Belajar Meminta Maaf dari Para Bocah
Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk singgah sebentar ke rumah teman yang mengkontrak tak jauh dari kampus tempat saya belajar. Rumah kontrakan tersebut dapat dicapai dengan melewati sebuah gang sempit yang saya rasa hanya cukup untuk dilewati oleh satu mobil jenis minibus. Jika suatu ketika ada dua minibus yang saling bertemu dari arah berlawanan, maka salah satunya harus bersikap tabah karena terpaksa harus rela mengalah. Suasana malam menyebabkan kondisi jalan ke arah gang sempit itu terlihat agak gelap dan remang-remang. Untungnya, sorot lampu sepeda motor saya dapat memancarkan cahaya yang cukup untuk memastikan bahwa gapura gang sempit itu memang jalan yang benar ke arah rumah kontrakan teman.
Beberapa meter masuk pintu gapura gang, saya dikejutkan oleh kilatan cahaya api yang tiba-tiba membuncah tepat di depan roda sepeda motor. Tidak hanya itu, kilatan cahaya api itu disusul oleh suara ledakan yang sangat memekakkan telinga. Saking kagetnya saya waktu itu, hingga helm yang saya pakai nyaris terlempar, sedangkan saya sendiri malah hampir jatuh dari motor. Untung saja, tidak ada apa-apa yang terjadi pada motor maupun diri saya sendiri. Saya kira, suara ledakan keras itu akibat roda depan motor yang meletus, namun kenapa sampai muncul kilatan cahaya api ? Dalam kondisi yang masih sadar, saya diam sejenak untuk menenangkan diri.
Tak lama setelah itu, terdengar suara bisik - bisik dari gerombolan anak-anak seusia sekolah dasar yang setahu saya lebih dari empat. Mereka berdiri mematung tak jauh dari tempat saya berada. Mereka memandangi saya dengan wajah pucat, sepertinya mereka ketakutan atas apa yang baru saja terjadi. "He….. Awakmu ngawur, nyumet mercon kok ndek dalan", bisik salah seorang anak. Lantas, salah seorang dari mereka menanggapi dengan ekspresi menyesal, "aku yo gak eroh nek ape onok wong liwat". Saya tetap terpaku dan bersikap pura-pura tidak mendengar, lebih baik bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan. Dari situ saya tahu bahwa suara ledakan besar yang diselingi kilatan api barusan adalah suara petasan yang berdaya ledak cukup. Ya, bahkan lebih dari cukup untuk menewaskan beberapa orang pengidap penyakit jantung sekaligus. Sebenarnya dalam hati kecil saya timbul perasaan mangkel. "Kok anak-anak ini kurang ajar, kok ya bisa-bisanya main petasan di jalanan, untung saja baru mengenai roda depan motor, lah kalau seandainya mengenai muka? Apa wajah saya nantinya gak bertambah ancur?", gumam saya dengan geram. Ah, sudahlah, mereka hanya anak-anak. Tidak berlaku hukum apapun bagi mereka. Anggap saja kejadian itu sebagai jalan pintas penyembuh rasa ngantuk.
Sesampainya di rumah kontrakan teman, Saya segera memarkir motor tepat di depan pagar. Saya langsung menemui teman untuk membahas mengenai berbagai keperluan kampus tanpa mempedulikan apa yang baru saja terjadi. Kebetulan, Karena keperluan saya tidak banyak, maka tidak sampai setengah jam, saya langsung mohon pamit untuk pulang. Dengan cepat saya memutar arah motor menuju jalan pulang melalui gapura gang sempit lagi. Baru beberapa meter motor berjalan, saya kembali terkejut. Bukan karena suara petasannya bertambah keras, tapi terkejut oleh ulah aneh para bocah tadi. Mengapa mereka jadi begini? Kali ini mereka bukan lagi berada di dekat gapura, melainkan berdiri rapi dekat rumah kontrakan teman saya tadi.
Di luar dugaan saya, ternyata mereka berdiri mematung menunggu saya keluar rumah kontrakan hingga lewat di depan mereka. Belum sempat saya bertanya apa yang mereka lakukan, salah seorang dari mereka dengan suara memelas menyahut, "Mas, kami mohon maaf gara-gara yang tadi ya, kami tidak sengaja". Mereka mengucapkan itu dengan segala keluguan dan kepolosan bocah kecil, bahkan justru kepolosan mereka itulah menggambarkan ketulusan mereka untuk meminta maaf. Oh men,… Saya terperangah oleh tingkah mereka. Sebenarnya, tanpa permintaan maaf pun semua orang pastinya memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak, jangankan kesalahan anak-anak yang tidak disengaja, yang sengaja saja akan dimafhum. Terbersit dalam benak saya, betapa mulianya akhlak anak-anak ini. Apalagi mereka anak-anak kota yang terbiasa dengan kehidupan modern yang materialis. Pastilah, lingkungan dimana mereka tinggal adalah lingkungan yang agamis.
"Mas, kami minta maaf ya….. ", seloroh mereka lagi kala mengetahui saya hanya termenung menatap mereka. "Oh, iya…. Tidak apa-apa kok, lain kali hati-hati ya!", jawab saya sambil melaju pelan meninggalkan mereka. Sejujurnya, saya kagum dengan tingkah konyol mereka. Demi mewujudkan niat mulia untuk meminta maaf kepada orang lain, mereka rela menunggu didepan rumah kontrakan demi bertemu dengan orang yang ingin mereka mintai permohonan maaf. Saya hanya berandai-andai, andaikata saya berada diposisi mereka, akankah saya rela berkorban untuk hal yang sama? Ternyata belum tentu. Bahkan untuk mereka yang berpendidikan tinggi sekelas mahasiswa pun, "meminta maaf" adalah harga yang harus dibayar mahal. Berapa banyak diantara mahasiswa yang sebelumnya rukun menjadi saling dendam, yang sebelumnya akrab menjadi saling curiga, yang sebelumnya saling memuji akhirnya saling menghujat. Semua diakibatkan oleh hilangnya niatan untuk merasa "akulah yang harus meminta maaf". Padahal kata "maaf" itu sangat mudah diucapkan, namun ternyata sangat susah dilakukan. Entahlah, mungkin saja kata "maaf" saat ini sudah terkalahkan oleh rasa gengsi yang menguasai diri.
Wallahu A'lam Bisshowab..

Posting Komentar untuk "Belajar Meminta Maaf dari Para Bocah"