Megengan, Tradisi Kampung Kami Menyambut Ramadhan
Adzan maghrib berkumandang merdu di Masjid Al-Mu'thi, menandai hari yang hampir berganti malam. Terlihat masyarakat kampung berbondong-bondong menuju masjid membawa asahan mereka masing-masing. Apakah asing dengan kata asahan? Kami mengenal asahan sebagai makanan dalam wadah nampan yang dibawa untuk kenduri. Hari ini, Kamis dan Jumat besok terasa cukup spesial bagi masyarakat kampung kami yang masih mengikut trasidi jawa yang kental. Di penghujung Bulan Sya'ban ini, masyarakat kampung kami biasa mengadakan kenduri bersama di masjid, kami mengenalnya sebagai tradisi megengan. Ya, tidak hanya kampung kami saja yang mengadakan megengan, kampung-kampung lain di daerah kami kompak melakukan hal yang sama.
![]() |
| Kenduri Megengan |
Meski saya orang jawa asli, kadang saya juga kurang faham arti megengan itu apa. Maklumlah, saya ini orang jawa yang gak seberapa jawa. Intinya, memang tradisi megengan ini hanya ada menjelang datangnya Bulan Ramadhan. Beberapa literatur yang saya baca menyebutkan bahwa megengan itu berarti menahan. Ketika diartikan sebagai tradisi penyambutan ramadhan, menahan yang dimaksudkan adalah menahan segala sesuatu yang pastinya dapat membatalkan puasa yang sebentar lagi dilakukan. Tak hanya itu, dalam arti luas, menahan disini adalah menahan segala nafsu yang secara naluri pasti dimiliki manusia. Baik nafsu makan, nafsu amarah, dsb.
Tradisi jawa selalu mengandung makna filosofi yang dalam, ini yang membuat saya tertarik untuk menghayatinya. Semua tradisi jangan langsung divonis bersalah secara kacamata syariat. Coba hayati substansinya bagaimana. Jika dilihat hanya kulit luarnya saja, wajar jika langsung disalah-salahkan. Salah satu tradisi kearifan lokal yang patut dilestarikan adalah tradisi bernama megengan ini. Saya amati, lambat laun banyak masyarakat mulai meninggalkannya, terutama masyarakat perkotaan. Lain halnya dengan di kampung, tampak aneh jika ada masyarakat yang tidak mengikutinya.
Kegiatan megengan di kampung kami isinya tak neko-neko, jauh dari sifat kemaksiatan. Tak lain adalah doa bersama dan tasyakuran. Doa bersama untuk mendoakan mereka yang telah wafat dan berdoa untuk kebaikan bersama, semoga ramadhan tahun ini lebih baik dan lebih produktif dalam beramal saleh. Lantas, diakhiri dengan makan bersama. Lho, apa yang dimakan? Tentu yang dimakan adalah asahan yang kami bawa tadi. Dengan begini, suasana keakraban masyarakat kampung begitu terasa. Enak to, masyarakat hidup nyaman, tenang, perut pun kenyang. Alhamdulillah. Marhaban ya Ramadhan.
Mojosari, 25 Mei 2017

Posting Komentar untuk "Megengan, Tradisi Kampung Kami Menyambut Ramadhan"