Tertukarnya Amplop Pak Kyai
Ada jargon yang khas untuk para santri di lingkungan pesantren NU. "Santri, Nderek Kyai. Nderek Kyai, Sampai Mati." Para santri percaya, insyaAllah orang alim banyak barokahnya. Maka, mengikuti (nderek) kyai yang alim tidak akan ada ruginya. Contohnya seperti kisah menarik ini, diceritakan langsung oleh si empunya pengalaman, KH. Zainal Arifin Al-Nganjuki, kyai alim sekaligus dosen di UIN Maliki Malang. Beliau bercerita tentang amplop (bisyaroh) kyai yang tertukar dengan santrinya.
Suatu ketika, Pak kyai diundang ceramah untuk mengisi pengajian di Jember. Beliau ditemani seorang santri yang sekaligus menjadi sopir pribadi untuk mengantarkan beliau dari Malang ke Jember. Saat sedang berceramah, santri tadi sedang tertidur pulas. Mungkin kecapeian karena jauhnya perjalanan. Melihat santri yang tertidur pulas, hati panitia menjadi iba. Ada niatan panitia untuk sekadar memberikan sangu kecil-kecilan sebagai bentuk terima kasih panitia kepada santri yang telah mengantar Pak kyai. Diambilah satu amplop khusus kemudian diisi selembar uang berwarna merah.
Ketika pengajian telah usai, ternyata pak kyai langsung mohon pamit dan menuju mobil. Mengingat jauhnya jarak Jember-Malang, apalagi sudah larut malam, Pak kyai meminta maaf kepada panitia karena tidak bisa mengikuti ramah tamah. Tentu saja panitia mendadak panik dan kelabakan dibuatnya. Seorang panitia bagian pembawa berkat berlarian menuju mobil Pak kyai untuk menyerahkan berkat sebagai bekal perjalanan. Tidak kalah gupuhnya, seorang panitia yang diamanahi untuk memberikan bisyaroh langsung mencium tangan Pak kyai sambil berkata, "Kyai, pangapunten nggih, matur nuwun rawuhipun."
Ketika mobil hendak berjalan, panitia tadi memasukkan sesuatu ke sakunya santri. "Nak, hati-hati nyopirin Pak Kyai, jangan ngantuk lho ya, ini ada sedikit sangu." Santri tersebut girang bukan main. Senyum bahagia merona diwajahnya.
Ditengah perjalanan, Pak kyai minta untuk berhenti di POM Bensin. "Nggih kyai", jawab si santri polos. Pak kyai menuju kamar mandi. Ternyata di kamar mandi, Pak kyai mengintip amplop yang diberikan panitia tadi. Alangkah kagetnya Pak kyai ketika mendapati hanya ada selembar uang merah di amplop beliau. Namun, tak lama kemudian, kekagetannya berubah menjadi senyum. Saat keluar dari kamar mandi. Pak kyai langsung bertanya pada si santri. "Nak, apa kamu ditadi diberi sangu panitia?". "Nggih kyai". "Berapa?", tanya kyai lagi. "Ngapunten kyai, barokahipun nderek panjenengan, kulo disangoni 1 juta, kyai.", jawab si santri penuh bahagia.
Diakhir cerita, KH. Zainal Arifin Al-Ngajuki menambahkan, kini si santri tadi telah menjadi kyai. Ternyata peristiwa lama itu terulang kembali pada beliau. Alhamdulillah, barokah, barokah. Hehe....

Posting Komentar untuk "Tertukarnya Amplop Pak Kyai"