Tamu Misterius, Ada Suara Tanpa Rupa
Sore itu, kira-kira pukul 16.30, kebetulan memang saya lagi bersantai membaca buku di kamar tidur. Saya anggap kedua orang tua saya saat itu sedang keluar karena tak saya dengar suara siapapun di dalam rumah. Asyik membaca buku, sayup-sayup saya mendengar suara wanita paruh baya memanggil dari ujung pintu rumah. Walaupun pelan, namun tetap bisa saya dengar dengan jelas. Saya tak segera beranjak, menyempatkan membaca beberapa kalimat lagi hingga akhir paragraf. Tak terbersit hal-hal aneh di benak saya selain hanya menyangka bahwa suara itu pasti suara tamu yang ingin menemui orang tua, sebagaimana biasanya.
"Kulo nuwun", wanita itu masih mengucapkan kata yang sama. Namun kini terdengar lebih jelas. Segera saya beranjak dari tempat tidur dan melangkah agak terburu-buru menuju ruang tamu. Melihat tak ada seorang pun berdiri di pintu rumah, saya menyangka tamu tersebut mungkin sedang duduk di teras menanti penghuni rumah keluar.
"Lho, ndak keluar sama ibu, Pak?" Saya kaget melihat bapak sedang duduk santai di teras rumah. "Dari tadi ya disini", bapak menimpali santai. "Lah, tadi ada suara wanita ngomong 'kulo nuwun' sekarang kemana?", tanya saya penasaran. "Kamu gimana sih, saya dari tadi disini ya tidak ada siapa-siapa, wanita siapa yang kau maksud?" , "Ndak ada tamu berarti?", tanya saya setengah tak percaya. "Kalau ada tamu, pastinya ya ndak usah manggil-manggil orang dalam rumah, kan saya ada disini sejak tadi", sanggah bapak meyakinkan. "Lah yang ngomong 'kulo nuwun' tadi siapa?". Kami terdiam kebingungan.
![]() |
| Rumah saya dengan kebun lebat terlihat disisi kiri rumah (Foto Tahun 2009) |
Suara Misterius di Ujung Pintu
Kejadian ada suara misterius yang memanggil-manggil penghuni rumah tidak hanya terjadi sekali. Entah sudah berapa puluh kali saya dengar. Tak hanya saya, bahkan ibu dan bapak pun sering mengalami hal serupa. Jika ditanya sejak kapan ada suara misterius itu? Saya tidak bisa memastikan kapan, yang pasti sudah sejak dulu sekali. Jika terjadi hanya sekali dua kali, mungkin saya anggap wajar. Barangkali saya yang berhalusinasi, lagi kecapekan atau salah dengar. Tapi kenyataannya tidak. Frekuensi datangnya suara misterius itu terbilang cukup sering walau tak datang setiap hari. Waktu kedatangannya pun beragam, kadang terdengar pagi, siang, sore bahkan malam.
Baik saya, ayah dan ibu seringkali mendengar suara misterius itu datang dari pintu depan rumah. Lebih mirip suara tamu. Walau demikian, kami pun tetap berprasangka baik dengan selalu mendatangi sumber suara di ruang tamu. Jika memang ada tamu sungguhan, berarti suara itu suara orang asli, namun jika tak mendapati seorang pun, berarti suara itu suara tamu misterius yang tak kasat mata.
Apakah kami takut? Tentu tidak. Kan hanya suara. Mungkin jika ditampakkan wujud aslinya, bolehlah kami takut. hehehe. Pada hakikatnya, kami pun percaya ada hal-hal gaib yang hidup berdampingan bersama manusia. Terutama hal gaib yang berkaitan dengan makhluk metafisik seperti jin. Tentu dengan dimensi kehidupan yang berbeda. Oleh karenanya, bukan soal takut yang kami pikirkan, melainka lebih kepada masalah terganggu oleh ketidakpastian. Seringkali kami menyangka suara tamu yang sebelumnya kami anggap hanya suara misterius ternyata malah tamu betulan. Sering juga kami tergopoh-gopoh ke ke ruang tamu dan terlanjur membukakan pintu ternyata hanya suara tanpa rupa, tak kami temui seorang pun di ujung pintu.
Satu hal lagi yang lebih aneh, seringkali suara misterius itu menyerupai suara tetangga rumah ataupun suara saudara saya yang tinggal jauh dari rumah. Saya sampai hafal dengan kata-kata yang biasa diucapkan oleh suara misterius itu. Kadang menyebut nama saya, "Haris....", menyebut nama ibu saya, "Mbak Nurul.....", menguluk salam, "Assalamualaikum...", atau yang terbaru, "Kulo Nuwun........".
Jalan Gaib Melewati Rumah
Ketika guru spiritual saya, Ustadz Bayu yang tinggal di Malang mampir di rumah saya, pernah orang tua saya mengeluhkan adanya suara misterius itu kepada beliau. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang normal, kami berharap beliau dapat menjelaskan apa suara itu benar-benar memang suara jin yang ingin mengganggu penghuni rumah atau punya maksud lain.
Beliau tak langsung menjawab, melainkan mengajak saya untuk menyusuri rumah dari ujung depan hingga ujung paling belakang, bahkan hingga menyusuri rimbunan pohon bambu di belakang rumah. Dengan lugas, beliau menjelaskan bahwa tanpa sepengetahuan orang normal sesungguhnya rumah saya dilewati oleh jalan gaib yang tak kasat mata, berada di dimensi lain, di alam jin. Jalan itu sudah ada jauh sebelum rumah saya berdiri. Jalan itu memanjang dari ujung utara dusun saya (sebelah masjid Al-Mu'thi) hingga ke selatan, dan kebetulan tepat melewati rumah saya. Lebih rinci, jalan gaib itu berada tepat di pintu masuk rumah dan memanjang hingga pintu belakang rumah. Setelah itu, jalan gaib berhenti di ujung tenggara rumah, persisnya di rimbunan pohon bambu yang lebat itu. Beliau melihat di rimbunan bambu itu ada pemukiman makhluk astral.
Labih jauh, beliau menjelaskan, hubungannya apa antara jalan gaib dengan suara misterius itu. Sebagaimana jalan lain pada umumnya, tentu setiap saat dilewati oleh pengguna jalan, pun dengan jalan gaib yang melewati rumah saya tadi. Setiap saat juga dilewati makhluk-makhluk metafisik. Nah, disinilah sisi menariknya, ternyata ada beberapa dari makhluk gaib itu yang berusaha izin kepada kami sang pemilik rumah untuk melewati jalan gaib yang mengharuskan masuk dalam rumah. Mereka sama sekali tidak berniat mengganggu, bahkan niatnya baik untuk meminta izin masuk rumah. Sehingga suara misterius itu tak perlu dirisaukan.
Mengenai kebenaran cerita beliau, wallahu a'lam, karena alam gaib tidak akan bisa dinalar oleh kekuatan akal manusia normal seperti saya. Maka, saya lebih percaya dengan beliau yang mengerti masalah itu. Jika memang hakikat mahluk gaib itu meminta izin masuk rumah, insya Allah kami akan selalu mengizinkan karena dunia kita berbeda. Sama sekali kami tak terganggu dengan kehadirannya. Justru niat baik mereka untuk izin masuk rumah malah cenderung mengganggu penghuni rumah seperti cerita saya diatas.
Semoga saja mereka mengerti apa yang saya maksudkan, walaupun saya juga bingung bagaimana cara menjelaskan ke mereka. Sebagai sesama makhluk Allah, kita memang layak hidup berdampingan tanpa mengganggu kehidupan masing-masing. Wallahu A'lam Bisshowab

Bagus ceritanya. menarik bung.
BalasHapusTerima kasih banyak Bung Agus. Saya tunggu ceritanya abang...
BalasHapus