Terbukti Sehat Jiwa Setelah Jawab 567 Soal Kejiwaan
Pagi hari setengah siang, suasana RSUD Sidoarjo penuh sesak oleh pasien dan keluarganya yang mengantarkan berobat maupun mengurus administrasi rumah sakit. Maklum, rumah sakit ini menjadi rumah sakit terbesar milik pemerintah di Kabupaten Sidoarjo. RSUD Sidoarjo menjadi rumah sakit pilihan saya berikutnya setelah RSUD Prof. Dr. Soekandar Mojosari tidak dapat melayani permohonan surat keterangan sehat rohani. Sehingga, saya hanya mengajukan surat keterangan sehat jasmani dan bebas narkoba saja.
SK sehat jasmani, rohani maupun bebas narkoba wajib saya dapatkan sebagai syarat mengajukan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) untuk dosen tetap. Pilihan untuk mendapatkan SK sehat rohani saya labuhkan di RSUD Sidoarjo setelah mencari informasi di beberapa artikel yang merekomendasikan rumah sakit ini. Sebenarnya ada banyak rumah sakit di Surabaya yang dapat mengeluarkan SK sehat rohani, namun jika ada rumah sakit yang lebih dekat mengapa memilih yang jauh. Saya juga amat menyayangkan mengapa RSUD di kabupaten tempat saya tinggal tidak dapat mengeluarkan surat ini. Mungkin kekurangan dokter ahli jiwa.
Sekitar pukul 10 pagi, saya diminta mendaftarkan diri dulu di salah satu loket untuk dibuatkan kartu rumah sakit dan mendaftar di poli psikiatri. Kuncinya harus ektra sabar karena pasien yang mendaftar jumlahnya membludak. Meskipun waktu itu kondisi badan saya sehat, namun melihat begitu banyaknya antrian orang sakit, rasanya badan sehat saya ikutan sakit. Biaya awal yang dikenakan untuk pembuatan kartu dan pendaftaran poli psikiatri adalah Rp 40.000. Bisa jadi biaya ini tidak sama jika dilakukan di rumah sakit yang lain.
Oleh pegawai di loket, saya diminta menuju ke poli psikiatri. Poli ini memang khusus dijadikan rujukan oleh pasien yang mengeluhkan gangguan kejiwaan mereka. Gangguan kejiwaan bukan berarti pasien yang ada disana semua orang gila. Dari beberapa pasien yang saya temui di antrian poli, ada dari mereka yang hanya meminta surat sehat jiwa seperti saya atau mengeluhkan putrinya yang suka bicara sendiri. Atau bahkan ada pasien yang mengeluhkan ada bisikan gaib yang sering muncul di telinga, mengeluh susah tidur, dihantui rasa cemas, dll.
Antrian di poli psikiatri sangat lama. Bagaimana tidak, setiap pasien yang mengeluhkan gangguan kejiwaan tadi harus melewati serangkaian wawancara dengan dokter yang hanya seorang diri. Satu setengah jam kemudian, akhirnya nama saya dipanggil. Saya masuk menemui asisten dokter yang memanggil tadi. "Mohon maaf pak, di RSUD ini hanya melayani permohonan surat sehat jiwa bukan surat sehat rohani, bagaimana?", asisten dokter bertanya untuk memastikan. Sebenarnya saya juga agak bingung. Apakah surat sehat jiwa berbeda dengan surat sehat rohani? Saya mengontak salah satu pegawai kampus saya, ternyata tidak masalah. Oke, saya menyetujui untuk membuat surat sehat jiwa bukan surat sehat rohani lagi. "Silakan bapak tulis sesuai dengan contoh ya pak, tulisan tangan saja.", kata asisten dokter ramah. Beliau menanyakan alamat saya dan keperluan surat ini untuk apa. Kemudian beliau meminta untuk membuat permohonan surat sehat jiwa ditulis tangan dan ditandatangani. Setelah itu, diminta menunggu panggilan lagi untuk tes di salah satu ruangan poli psikiatri.
Sekitar pukul 12.00 siang, saya bersama 3 orang lainnya masuk ke ruangan poli untuk tes kejiwaan. Dokter berhak untuk tidak menandatangai surat sehat jiwa jika terbukti peserta tes tidak sehat jiwanya. Saya malah ketakutan sendiri, takut jika selama ini saya mengidap gangguan kejiwaan meskipun istri saya terus meyakinkan saya bahwa dia tidak menikahi suami yang gila.
Sebelum tes, asisten dokter memberikan kertas jawaban dan buku tebal kumpulan soal tes kejiwaan. Beliau juga memberikan pengarahan singkat agar peserta tes tidak salah paham dalam menjawab soal. Hal ini diperlukan karena memang pilihan jawaban hanya ada 2, Ya atau Tidak. Saya terkejut mendapati jumlah soal dalam buku. Tidak main-main, ada 567 butir soal dengan durasi maksimal pengerjaan adalah 2 jam. Meskipun jawabannya hanya Ya dan Tidak, asisten dokter berpesan agar dijawab dengan jujur dan hati-hati agar analisis dokter tentang kejiwaan peserta dinyatakan valid.
Di ruangan poli psikiatri, saya cukup terganggu dengan suasana yang tidak kondusif. Terutama ketika dokter mewawancarai pasien kejiwaan. Para pasein memang bukan pasien sembarangan. Jiwa pasien sakit umumnya berbadan lesu dan lemas, akan tetapi para pasien di poli psikiatri kebanyakan berjasmani sehat. Bahkan bisa berkata kasar maupun ngotot ketika membantah pertanyaan dokter. Contohnya pasien yang satu ruang dengan kami di poli psikiatri. Salah satu pasien yang diwawancara dokter ngotot bahwa dirinya baik-baik saja. Bahkan menyalahkan bapaknya yang tega menyeretnya ke poli psikiatri. Namun bapaknya membantah dan memarahinya, dia meminta dokter untuk mengobati jiwa anaknya yang dirasa cukup parah. Bapaknya bercerita bahwa dia sering mendapati anaknya ngomong sendiri sepanjang hari. Ngomong dengan tembok, ngomong sambil liat HP, bahkan ngomong sendiri dengan tatapan mata kosong. "Aku ngunu iku gak ngomong dewe pak, aku iku sedang berdoa", bantah sang pasien. "Bohong bu dokter, saya liat sendiri dia ngomong sendiri , katanya ada yang membisiki dia, terbukti sekarang dia suka ndak nyambung jika diajak ngobrol", bapak pasien menjelaskan dengan cukup emosi. Dokter hanya tersenyum mengawasi perang mulut antara bapak dan anaknya.
Pukul 12.15, kami para peserta tes akhirnya dipindah di ruangan lain yang lebih kondusif. Pukul 13.15, akhirnya seluruh soal berhasil saya jawab. Saya akui pertanyaannya memang mudah, seputar kejadian dalam kehidupan sehari-hari, namun badan terasa pegal juga karena karena harus fokus. Memang setiap soal harus dijawab dengan jujur, jika ngawur dan asal menjawab, takutnya malah kita terkena diagnosa gejala kejiwaan. Ternyata, surat sehat jiwa tidak dapat diambil saat itu juga. Namun baru boleh diambil seminggu kemudian. Sekalian ada tes wawancara dengan psikiater.
Sekitar pukul 10 pagi, saya diminta mendaftarkan diri dulu di salah satu loket untuk dibuatkan kartu rumah sakit dan mendaftar di poli psikiatri. Kuncinya harus ektra sabar karena pasien yang mendaftar jumlahnya membludak. Meskipun waktu itu kondisi badan saya sehat, namun melihat begitu banyaknya antrian orang sakit, rasanya badan sehat saya ikutan sakit. Biaya awal yang dikenakan untuk pembuatan kartu dan pendaftaran poli psikiatri adalah Rp 40.000. Bisa jadi biaya ini tidak sama jika dilakukan di rumah sakit yang lain.
Oleh pegawai di loket, saya diminta menuju ke poli psikiatri. Poli ini memang khusus dijadikan rujukan oleh pasien yang mengeluhkan gangguan kejiwaan mereka. Gangguan kejiwaan bukan berarti pasien yang ada disana semua orang gila. Dari beberapa pasien yang saya temui di antrian poli, ada dari mereka yang hanya meminta surat sehat jiwa seperti saya atau mengeluhkan putrinya yang suka bicara sendiri. Atau bahkan ada pasien yang mengeluhkan ada bisikan gaib yang sering muncul di telinga, mengeluh susah tidur, dihantui rasa cemas, dll.
Antrian di poli psikiatri sangat lama. Bagaimana tidak, setiap pasien yang mengeluhkan gangguan kejiwaan tadi harus melewati serangkaian wawancara dengan dokter yang hanya seorang diri. Satu setengah jam kemudian, akhirnya nama saya dipanggil. Saya masuk menemui asisten dokter yang memanggil tadi. "Mohon maaf pak, di RSUD ini hanya melayani permohonan surat sehat jiwa bukan surat sehat rohani, bagaimana?", asisten dokter bertanya untuk memastikan. Sebenarnya saya juga agak bingung. Apakah surat sehat jiwa berbeda dengan surat sehat rohani? Saya mengontak salah satu pegawai kampus saya, ternyata tidak masalah. Oke, saya menyetujui untuk membuat surat sehat jiwa bukan surat sehat rohani lagi. "Silakan bapak tulis sesuai dengan contoh ya pak, tulisan tangan saja.", kata asisten dokter ramah. Beliau menanyakan alamat saya dan keperluan surat ini untuk apa. Kemudian beliau meminta untuk membuat permohonan surat sehat jiwa ditulis tangan dan ditandatangani. Setelah itu, diminta menunggu panggilan lagi untuk tes di salah satu ruangan poli psikiatri.
Sekitar pukul 12.00 siang, saya bersama 3 orang lainnya masuk ke ruangan poli untuk tes kejiwaan. Dokter berhak untuk tidak menandatangai surat sehat jiwa jika terbukti peserta tes tidak sehat jiwanya. Saya malah ketakutan sendiri, takut jika selama ini saya mengidap gangguan kejiwaan meskipun istri saya terus meyakinkan saya bahwa dia tidak menikahi suami yang gila.
Sebelum tes, asisten dokter memberikan kertas jawaban dan buku tebal kumpulan soal tes kejiwaan. Beliau juga memberikan pengarahan singkat agar peserta tes tidak salah paham dalam menjawab soal. Hal ini diperlukan karena memang pilihan jawaban hanya ada 2, Ya atau Tidak. Saya terkejut mendapati jumlah soal dalam buku. Tidak main-main, ada 567 butir soal dengan durasi maksimal pengerjaan adalah 2 jam. Meskipun jawabannya hanya Ya dan Tidak, asisten dokter berpesan agar dijawab dengan jujur dan hati-hati agar analisis dokter tentang kejiwaan peserta dinyatakan valid.
Di ruangan poli psikiatri, saya cukup terganggu dengan suasana yang tidak kondusif. Terutama ketika dokter mewawancarai pasien kejiwaan. Para pasein memang bukan pasien sembarangan. Jiwa pasien sakit umumnya berbadan lesu dan lemas, akan tetapi para pasien di poli psikiatri kebanyakan berjasmani sehat. Bahkan bisa berkata kasar maupun ngotot ketika membantah pertanyaan dokter. Contohnya pasien yang satu ruang dengan kami di poli psikiatri. Salah satu pasien yang diwawancara dokter ngotot bahwa dirinya baik-baik saja. Bahkan menyalahkan bapaknya yang tega menyeretnya ke poli psikiatri. Namun bapaknya membantah dan memarahinya, dia meminta dokter untuk mengobati jiwa anaknya yang dirasa cukup parah. Bapaknya bercerita bahwa dia sering mendapati anaknya ngomong sendiri sepanjang hari. Ngomong dengan tembok, ngomong sambil liat HP, bahkan ngomong sendiri dengan tatapan mata kosong. "Aku ngunu iku gak ngomong dewe pak, aku iku sedang berdoa", bantah sang pasien. "Bohong bu dokter, saya liat sendiri dia ngomong sendiri , katanya ada yang membisiki dia, terbukti sekarang dia suka ndak nyambung jika diajak ngobrol", bapak pasien menjelaskan dengan cukup emosi. Dokter hanya tersenyum mengawasi perang mulut antara bapak dan anaknya.
Pukul 12.15, kami para peserta tes akhirnya dipindah di ruangan lain yang lebih kondusif. Pukul 13.15, akhirnya seluruh soal berhasil saya jawab. Saya akui pertanyaannya memang mudah, seputar kejadian dalam kehidupan sehari-hari, namun badan terasa pegal juga karena karena harus fokus. Memang setiap soal harus dijawab dengan jujur, jika ngawur dan asal menjawab, takutnya malah kita terkena diagnosa gejala kejiwaan. Ternyata, surat sehat jiwa tidak dapat diambil saat itu juga. Namun baru boleh diambil seminggu kemudian. Sekalian ada tes wawancara dengan psikiater.
Tepat seminggu kemudian, saya kembali hadir di poli psikiatri RSUD Sidoarjo. Beruntung, karena pasien tidak banyak. Saya dipanggil masuk dan duduk berhadapan dengan dokter Liana. Beliau ternyata ramah sekali. Berbeda dengan cerita yang saya baca di salah satu blog yang menyatakan psikiater pewawancara terkesan galak. Beliau bertanya keperluan yang mendasari pembuatan SK sehat jiwa. Saya bercerita terus terang, untuk persyaratan NIDN dosen. "Oh, bapak seorang dosen ya, pantas, hasil tes kejiwaannya bagus." kata dokter sambil tersenyum. Saya mengucapkan terima kasih atas hasil tesnya. Dalam hati saya bersyukur. Alhamdulillah, mahasiswa saya tidak diajar oleh dosen gila. Bu dokter melanjutkan, "bapak ini sosok yang berintegritas, namun agak cemas.", "cemas kenapa dok?", tanya saya kaget. "Mungkin adalah masalah yang membuat bapak cemas, namun saya yakin bapak bisa mengatasi kecemasan itu". Bu dokter kemudian membuatkan SK sehat jiwa dan menandatanginya. "Semoga sukses ya pak". Saya berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada dokter liana dan bu asisten.
Saya kembali terfikirkan oleh ucapan dokter yang mengatakan saya sedang cemas. Padahal saya tidak merasakan cemas. Mungkin cemas yang dimaksud adalah cemas bahagia yang berlebihan. Saya bahagia berlebihan karena baru saja menikah. Hehehe...

Mantap
BalasHapusberapa biaya mengurus surat Kesehatan Jasmani, Rohani dan Bebas Narkotika disana pak ?
BalasHapusKisaran 300 ribu pak
Hapus