Sudah Sarjana, Lalu Mau Apa?
Hari Minggu lalu tentu menjadi momentum yang penuh kebahagiaan bagi sebagian kawan-kawan saya di kampus (Uin Maliki Malang). Ya, penantian panjang mereka akhirnya terbayar lunas. Wisuda, atau sering di-pleset-kan menjadi wis udah, membuat mereka bersorak sorai riang gembira menikmati hari pertamanya kala resmi menyandang gelar sarjana. Memakai baju toga yang gagah dan kece abis, didampingi keluarga tercinta, berfoto penuh gaya dengan sahabat setia. Ah, rasanya memang hari wisuda layak dijadikan sebagai salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup. Hari itu seakan selesai sudah tugas berat menjadi mahasiswa yang telah ditempuh setidaknya 4 tahun lamanya, atau bahkan lebih. Menguras tenaga, fikiran, materi, emosi, dan masih banyak lagi. Sungguh, menjadi seorang sarjana merupakan perjuangan yang tidak mudah, bahkan tidak semua orang bisa. Guyonan teman-teman saya dulu, "kuliah itu, masuk sulit, keluar sulit". Mungkin ada benarnya. Alhamdulillah, sarjana yang dinantikan itu, kini telah tiba. Bahagia sekali. Saya tidak bohong, setidaknya saya pun pernah merasakan hal serupa.
Namun sayangnya, hari yang membahagiakan itu hanya berjalan sesaat. Ya, percayalah, hanya sesaat. Setidaknya tepat saat acara wisuda saja. Atau paling tidak hingga beberapa hari kemudian, kita masih bisa menyaksikan foto-foto teman pakai toga masih bertebaran di media sosial. Lambat laun, hari demi hari ternyata berjalan amat cepat. Tanpa terasa, prosesi wisuda yang seakan baru kemarin kita alami ternyata sudah jauh menapaki sejarahnya. Tidak hanya itu, kita yang telah diwisuda ternyata juga ikut menapaki sejarah kehidupan baru. Benar-benar baru. Kehidupan baru yang kadang membuat kita terasing. Kehidupan baru ini sulit kita temui di mata kuliah apapun. Kehidupan apa itu? Tidak usah diperjelas, cukup membatin saja dalam hati.
![]() |
| Sarjana Muda |
Tak bisa dipungkiri, menjadi sarjana adalah sebuah kebanggaan. Apalagi ketika mendapatkan titel sarjana yang menggambarkan pendidikan tinggi kita. Bangga sekali. Namun jangan salah, sepertinya saat ini titel sarjana bukan lagi jaminan untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Serius. Agak miris saya membaca surat kabar yang mengatakan banyaknya sarjana yang sekarang menjadi pengangguran. Ya, pengangguran. Sungguh kenyataan yang tak terbayangkan bagi mereka para sarjana. Hanya dengan modal ijazah yang menyertai kelulusan para sarjana, mereka harus bersaing mencari kerja dengan puluhan ribu sarjana baru lainnya. Sementara kenyataan mengatakan bahwa stok lapangan pekerjaan amat terbatas.
Entah darimana stigma itu berasal, bahwa sarjana identik dengan para pencari kerja. Tentu jika semua sarjana atau paling tidak sebagian besar sarjana mencari pekerjaan, jelas harus ada sarjana yang tersingkir dari kompetisi itu. Mengandalkan ijazahnya untuk mencari pekerjaan tidak selalu menjadi pilihan tepat, walaupun tidak ada salahnya jika dicoba. Toh, memang kenyataannya banyak yang seperti itu.
Jika saya boleh berpendapat, mungkin saja para sarjana tidak akan bingung harus melangkah kemana jika saja skill keilmuan yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan terasah dengan baik. Bahkan tanpa bangku kuliah pun, jika seseorang mau belajar mengasah skill secara otodidak, pastinya akan terasah juga. Buktinya banyak teman-teman saya yang bahkan tidak membutuhkan ijazah sarjananya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Memang karena memiliki skill yang mumpuni di bidangnya. Bukan berarti membuat peran ijazah jadi tidak penting. Tetap pentinglah, terutama sebagai syarat administratif.
Salah satu golongan para sarjana yang langka adalah sarjana yang berani untuk tidak mengandalkan ijazahnya dalam merintis masa depan. Sarjana ini adalah sarjana wirausahawan. Saya akui, mereka sangat berani, padahal tidak ada jaminan pasti berhasil. Namun, usaha tidak akan mengkhianati proses, mereka yang berjuang dijalan ini benar-benar berani untuk hidup dalam perjuangan. Banyak susahnya, namun jika berhasil banyak nikmatnya. Ada banyak teman saya yang sudah sukses merintis usaha, ada yang sedang galau bagaimana merintis usaha, ada yang tengah sempoyongan memikirkan bagaimana usaha dapat tetap berjalan. Andaikan sebagian besar para sarjana memikili semangat untuk berwirausaha, tentu galau pemerintah sedikit terkurangi, media massa juga tidak heboh dengan pemberitaan banyaknya sarjana menganggur. Sarjana yang enterpreneur-oriented adalah para sarjana pilihan. Mereka begitu membanggakan. Angkat topi untuk sarjana yang berjuang dijalan ini. Semoga saya bisa belajar banyak dari mereka.
Selain itu, ada juga sarjana yang masih istiqomah pada rel keilmuan, mungkin saya salah satunya. Saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi setelah menjadi sarjana. Mungkin suatu saat, ketika kembali lulus dari jenjang yang tinggi ini, saya juga akan dihadapkan dengan pilihan sulit mau kemana. Yang jelas, dengan bekal pendidikan yang lebih tinggi harapan untuk memilih tempat pengabdian menjadi lebih lebar. Kepada sarjana yang setia di jalan keilmuan, tetaplah istiqomah. Ingatlah bahwa mereka yang berilmu tidak akan menjadi miskin. Insya Allah.
Baiklah, sekarang, jika kalian sudah menjadi sarjana, tentukan kalian mau melangkah kemana? Jangan sia-siakan masa muda dengan hal-hal yang tidak berguna. Semoga kita tetap istiqomah menjadi sarjana yang bermanfaat bagi umat. Karena kesuksesan itu bukan ketika kita memiliki titel akademik yang berjejer, melainkan ketika mampu menebarkan manfaat. Itu saja.
Mojosari, 24 Mei 2017

Posting Komentar untuk "Sudah Sarjana, Lalu Mau Apa?"