Lintasi Hutan R. Soeryo, Berharap Tak Jumpai Begal
![]() |
| Salah satu sudut Hutan R. Soeryo |
Taman Hutan Raya Raden Soeryo, atau biasa disingkat menjadi TAHURA R. Soeryo adalah nama yang diberikan untuk kawasan pelestarian alam kompleks Gunung Arjuno – Welirang yang terbentang luas hingga empat kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Jombang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Hutan hujan tropis yang memiliki luas kawasan hampir 30 ribu hektar ini berkembang menjadi lahan subur untuk konservasi hutan, yaitu perlindungan terhadap keanekaragaman ekosistem tumbuhan serta satwa didalamnya, sehingga tidak diperkenankan untuk dijadikan lahan pertanian apalagi pemukiman. Tentu saja, hal itu membuat hutan tersebut relatif sepi dari jangkauan kegiatan manusia, kecuali satu jalur yang tiap hari dilalui oleh segelintir pengendara jalan. Ya, jalur itu memang menjadi jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Pacet di Mojokerto dan Kota Batu, biasa dikenal dengan jalur Cangar, karena melewati objek wisata alam Cangar.
Bagi saya yang tinggal di Mojokerto, adanya jalur Pacet – Kota Batu memberikan keuntungan yang luar biasa mantap, apalagi saya sering mondar-mandir ke Kota Malang untuk keperluan studi. Mojokerto - Kota Malang biasanya ditempuh memutar lewat jalan besar melalui Pandaan. Normalnya dapat ditempuh menggunakan motor selama 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh hampir 100 km. Namun jika kondisi lalu lintas sedang ramai ataupun macet, waktu tempuh lebih lama lagi, yang pasti sering bikin bahu seperti kena encok. Lain cerita jika saya lewat jalur Pacet – Kota Batu, meskipun harus menembus lebatnya hutan R Soeryo, keuntungan yang diberikan tidak membuat perjalanan sia-sia. Selain irit bahan bakar, sejuknya hawa pegunungan dan pemandangan indah di kanan kiri jalan membuat perjalanan seakan tak menjemuhkan. Seringkali saya anggap perjalanan saya itu sebagai sarana hiburan untuk merefresh penatnya fikiran.
Jika beruntung, pengendara jalan dapat menjumpai sekumpulan monyet liar yang nongkrong di pinggir jalan untuk minta belas kasihan. Jika sudah begitu, saya sempatkan untuk berhenti sejenak dan melihat lucunya tingkah mereka. Terkadang saya mulai khawatir sendiri ketika sekumpulan monyet itu tiba-tiba menatap dengan mimik serius ke saya, awalnya memang seru sih, karena saya jadi pusat perhatian.
![]() |
| Monyet Liar Hutan R. Soeryo |
Keadaan mulai mencemaskan manakala para monyet perlahan mendekati saya yang duduk diam diatas motor. Hadeh, Dikiranya saya ini bapaknya kali ya. Saya tahu, mereka mungkin mengira tas yang saya bawa berisi banyak makanan, padahal isinya cuma laptop. Masak mereka mau makan laptop. saya kasih uang recehan, malah gak mau mereka makan. Ya iyalah, masak monyet makan uang recehan. Maksud saya, biar uangnya mereka simpan, itung-itung buat beli jajan. Ya sudah daripada saya diapa-apain, mending jalan terakhir adalah langsung tancap gas motor dengan keras hingga gerombolan monyet pun langsung buyar seketika. Hehehe… Sip….
Baiklah, lupakan soal kumpulan monyet itu, saya lebih tertarik untuk menceritakan pengalaman pertama saya melintasi Tahura R. Soeryo yang dulunya terkenal menakutkan bagi masyarakat daerah saya. Petualangan saya dimulai sejak akhir tahun 2009 silam, saat itu saya yang baru saja bisa mengendarai motor, ketagihan untuk menjelajahi daerah baru. Rasa-rasanya membosankan sekali jika motor hanya dikendarai di jalanan datar dan lurus. Maka, saya memberanikan diri untuk bermotor di jalanan pegunungan. Bersama kawan-kawan, saya berhasil menaklukan jembatan kali kromong di wilayah Pacet. Bagi pemula, tentu itu adalah hasil yang membanggakan sekaligus mengerikan karena jalanannya memang bikin was-was. Tidak puas sampai disana, awal tahun 2010, jalur terusan jembatan kali kromong saya telusuri ke atas hingga menggapai dusun terakhir di daerah Pacet, namanya Dusun Sendi. Saat itu, motor saya sampai megap-megap saking kagetnya ada jalanan yang tinggi tanjakannya bisa bikin meringis. Bahkan tidak sedikit pengendara motor yang menurunkan penumpangnya di tengah jalan akibat motornya angkat tangan.
![]() |
| Terpaksa menurunkan penumpang karena tingginya tanjakan |
Informasi yang saya dapatkan dari penduduk sekitar, Jalan di Dusun Sendi itu teryata dapat berlanjut hingga ke Kota Batu. Oke, jiwa petualang saya seperti tertantang, namun akhirnya saya ciut nyali menyaksikan kondisi jalan menuju Kota Batu harus melewati hutan belantara bernama R. Soeryo. Saya membayangkan, hutan belantara yang akan saya lewati sangatlah jauh, ditempuh berjam-jam hingga harus menyiapkan bekal makanan dan bensin cadangan. Meski terkesan alay, setidaknya itu pengalaman nyata.
Pertengahan tahun 2010, saya memberanikan diri untuk menjelajahi hutan R. Soeryo bersama teman sekelas saya waktu SMA, Dedi. Ketika itu, kami yang hanya berdua mengendarai motor membawa bekal macam-macam, takut kenapa-napa ditengah hutan. Kekhawatiran kami rasanya wajar mengingat kami sama sekali tidak tahu medan. Kami persiapkan jaket tebal, makanan sampai bensin cadangan. Dengan mengucapkan basmalah, motor mulai melaju dari Kota Mojosari ke wilayah Pacet yang berjarak hampir 20 km.
![]() |
| Plang Selamat Datang di Taman Hutan Raya R. Soeryo |
Saya mulai gusar, manakala perjalanan kami sudah melewati Dusun Sendi. Karena dusun itu adalah daerah berpenduduk paling terakhir di wilayah pacet, maka tidak akan saya jumpai lagi rumah dan aktivitas penduduk. Tidak lama kemudian, kami menjumpai gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Hutan R. Soeryo”.
Praktis, yang kami jumpai di depan hanya rimbunan pohon lebat, dan suara binatang aneh yang jarang kami dengar. Semakin jauh kami telusuri jalanan hutan, semakin kami menyadari bahwa kami benar-benar sendirian. Maklum saja, kondisi jalanan hutan R. Soeryo ketika itu tidak semulus dan seramai sekarang. Ada kalanya kondisi jalanan di tengah hutan berbentuk aspal yang rusak parah, hampir mirip makadam, namun ada juga yang cukup layak.
![]() |
| Tanjakan sekaligus Tikungan Tajam |
Saya jadi ingat cerita orang-orang yang menyatakan bahwa jalur hutan R. Soeryo itu termasuk jalur rawan, rawan yang dimaksudkan adalah rawan pembegalan. Memang benar saja, suasana hutan yang begitu sunyi menjadikan begal menjadi sangat berkuasa. Jika seandainya tiba-tiba ada begal lewat dan mencegat kami tengah jalan, siapa yang bakal mau menolong meskipun sudah berteriak sekeras petasan. Walau saya belum pernah mendengar secara langsung berita pembegalan di Hutan R. Soeryo, setidaknya saya sangat ketakutan karena terlanjur berada di tengah hutan. Satu-satunya cara untuk menenangkan diri dari ancaman begal adalah berdoa kepada pemilik hutan, Allah SWT agar dihindarkan dari hal-hal yang membahayakan jiwa.
Jebrak…… Tiba-tiba roda depan motor kami menabrak aspal yang terkelupas, mirip kayak batu hitam yang keras. Meski membuat motor sedikit oleng, kami hanya berharap agar roda motor saya tidak kenapa-kenapa. Jangankan ada tambal ban, berpapasan dengan pengendara jalan yang lain saja sangat jarang. Seumpama tragedi ban bocor benar-benar terjadi, pilihan sulit harus dihadapi sang pengendara. Mau balik ke Pacet jauh, pun jika meneruskan perjalanan ke Kota Batu. Tapi setidaknya harus dipilih salah satu daripada harus menangis sendirian di tengah hutan.
Pepohohan hutan terlihat semakin lebat menyelimuti kanan kiri jalan. Bahkan sinar matahari tampak kesulitan menembus sela-sela dedaunan. Suasana terlihat agak remang-remang. Meski sebenarnya jarak ke wilayah Kota Batu sudah dekat, tapi yang saya rasakan, jalanan Hutan R. Soeryo itu tidak ada ujungnya. Maklum, pengalaman pertama.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa bernapas lega menyaksikan ada dua jembatan kembar yang terbentang melintasi sungai yang dalam. Pemandangan alam yang dapat disaksikan dari jembatan itu memang indah, tak heran jika pesona jembatan menjadi daya tarik untuk berfoto sejenak. Saya menduga bahwa jembatan itu secara geografis menjadi penanda perbatasan antara wilayah Kab. Mojokerto dan Kota Batu. Yeah… Bahagia sekali bisa menggapai Kota Batu. Perjalanan berlanjut, sekitar ratusan meter dari jembatan kembar itu, terlihat ada beberapa bangunan yang berdiri kokoh persis di tepi jalan. Bangunan itu seakan membuat saya menemukan kembali kehidupan manusia yang sebelumnya hilang di tengah hutan.
Kebahagiaan saya serasa bertambah kala menjumpai ada sungai kecil di pinggir jalan yang memunculkan asap tipis. Eh, ternyata sungai itu terasa hangat. Suasana hutan yang dingin memaksa saya untuk menceburkan diri ke sungai untuk menikmati sumber air hangat ciptaan Sang Khalik. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah atas pertolongan dan perlindungan yang diberikan selama kami memulai perjalanan dari Mojosari hingga Kota Batu. Perjalanan itu seakan menjadi rekor tersendiri untuk dapat saya ceritakan di kelas bersama teman-teman SMA. Bahkan hingga kini, perjalanan pertama itulah yang memberikan pengalaman berharga bagi saya untuk dapat melalui Hutan R. Soeryo walaupun harus seorang diri.
![]() |
| Plang Pintu Masuk Objek Wisata Alam (OWA) Cangar |
![]() |
| Menceburkan diri ke sungai yang berair hangat |
Wallahu a'lam Bisshowab








Posting Komentar untuk "Lintasi Hutan R. Soeryo, Berharap Tak Jumpai Begal"