboratorium. Saya beruntung, di Kota Blitar yang kecil ini, fasilitas kesehatan bisa dianggap mencukupi. Surat pengantar dari dokter anak saya pegang erat. Hanya selembar kertas yang tertutup. Tidak terlalu rapat. Hanya di-'staples' bagian tengahnya. Malah saya penasaran untuk ngintip. Kira-kita dokter nyuruh tes apa ya.

Saya buka dan baca pelan-pelan.  

Ya Allah, tega amat dokternya. Terbaca duluan tulisan "Swab Antigen". Ada perasaan menyesal dalam hati. Kenapa tadi ngomong ke asisten dokter kalau kami dari luar kota. 

Saya buka suratnya lebih dalam. Ada tiga tes yang harus dilakukan. Hematologi, Salmonella hingga Swab Antigen.  

"Antrian nomor 23, silakan menuju kasir". 

Saya berusaha tegar, surat pengantar dokter saya serahkan ke mbak-mbak kasir. 

"Ditunggu ya mas". 

Dingin. Saya iyakan saja. Dia sibuk merekap harga yang harus dibayar. Bpjs anak saya tidak berlaku disini. Kecuali sedari awal kami periksa di rumah sakit. 

Tiba-tiba keheningan pecah. Ada bapak-bapak tinggi besar. Rupanya lagi debat alot dengan petugas klinik.  

"Hari kamis saya terbang ke Pontianak, mbak. Masa lama sekali hasil swab-nya keluar."

"Memang prosedurnya tiga hari, Pak!".

"Lah, tiga hari kan bisa dimulai sekarang, senin, selasa, rabu. Kamis pagi saya ke Juanda. Kalau kamis baru selesai, ya telat saya." Intonasinya meninggi.

Dari logat yang diucapkan. Sepertinya beliau bukan orang Blitar.

"Tiga hari dimulai besok pak, selasa, rabu, kamis.".

"Alah... gimana ini. Masa tidak bisa dibantu cepat".

"Silakan bapak mencari tempat lain ya, mohon maaf".

"Harus kemana saya, mbak".

"Bisa ke RSUD Srengat".

"Hah, dimana itu Srengat? Masa tes swab saja serumit ini" 

Pandemi Covid ini sukses menciptakan banyak drama. Lebih hebat dari drama korea. Swab dan Rapid kini jadi kebutuhan baru, -jika tidak ingin menyebutnya bisnis baru-. Entah berapa miliar uang masyarakat yang terbuang karena tes ini. Eh, termasuk saya ikut menyumbang.  

"Silahkan mas, ini tagihan pembayarannya". 

Saya lihat rincian detailnya. Sudah kuduga. Tidak ada tes lab yang murah. Swab antigen penyumbang terbesar kemahalan itu. Tertulis 315 ribu, ada diskon hingga menjadi 250 ribu. Hebat, ada diskon. Sudah kayak promo akhir tahun. Ditambah pula harga tes salmonella dan hematologi. Untung saja tidak diminta tes Swab PCR. Bikin kantong lebih jebol, 750 ribu hingga 1,25 juta. Mungkin lebaran esok ada lagi promo besar-besaran.    

"Antrian nomor 23, silahkan masuk bilik". 

Rasanya jantung berdegup kencang. Saya mendadak dejavu. Ingatan itu kembali ke setahun lalu. Anak saya yang baru empat bulan itu harus bolak-balik cek darah di dua rumah sakit berbeda. Trauma rasanya mendengar jeritan anak kami di ruang IGD rumah sakit. Siapa yang tega melihat bayi mungil di-'coblos' jarum suntik hingga lima kali uji coba. Hanya karena gagal pasang infus. Alasannya, sulit sekali menemukan pembuluh darah pada bayi.  

Semoga sekarang tidak seburuk tahun lalu. Saya rebahkan si kecil ke ranjang pemeriksaan. Belum diapa-apakan dia sudah menjerit keras. Sepertinya dia mengalami trauma yang sama. Seakan sudah tahu kalau mau diapa-apain. 



Si kecil memberontak. Saya pegang erat kaki dan tangannya. Ada perasaan tidak tega. Apalagi istri saya. Ada butiran air mata di sudut matanya. Wajahnya terlihat lebih tegar. Dia sudah memantapkan hati untuk kemungkinan terburuk sekalipun. 

Tangis anak kami pecah begitu kerasnya. Menyayat hati siapapun yang mendengarnya. 

"Hilang-hilang pak". 

"Apanya yang hilang-hilang". 

"Kami cari pembuluh darahnya. Sulit sekali". 

Kalau saya yang jadi perawatnya, ya ndak pakai lama. langsung saja saya ambil darahnya. Kelamaan nyari pembuluh darah. 

Jika pasiennya orang dewasa, mudah sekali ambil sampel darahnya. Tanpa perlu ada drama. Lain lagi jika pasiennya bayi seperti sekarang. Dititik inilah profesionalitas perawat diuji. Dia harus tahan banting ditekan orang tua bayi. Dan wajib tetap tenang walaupun suara tangisan meronta-ronta. Justru buru-buru bakal mengakibatkan fatalitas.

Saya akui perawatnya profesional. Sekali jarum suntik menancap, darah bisa diambil. Terlihat mengalir darah merah pekat kehitaman. Ah, ikut ngilu rasanya. 

Tangis anak kami makin keras. Tentu saja tangan kanannya nyeri. Tergambar dari tangis pilunya. Ia seperti mohon pertolongan ke saya dan istri. Minta gendong. Tapi, apa boleh buat.

"Cup, cup, cup. Sabar ya cantik, tidak sakit kok, sedikit lagi". 

Ternyata belum usai. Saya kira swab antigen cukup dari darah yang diambil tadi. Tebakan saya salah. 

"Lho ini mau diapain lagi mbak?"

"Kami swab ya".

Diambilnya alat seperti cotton bud. Tapi lebih panjang. Entah apa sebutannya. Seumur-umur baru kali itu saya melihat langsung alat swab. Saya dan istri sama sekali tidak pernah di-rapid atau swab. Semoga tidak pernah. Sayangnya, justru si kecil kami yang jadi korban untuk swab. 

"Ahhhrrrrrgggggggg.................."

Anak kami kembali menjerit. Cotton bud panjang dimasukkan paksa lewat hidung. 

"Jangan dalam-dalam, mbak!", saya memohon.  

Nyaris hingga setengah cotton bud panjang masuk hidung. Diputar-putar sedikit, lalu dicabut. Dimasukkan ke kantong plastik kecil. 

"Tunggu hasilnya satu jam ya pak". 

Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Kami putuskan untuk pulang dulu. Anak kami masih menangis kesenggukan. Minta di gendong terus. Dipeluk istri erat-erat. Semenjak badan panas, dia lebih sering minta nen. Jarang mau makan. Berkali-kali dia angkat tangan kanannya. Seakan menunjukkan ke kami jika tangannya nyeri. 

"Iya nak. Sabar ya cantik, bentar lagi ndak sakit lagi kok"

Menunggu hasil lab adalah masa yang mendebarkan. Justru yang saya khawatirkan adalah hasil swab tadi. Swab antigen lebih akurat daripada rapid test. Ada bayang-bayang kekhawatiran. Bagaimana jika hasil swab antigen positif? Berarti dipastikan positif covid kah? 

Nah, jika positif covid, sudah dapat dipastikan dia pasti terlutar dari orang tuanya. Wah, jadi panjang urusannya. 

Naudzubillah.

Posting Komentar untuk "Reaksi Kami Ketika Si Kecil di-Swab Antigen"