Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berharap Bebas Macet, Jalur Alternatif Malang-Surabaya Ini Malah Bikin Histeris

Kesan apa yang teman-teman bayangkan jika melihat foto dibawah ini? Bernuansa seram, misterius, horor, bikin merinding?  Iya semua benar, intinya kesan menakutkanlah yang terbayang oleh kita. Suatu tempat dengan jalanan makadam yang rusak di tengah kegelapan, ditemani rerimbunan pohon dan semak belukar. Bahkan, terbayang keakan nyasar ke alam gaib. Ini efek kebanyakan nonton film Keramat. Bikin tambah histeris manakala menyadari bahwa saya tidak pernah punya pengalaman lewat sini sebelumnya, apalagi waktu sudah menunjukkan jam 22.00 malam. Lengkap sudah penderitaan. Jika masih ada orang berkeliaran di tempat gelap seperti ini, tentu mencurigakan. Jangan-jangan bukan orang. Hi...

Yang jelas, saya ambil foto ini sambil gemeteran. Biar ada bukti sejarah. Konyolnya, jalan luar biasa mencekam ini merupakan jalur alternatif Malang-Surabaya. Mungkin sebagian dari kita susah percaya kalau ini memang alternatif Malang-Surabaya. Untungnya saya sempat ambil gambar, coba lihat panah putih pada foto, tertulis sejelas-jelasnya, "Alternatif Surabaya". Meski cuma banner, tapi dikeluarkan resmi oleh Dishub Kabupaten Malang. Jika penasaran pengen lewat jalan ini, sangat recommended bagi teman-teman yang berharap bebas macet. Tidak perlu repot-repot main ke rumah hantu. Ini malah langsung ke alam hantunya. hehe..  


Bagaimana ceritanya kok bisa nyasar di jalanan yang seram gitu? Sejujurnya, memang kami sengaja memilih jalan alternatif untuk menghindari kemacetan parah dari Flyover Arjosari - Pertigaan Karanglo - Pasar Singosari - Pasar Lawang. Jalur itu kayaknya sudah overload banget. Apalagi kala akhir pekan tiba, kendaraan dari berbagai kota (terutama Surabaya) menyerbu Kota Malang. Jika pasrah mengikuti jalur utama, konsekuensinya, kita juga harus neriman, sabar dan tawakkal mendapati kenyataan bakal menua di jalan. Untunglah Tol Pandaan - Malang sebentar lagi rampung. Semoga jadi solusi dari problem macet menahun ini. 

Waktu itu, saya dan istri bertolak dari rumah teman di sekitar belakang UIN Maliki Malang. Selepas maghrib kami langsung pulang ke Mojokerto. Naas, mobil kami terjebak kemacetan parah dari Masjid Sabilillah hingga pertigaan Karanglo. Saya memutar otak mencari jalur alternatif. Pilihan yang realistis adalah mencari rute alternatf via GPS. Saya sudah curiga. GPS kalau mencari rute seringkali kejam dan tak pandang bulu. GPS seakan mengansumsikan bahwa setiap mobil siap untuk diajak touring di segala medan serta sopir juga punya nyali yang nekat dan pemberani. Sebelumnya, saya pernah punya pengalaman buruk gara-gara si GPS ini. Gara-gara terlalu berharap sama GPS, waktu itu mobil kami disesatkan melalui ektrimnya alas tunggangan, Wonogiri, malam hari pula. Saya akan ceritakan di artikel lain. Sekarang kembali ke cerita tadi. Via GPS, saya menemukan rute alternatif yang lumayan panjang. Jika memaksa lewat jalur biasa, tentu bisa terjebak sampai tengah malam. 

Pukul 20.00, mobil kami lolos melewati pertigaan Karanglo setelah berjibaku macet 1 jam setengah (padahal hanya dari Masjid Sabilillah sampai Karanglo). Tak mau kena macet lagi, saya ambil kiri ke arah Kota Batu. Saya mencari pertigaan Tunjungtirto, kemudian belok kanan. Rute ini sering saya lewati sebagai jalan pintas menuju Bakso Matahari, Singosari. Jalanan ramai lancar hingga melalui depan Bakso Matahari. Sebelum lapangan singosari, langsung belok kiri arah Candi Sumberawan. Nah, sampai di perempatan, saya menemui keadaaan dilematis. Bisa saja saya belokkan mobil lewat depan Candi Singosari kemudian lurus hingga keluar di Pasar Singosari. Tapi sama saja, saya tetap menemui kemacetan hingga Pasar Lawang. Pilihan yang memungkinkan adalah lurus ke arah Candi Sumberawan, lalu keluar di Pasar Lawang. Resikonya rute yang dilalui sama sekali tidak saya tahu.     

Perkiraan Rute yang kami lewati
   
Akhirnya, saya nekat mencoba jalur baru yang disarankan GPS. Saya hanya berharap kali ini GPS sedikit berbaik hati untuk memilihkan jalan yang layak. Istri sudah protes sejak tadi namun saya tak bergeming. Saya hanya fokus bagaimana caranya bisa sampai rumah lebih cepat. Bukan tanpa alasan. Senin pagi, saya wajib menghadiri diklat penyuluh selama 6 hari penuh. Jika pulang kemalaman, khawatir paginya ngantuk berat. 

Alhamdulillah, di depan mobil kami ada beberapa mobil plat L yang mungkin senasip dengan kami. Toh mungkin niat mereka juga sama, mencari jalan alternatif. Paling tidak, kami punya teman untuk berjalan beriringan. Sialnya, baterai HP kami berdua hampir habis, sementara jarak masih jauh. Daripada GPS mati dan kami ikutan tersesat, akhirnya kami berhenti cukup lama di Indomaret.  Seingat saya, masih di daerah Singosari. Untung ada kabel data. Perjalanan berlanjut. 

Kami kehilangan jejak mobil-mobil plat L tadi. Perasaan mulai was-was. GPS mengarahkan kami sesuai dengan rute yang dikehendakinya. Jalanan yang tadinya dipenuhi rumah di kanan kiri, sekarang mulai sepi. Hanya satu dua kendaraan bermotor yang lewat. Di depan, aroma kegelapan mulai terasa. Kami lewati persawahan dan menerobos kabut tipis. Istri saya panik. Menyarankan saya agar putar balik menuju jalan besar. Saya berusaha menenangkan istri, mungkin sebentar lagi sampai jalan besar.       

Diujung jalan, terlihat secercah cahaya lampu. Firasat saya benar, kami tiba disebuah perkampungan. "Selamat Datang di Desa Bedali, Lawang", terpampang di gapura yang kami lewati. Ada ibu-ibu bergerombol di salah satu rumah. Saya berhenti untuk memastikan jalan. 

"Bu, numpang tanya, betul ini arah Surabaya?"
"Betul mas, sampean lurus aja, jalannya agak ndak enak, tapi aman kok. Dari tadi banyak mobil-mobil yang lewat sini", jawab salah seorang ibu. 
"Tapi bu, kok gelap banget itu jalanan di depan?"
"Gak papa mas, kalau sampean takut, tunggu aja disini, nyari barengan mobil."
"Ya sudah bu, matur nuwun".

Saya sedikit lebih tenang dan melanjutkan perjalanan lagi. Saya sengaja ndak menunggu mobil lain biar dikira buka orang penakut. Padahal aslinya, penakut banget. Saat itu, kondisi jalan masih agak bersahabat walau banyak aspal mengelupas. 

"Mas berhenti, ini jalanan apa sih, ayuk putar balik saja". Istri saya ketakutan kala menemui kondisi jalan tanpa aspal sama sekali. Jalan makadam seperti itu biasanya jalan menuju ke sawah atau bahkan ke pemakaman umum. "Tapi kita hampir sampai kok, tuh sedikit lagi.", saya berusaha menghibur biar tak semakin panik. Sebenarnya saya juga takut, tapi saya sembunyikan rapat-rapat. 

"Ndak papa mas, lurus saja", ada ibu-ibu yang berteriak dari belakang mobil saya. 
"Itu kok gelap banget ndak ada rumah sama sekali, bu?" Saya mulai ragu. 
"Aman kok mas, memang jalanannya rusak, memang harus lewat situ, kalau muter ya jauh lewat singosari lagi".

Istri saya menangis kesenggukan. Saya minta dia lebih baik tidur saja dengan tenang. Tapi tentu dia tidak bisa. Siapa yang bisa tidur kala menghadapi situasi mencekam macam itu. 

Ya, sudah. Bismillah. Saya ngegas pelan-pelan melewati rimbunan pohon bambu dengan jalanan yang bikin penumpang terguncang hebat. Istri makin histeris. Untungnya dia masih bisa mengucapkan lafadz-lafadz thoyyibah dengan fasih. 

Kali ini kami benar-benar sendirian di kegelapan malam. Saya hanya takut kalau ban mobil bocor atau mobil mogok. Tidak ada lampu lain yang menerangi selain sorot lampu mobil. Kanan kiri hanya ada rerimpunan pohon lebat dan semak belukar. Saya tak ingin memperparah keadaan dengan ikutan nangis seperi istri. Saya hanya fokus. Fokus mengikuti GPS agar segera keluar dari jalanan seram itu. Melihat plang "Alternatif Surabaya", hati saya sedikit lega. Berarti kami tak salah jalan. 

Saya bertanya-tanya, kenapa pemerintah Kab. Malang membiarkan jalan alternatif ini terbengkalai? Jika benar-benar niat menjadikannya jalan alternatif, harusnya diaspal yang bagus. Toh, tidak sepanjang yang dibayangkan kan? 

Setelah melewati jalan makadam yang menyiksa. Kami melalui jalanan yang masih gelap gulita. Bedanya, jalan baru ini sudah ada dua lajur dengan pembatas di bagian tengah. Mirip jalanan di lingkungan perumahan. Anehnya, aspalnya juga rusak parah hingga hampir menjadi makadam. Saya menganggap, jalan ini dulunya bagus, terus kena banjir bandang. Hehe. Semoga saya salah. 

Di depan, kami melihat lampu rumah bertebaran. Tak henti-hentinya kami mengucapkan syukur. Seakan-akan kami telah keluar dari alam gaib yang tak berpenghuni. Aspal kembali mulus ketika mendekati Pasar Lawang. 

Ternyata, GPS memilihkan jalan tembus ke pos polisi Pasar Lawang. Alhamdulillah, tumben si GPS ini baik hati. Yang bikin sakit hati adalah, saat itu Pasar Lawang tidak lagi dalam kondisi macet. Benar-benar menyebalkan. Tahu gini, mending kami lewat jalan yang benar saja. 

Mojosari, 19 Juli 2018 

Posting Komentar untuk "Berharap Bebas Macet, Jalur Alternatif Malang-Surabaya Ini Malah Bikin Histeris"