Ketika Jemaah Satu Masjid Ragu Ingatkan Imam Lupa Rakaat
Iqomat telah berkumandang di Masjid Al-Mu'thi beberapa menit yang lalu, penanda sholat maghrib sedang dilaksanakan. Bersama istri, saya berjalan cepat melewati jalan pintas melalui kebun belakang rumah tetangga. Sesampainya di masjid, ternyata kami telat dan sang imam sedang membaca Al-Fatihah untuk rakaat sholat yang kedua.
![]() |
| Ilustrasi Shalat Berjamaah |
Saya segera takbir dan ikut berjamaah sebagai makmum yang masbuk. Pada akhir rakaat kedua, seharusnya imam dalam posisi kaki tasyahhud awal. Pun dengan makmum masbuk macam saya, mengikuti imam dalam posisi tasyahhud awal, untuk kemudian berdiri lagi untuk melaksanakan rakaat terakhir bagi sang imam. Karena duduk di shaf paling belakang, saya tidak memperhatikan posisi tasyahhud imam. Tiba-tiba terdengan suara salam dari imam. "Assalamualaikum warahmatullah.......", dan anehnya diikuti oleh seluruh makmum masjid. Untuk ukuran masjid besar di kampung, tentu jumlah jamaah saat itu cukup banyak. Mungkin sekitar hamir 50 orang, baik jamaah laki-laki maupun wanita. Sebagai salah satu makmum, ingin rasanya saya mengingatkan sang imam. Namun apa daya, saya malah ragu, terbersit pikiran dalam hati, "Apakah mungkin saya yang salah atau imam yang benar-benar salah". Mengingat, jika menyebut "subhanallah" sendirian untuk mengingatkan imam, dan ternyata saya yang salah, tentu malu sendiri. Jika ada satu jamaah menyebut subhanallah, pastilah bakal saya bantu menyebut subhanallah juga.
Saya berdiri untuk melanjutkan sisa rakaat shalat. Biasanya, terdengar suara dzikir berjamaah setelah sholat, namun suasana mendadak hening. Jamaah pada shaf paling depan saling pandang dan bertanya-tanya apakah rakaat sholat kurang satu. "Cak, kok perasaan kurang satu ya rakaatnya, atau saya yang bingung", tanya salah satu jamaah kepada jamaah lain di sampingnya. "Tadi saya ingin mengingatkan imam, tapi ragu, jangan-jangan saya yang salah", imbuh jamaah lain.
Tahu ada sedikit keributan, sang imam yang tadinya berdzikir sendirian segera menoleh ke belakang. "Ada apa ini?" tanya imam penasaran. "Sampean salah rakaat, harusnya kurang satu, masa maghrib 2 rakaat." seloroh jamaah lain. "Kenapa tidak diingatkan, masa satu masjid diam semua?" tanya pak imam keheranan. "Nah, masalahnya kami juga ragu, pak imam. Imamnya yang salah atau saya yang bingung." jawab salah satu jamaah. "Masa satu masjid bingung semua makmumnya? Ya sudah, karena sudah terlanjur keliru dan imam diingatkan setelah shalat selesai, maka shalat tadi dianggap batal. Mohon maaf karena memang imam manusia biasa dan bisa saja keliru. Mari mengulang shalat maghrib kembali." Pak imam segera mengkode jamaah berdiri kembali.
Saya yang dari tadi shalat sendirian dan mendengarkan keributan itu, segera mempercepat shalat dan akhirnya dapat bergabung untuk shalat maghrib lagi untuk kedua kalinya. Yang tadinya menjadi makmum masbuk akhirnya ikut shalat dari awal lagi bersama imam dan jamaah lain yang mengulang shalatnya.
Imam memang manusia biasa yang bisa saja salah atau lupa, sebenarnya tugas makmum adalah mengawal imam. Jika salah atau lupa, tentu dingatkan. Bagaimana jadinya jika satu masjid ragu mengingatkan? Tentu berakhir seperti kisah diatas. Shalatnya harus diulang karena shalat bertama dianggap tidak sah. Jadi, menjadi makmum harus selalu awas dan jangan malah melamun.

Posting Komentar untuk "Ketika Jemaah Satu Masjid Ragu Ingatkan Imam Lupa Rakaat"