Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Serius Nanya, Manfaat Parkir Berlangganan Apa?

Pernahkan anda menjumpai sosok yang tiba-tiba nongol ketika motor di-starter? Sebenarnya sosok ini tidak menakutkan. Hanya mengagetkan saja. Kok tiba-tiba ada. Perasaan tadi ndak ada deh. 

Sosok itu adalah bapak tukang parkir yang sangat saya hormati. Kadang saya menjumpai ibu-ibu juga jadi tukang parkir, walau tak seberapa jumlahnya.

Saya menyadari betapa pentingnya tukang parkir di tempat-tempat yang rawan curanmor. Tapi, ngapunten lho pak. Ada tempat-tempat yang saya sendiri sulit menemukan alasan mengapa harus ada tukang parkir. Karena terus terang, motor yang saya parkir masih bisa diawasi.

Contoh sepengalaman saya, misalnya adalah counter hp. Tempat beli voucher paket data. Transaksi yang saya lakukan tak lebih dari semenit. "Mbak, tumbas voucher internet 11 GB. Niki nyotrone". Singkat padat, juelas, uang pas. Karena saya hapal harga voucher paket data yang biasa dibeli. Motor saya starter, tiba-tiba ada suara misterius dari belakang. "Terus mas, teruss...". Nah lho. Ada bapak-bapak narik motor saya. "Pritttt...". Saya pasrah.

Berikutnya adalah ATM. Tempat narik uang. Sebenarnya banyak ATM yang jadi satu dengan banknya. Biasanya ramai nasabah. Tukang parkir dalam hal ini membantu banget untuk menata kendaraan, plus ngasih pelindung panas pada jok motor.

Nah, jika ada ATM yang nyempil sendirian tanpa bank, lalu ada tukang parkirnya, masalah kadang timbul. Kendaraan bisa saya awasi. Saya tinggal noleh ke belakang saja. Sekalian jaga-jaga jangan sampai ada orang belakang yang ngintip saldo saya. Pernah saya lupa tak bawa uang receh. Tapi melihat wajah bapak tukang parkir, saya tak tega untuk mem-php-nya. Saya kasih uang parkir hasil ambil uang di ATM. Selembar uang 50 ribu. Padahal saya berharap bapaknya bilang, "Oh ndak usah wes mas. Gak ono susuke". Kenyataannya, bapaknya bisa ngasih uang kembalian. Receh uang kertas seribu dan dua ribuan sejumlah 48 ribu. Luar biasa pak.

Ada lagi yang ngenes. Tempat fotocopy. Saya sering mengalami pas kuliah di Malang dulu. Padahal, tak ada orang ketiga yang memisahkah saya dengan motor. Bahkan bisa banget saya pesan fotocopy-nya sambil megangin motor. Jangankan ada maling motor datang. Lihat saya saja malingnya ngelus dada. Saking lengketnya saya dengan motor. Tiba-tiba pas saya nyetarter motor. "Parkir mas!!!!!". Saya kasih pecahan 1000. Ngambek. "Parkire 2000 mas". Ya Allah gusti, padahal fotocopy saja habis 500 perak pak. Lah parkirnya 2000 rupiah. Disinilah keikhlasan saya sebagai mahasiswa yang hidup super hemat diuji. Waktu itu. Uang 2000 bisa beli indomie untuk sarapan. Selalu saja ada cobaan hidup.

Ditengah masalah seputar parkir itu. Saya serasa menemukan angin segar. Ya, stiker parkir berlangganan sebagai solusi ampuh. Harapannya begitu. Stiker ini biasa dikasih pas bayar pajak motor via samsat.

Entah mulai kapan ada stiker canggih macam parkir berlangganan ini. Sejak saya naik motor ke sekolah zaman SMA, stiker ini sudah melekat di nomor polisi motor, kadang nempel di slebor belakang.

Dulu pas saya baru belajar naik motor. Saya diwanti-wanti ayah saya. Kalau ada tukang parkir, ndak usah bayar. Tunjukin ini aja ke bapak tukang parkir. "Stiker Parkir Berlangganaaaaaaaaaan" (pakai suara khas doraemon).

Saya berbunga-bunga. Canggih bener nih stiker. Sampai bisa parkir tanpa bayar.

Dengan pede-nya saya terapkan itu. "Pak, ini parkir berlangganan lho, parkire gratis nggeh". Harusnya, bapak tukang parkir tinggal jawab saja dengan simpel, "nggeh", kelar masalah. Saya jadi langganan parkir terus disitu.

Tapi kok ndilalah reaksinya beraneka ragam. "Ealah, yo wes mas", sambil pasang muka jengkel. Ada yang diam saja kayak nantangin gelut. Yang ini serem banget. Ada lagi yang ngeselin, "Tetep bayar mas, parkir berlangganan gak berlaku nang kene."

Sejak dikecewakan itu, saya tak pernah menyinggung parkir berlangganan lagi. Sudah pasrah. Saya biarkan bayar parkir saja. Daripada bela-belain stiker parkir berlangganan, tapi debat dulu. Ujung-ujungnya saya malu sendiri, "Tinggal bayar parkir saja protes mas, mung 1000 wae kok". Waktu itu 1000. Sekarang langka ada parkir motor bayar 1000.    

Alhamdulillah, kini saya berkemampuan untuk membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) sendiri. Saya jadi tahu biang masalahnya. Di tanda bukti penulasan pembayaran PKB itu, masih muncul biaya parkir berlangganan sebesar 15 ribu. Lihat pada gambar. Ini saya bayarkan bulan lalu secara online via marketplace. 

Bukti Pembayaran PKB via e-Samsat

Tertera jelas tanpa tedeng aling-aling, biaya parkir berlangganannya. Saya tidak mendapatkan stiker parkir perlangganannya. Wong yang jelas-jelas ada stiker parkir berlangganan saja, saya belum merasakan manfaatnya. Apalagi tidak ada stikernya. Jadilah ini seakan sekadar bayar saja. Semoga jadi amal jariyah. Amin Ya Allah. Mungkin lebih tepatnya, dipaksa amal jariyah. Sungguh murah hati saudaraku sebangsa dan setanah air ini.

Jika kawan-kawan tahu apa dan bagaimana memanfaatkan fasilitas parkir berlangganan ini, njenengan ceritakan nggih!. Mungkin saya saja yang terlalu awam hingga ndak tahu manfaatnya. Jadi, saya serius nanya, manfaat parkir berlangganan apa?

Posting Komentar untuk "Serius Nanya, Manfaat Parkir Berlangganan Apa?"