Karena Corona, Tarawih di Masjid Picu Kontroversi
Dua bulan lalu, saya masih bertemu beliau. Abah Sulthon, biasa saya menyapa. Beliau selalu mewanti-wanti, "mas, kalau pas pulang dari Blitar, saya minta ngimamin tarawih di Al-Irsyad ya!". "Nggih bah, InsyaAllah", begitu janji saya. Tidak sekali dua kali. Berkali-kali. Mungkin takut saya lupa. Padahal Musholla di tempat beliau tak terlupakan. Kecil tapi bikin adem. Full AC. Setahu saya, baru musholla itu yang ber-AC di Mojosari. Lokasinya di pemukiman padat. Jamaahnya meluber hingga menutup gang. Karena menutup gang itulah, tarawihnya agak cepat. 8 rakaat ditambah ceramah singkat.
Takdir berkata lain. Wabah kian gencar menular. Belakangan, saya tahu jika tarawih di Musholla Al-Irsyad ditiadakan. Pindah ke rumah masing-masing. Sangat logis. Kecilnya musholla dan membludaknya jamaah menyulitkan physical distancing.
Berbeda dengan Masjid Al-Mu'thi di dusun saya. Tetap menyelenggarakan tarawih. Ketika perwakilan takmir menyodorkan jadwal imam, saya tolak secara halus. Alasan saya jelas. Saya menetap di Blitar selama Ramadhan. Tidak berniat pulang-pergi Mojosari-Blitar. Beresiko. Apalagi sudah ada larangan mudik. Entah bagaimana nasip anak rantau hari raya ini. Membayangkan saja sudah sedih.
Takdir berkata lain. Wabah kian gencar menular. Belakangan, saya tahu jika tarawih di Musholla Al-Irsyad ditiadakan. Pindah ke rumah masing-masing. Sangat logis. Kecilnya musholla dan membludaknya jamaah menyulitkan physical distancing.
Berbeda dengan Masjid Al-Mu'thi di dusun saya. Tetap menyelenggarakan tarawih. Ketika perwakilan takmir menyodorkan jadwal imam, saya tolak secara halus. Alasan saya jelas. Saya menetap di Blitar selama Ramadhan. Tidak berniat pulang-pergi Mojosari-Blitar. Beresiko. Apalagi sudah ada larangan mudik. Entah bagaimana nasip anak rantau hari raya ini. Membayangkan saja sudah sedih.
![]() |
| Ilustrasi tarawih. (Sumber: variousdaily.blogspot.com) |
"Mas, ada jadwal imam tarawih". Istri menyodorkan selebaran jadwal tarawih. Oh, dari Masjid Baitul Hakim, Kota Blitar. Tidak ada alasan menolak. Jarak masjid dari rumah hanya selemparan batu. Tarawih akan tetap diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang telah berlaku. Sebagaimana diterapkan selama ibadah jumat. Wajib bermasker, cek suhu, dan jaga jarak. Saya menghormati keputusan itu. Saya dengar dari kawan dosen, memang masjid-masjid di Blitar mayoritas melaksanakan tarawih.
Satu hal yang membuat kita patut bersedih. Tarawih lagi-lagi picu kontroversi. Bukan lagi masalah jumlah rakaat. Berkat corona, debat jumlah rakaat tarawih memudar. Dan berkat corona pula, debat tarawih beralih ke masalah tempat. Perkara tak penting ini mendadak begitu genting. Dibahas oleh banyak orang. Semua mendadak ustadz dan menjadi ulama. Di zaman corona ini, tempat pengaruhi penularan. Tempat dan aktivitas apapun yang memungkinkan terjadinya kerumunan, pasti disorot. Tarawih salah satunya. Apalagi tarawih minggu pertama. Masjid mendadak overload. Ada wajah-wajah yang muncul setahun sekali hanya pas tarawih.
Himbauan majelis ulama indonesia sudah jelas. Tidak melarang tarawih, namun melarang berkerumun. Tarawih di masjid tentu memungkinkan kerumunan. Himbauan ini bahkan mendapat dukungan penuh dari ormas-ormas besar. Untuk dipatuhi. Terutama di daerah zona merah. Naasnya, se-Jawa Timur hanya 3 daerah yang bukan zona merah. Mengikuti himbauan tentu pilihan terbaik. Sebab, corona ini memang tak peduli tempat. Walaupun di tempat itu jelas ada larangan "Corona Dilarang Masuk".
Himbauan tarawih di rumah dan pembatasan akses masjid tentu efektif. Di kota besar. Macam Surabaya dan daerah penyangganya. Di daerah lain amat berbeda. Apalagi di pedesaan. Yang masyarakatnya menengah ke bawah. Takmir masjid mendapat tantangan tersendiri. Mau nekat nutup masjid? Yang menyebar memang bukan corona, tapi geger sesama warga. Ujungnya, pilihannya tetap tarawih di masjid. Tinggal membuktikan. Bagaimana takmir mendisiplinkan protokol kesehatan.
Saya hanya khawatir ada kasus macam di Tulungagung itu. Yang klaster penularannya digoreng media itu. Klaster tahlilan. Oh, kasian sekali kau tahlilan. Sudah sering dapat bully-an bid'ah. Eh, dapat sorotan baru. Klaster penyebar corona. Ya Allah, jangan ada klaster baru yang menyerempet ranah ibadah. Klaster tarawih contohnya.
Himbauan majelis ulama indonesia sudah jelas. Tidak melarang tarawih, namun melarang berkerumun. Tarawih di masjid tentu memungkinkan kerumunan. Himbauan ini bahkan mendapat dukungan penuh dari ormas-ormas besar. Untuk dipatuhi. Terutama di daerah zona merah. Naasnya, se-Jawa Timur hanya 3 daerah yang bukan zona merah. Mengikuti himbauan tentu pilihan terbaik. Sebab, corona ini memang tak peduli tempat. Walaupun di tempat itu jelas ada larangan "Corona Dilarang Masuk".
Himbauan tarawih di rumah dan pembatasan akses masjid tentu efektif. Di kota besar. Macam Surabaya dan daerah penyangganya. Di daerah lain amat berbeda. Apalagi di pedesaan. Yang masyarakatnya menengah ke bawah. Takmir masjid mendapat tantangan tersendiri. Mau nekat nutup masjid? Yang menyebar memang bukan corona, tapi geger sesama warga. Ujungnya, pilihannya tetap tarawih di masjid. Tinggal membuktikan. Bagaimana takmir mendisiplinkan protokol kesehatan.
Saya hanya khawatir ada kasus macam di Tulungagung itu. Yang klaster penularannya digoreng media itu. Klaster tahlilan. Oh, kasian sekali kau tahlilan. Sudah sering dapat bully-an bid'ah. Eh, dapat sorotan baru. Klaster penyebar corona. Ya Allah, jangan ada klaster baru yang menyerempet ranah ibadah. Klaster tarawih contohnya.

Posting Komentar untuk "Karena Corona, Tarawih di Masjid Picu Kontroversi"