Turi Putih, Tembang Pitutur Tentang Kematian
Pohon turi, bagi masyarakat desa seperti saya merupakan tanaman yang mudah dijumpai. Entah biasa karena tumbuh liar atau sengaja ditanam, pohon ini banyak bertebaran di pekarangan rumah hingga pinggir sawah. Pohon ini memiliki bunga khas yang dikenal dengan sebutan turi putih, karena mayoritas bunga turi yang tumbuh di kampung-kampung memiliki wujud putih kecuali pada pangkalnya yang berwarna hijau. Selain itu, turi putih merupakan santapan yang lezat, apalagi jika dikukus dan dicampur dengan sambal kacang, maka jadilah turi putih sebagai makanan yang digemari sebagai pelengkap pecel. Barangkali, jika ada diantara kita yang belum pernah merasakan nikmatnya turi putih, mungkin memang tidak sedang hidup di pedesaan.
Lupakan sejenak tentang lezatnya turi putih. Kita coba bertafakur dan merenungkan sebuah syair jawa yang sama-sama membahas turi putih. Pernah dengar nyanyian turi putih kan? Konon, syair turi putih ini adalah tembang pitutur yang diciptakan langsung oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Ada pula riwayat lain yang menyebutkan bahwa syair turi putih diciptakan oleh Kanjeng Sunan Giri. Saking luar biasanya keikhlasan para wali dalam berdakwah hingga jejak-jejak dakwah mereka masih menggema hingga sekarang. Salah satunya syair turi putih itu.
Seluruh syair yang diciptakan oleh para wali sekilas berisi gambaran kehidupan masyarakat desa sehari-hari seperti gundul-gundul pacul, padhang bulan, sluku-sluku bathok, lir-ilir, cublak-cublak suweng dan masih banyak lagi, termasuk syair turi putih. Namun, pernahkan kita menyadari bahwa sesungguhnya syair-syair para wali itu menyimpan sejuta makna filosofi yang mendalam. Filosofi tentang pitutur (nasehat) bagaimana mengarungi samudra kehidupan agar selamat hingga pelabuhan akhirat.
Saya tertarik untuk menyibak makna filosofi syair turi putih, yang saya tafsiri sebagai tembang pitutur yang berisikan nasehat bagi kita tentang kematian. Waktu SMA dulu, pernah saya diminta oleh guru agama saya agar menyanyikan lagu turi putih ketika memperingati Maulid Nabi. Maka, sebagai ketua kerohanian islam (ROHIS), segera saya mengumpulkan beberapa anggota untuk membuat sebuah grup shalawat al-banjari yang dilatih khusus oleh pelatih al-banjari yang didatangkan oleh guru agama saya. Saya ambil lirik turi putih yang saya dapat dari grup shalawat lain. Kemungkinan lirik turi putih ini telah mendapat tambahan beberapa baris tanpa mengurangi bait aslinya.
Turi putih, turi putih
Ditandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung
Mbok iro kembange opo
Etan kali, Kulon kali
Tengah-tengah tanduran pari
Saiki ngaji, sesuk yo ngaji
Ayo manut poro kyai
Tandurane tanduran kembang
Kembang kenongo ning njero guwo
Tumpa'ane kereto jowo
Rudo papat rupo menungso
Setelah melakukan latihan vokal dan pemantapan pukulan alat banjari beberapa kali, ada seorang anggota yang bertanya pada saya mengenai makna sebenarnya dari lagu turi putih tersebut. Mungkin sebelumnya dia tidak tahu pasti perihal syair turi putih dan merasa aneh dengan lirik yang dinyanyikan, seakan mengandung pesan misterius, katanya. Dengan semangat saya ceritakan bahwa syair turi putih adalah ciptaan salah seorang wali songo yang berisikan pesan nasehat untuk mengingat mati. Melihat tingkah saya yang begitu mendalami alur cerita turi putih, hampir semua anggota shalawat melongo dan menyimak dengan serius.
"Terus, teruss…. Gimana itu turi putihnya kok bisa mati", sahut salah seorang anggota yang gak sabaran pengen tahu kelanjutan ceritanya.
"Sttt…. Dengerin dulu woy", teriak yang lain untuk menenangkan suasana.
"Jadi gini", ujar saya melanjutkan. "Turi itu berarti tak pituturi, artinya saya beri nasehat. Nasehat bahwa besok kita semua pasti menjadi putih. Artinya, kita sebagai makhluk beryawa pasti akan mati, dibungkus kain kafan yang berwarna putih. Maka selayaknya turi putih itu berisikan nasehat agar kita sadar bahwa kematian adalah kepastian yang misterius. Sehingga kita dapat mempersiapkan datangnya kematian sejak sekarang."
"Ih… kok serem gitu sih artinya, sampai bahas kain kafan segala, jadi takut nih." ucap anggota putri.
"Iya, serem juga ya, jadi turi putih itu semacam analogi jasad orang mati yang dibalut kain kafan ya, hii… ". Seloroh yang lain sambil meringis ketakutan.
"Eh, jangan fokus dicerita seremnya dong ! Kita ambil maknanya bahwa nasehat kematian sebagaimana diungkapkan dalam syair turi putih bukan untuk ditakuti akan tetapi untuk kita resapi sebagai bentuk tanbihul ghofilin, yaitu nasehat bagi orang-orang yang lupa seperti kita. Bukankah Rasulullah sudah mengingatkan, bahwa manusia yang paling cerdas adalah manusia yang senantiasa mengingat kematian. Mengapa? karena dengan mengingat kematian, kita dapat berlomba-lomba untuk beramal sholih sebagai bekal untuk kehidupan akhirat."
***
Inti dari nasehat kematian pada turi putih yang paling nampak adalah pada bait pertama, dan memang bait pertama adalah lirik asli dari syair turi putih. Turi Putih adalah pitutur agar kita senantiasa menyadari bahwa esok kita pasti akan dibungkus oleh kain putih (kain kafan). Ditandur ning kebon agung, adalah pesan bahwa turi putih kita (jasad yang terbungkus kafan) akan dikubur di suatu tempat yang dinamakan kebon agung, yaitu pekuburan.
Cleret tibo nyemplung artinya kehidupan dunia yang sekejap. Kita seringkali tidak merasa bahwa kehidupan dunia, kita lalui dengan begitu cepatnya, rasanya baru kemarin kita melewati masa anak-anak, eh tiba-tiba menjadi dewasa, lalu menjadi semakin tua hingga akhirnya tibo nyemplung, tiba-tiba dimasukkan ke liang lahat. Kehidupan dunia yang sebentar dan begitu cepat diibaratkan seperti mampir sementara ditempat singgah untuk istirahat sejenak sebelum akhirnya harus meneruskan perjalanan pada kehidupan abadi. Bukankah sudah selayaknya kita wajib mengisi bekal sebanyak-banyaknya ditempat persinggahan kita?
Mbok ira kembange opo, adalah sebuah pertanyaan, amal sholih apa yang telah kita persiapkan sebagai bekal kehidupan akhirat? Sudah cukupkah turi putih kita untuk mampu menjawab pertanyaan kubur? Menghadapi perihnya siksa kubur? Menghadapi penantian panjang di padang mahsyar? Menghadapi penghitungan amal di yaumul hisab? Hingga menghadapi kejamnya sirathal mustaqim? Astaghfirullah… betapa mudah kita melalaikan turi putih dalam kehidupan.
Wahai kawan, ingatlah bahwa syarat mati itu tidak harus tua, betapa banyak mereka yang meninggal di usia muda. Mengapa justru kita seringkali melalaikan masa muda dengan bermalasan dan foya-foya. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa perkara yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Maka, cukuplah kiranya kematian itu sebagai nasehat, agar kehidupan yang singkat ini dapat kita lalui dengan penuh kesungguhan.
Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara barang sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian. Niscaya kalian akan segera melupakan jenazah tersebut dan mulai menangisi diri kalian sendiri. (Imam Ghazali)
Wallahu A'lam Bisshowab


Posting Komentar untuk "Turi Putih, Tembang Pitutur Tentang Kematian"