Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filosofi Pohon Pisang dan Pesta Pernikahan

Tadi siang, saya menemani ibunda menghadiri undangan pernikahan salah seorang kerabat yang bertempat di desa kecil tidak jauh dari tempat tinggal saya. Sekaligus saya mewakili ayah untuk melaksanakan walimatul 'ursy, karena agendanya walimah dilaksanakan bersamaan dengan temu manten siang itu juga. Dari jauh sudah terlihat para tamu sudah berdatangan menanti prosesi adat jawa untuk mempertemukan pengantin putri dan penganti putra hingga duduk bersama dipelaminan.

Saya selalu tertarik untuk mengamati benda-benda aneh yang ditata sedemikian apik disekitar tarub. Mulai dari hiasan daun ketupat, wangi-wangian angker daun melati, satu set pohon pisang plus buahnya dan aneka hiasan nyeleneh lain. Hiasan-hiasan itu biasanya diletakkan di pintu masuk tarub yang pastinya dilewati para tamu undangan. Sejak saya kecil, saya selalu bertanya-tanya, " ini apa-apaan sih? pasang hiasan kok gak sekalian yang bagus gitu. Apa emang karena orang desa, jadi hiasan aneh begitu dianggap bagus ya? ", saya terkesan meremehkan. Jika hanya hiasan, mengapa pesta perkawinan oleh masyarakat yang secara ekomoni mampu juga melaksanakan hal serupa? berarti, pasti ada apa-apanya. Akhirnya, Kini saya dapatkan kesimpulan bahwa hiasan daun ketupat, melati bahkan pohon pisang tersebut bukan sebatas hiasan, namun memiliki suatu makna tinggi yang saya pun tak dapat menjangkaunya.

Pohon pisang pada pesta pernikahan

Sekarang, saya coba renungkan tentang pohon pisang dan keterkaitannya dalam pesta pernikahan. Masalahnya, sejauh yang saya amati, pohon pisang rata-rata pasti ada. Buat apa? toh gak dibutuhkan, bukan? Saya mencoba tak buru-buru menghakimi. Sejatinya, ketika kecil saya pernah mempertanyakan hal ini kepada orang sepuh, entah pada nenek ataukah orang lain, saya lupa. "Pisang itu dipersembahkan buat danyang penunggu desa, siapa saja yang lancang tidak meletakkan pisang pada pesta pernikahan, maka danyang akan marah, jadinya pasti pestanya akan ada banyak gangguan. Entah listrik tiba-tiba-tiba padam, mesin diesel mati mendadak, hujan deras, angin kencang atau hal-hal lain yang mengganggu. Maka, pisang itulah sesajen untuk mencegah gangguan danyang", ungkap orang sepuh yang saya tanyai tersebut. Anehnya, saya mempercayai betul, mungkin memang pola pikir kekanak-kanakan saya lebih sreg dengan hal-hal berbau mistik kejawen.

Ketika menginjak dewasa, pola pikir mistik saya mulai memudar, saya lebih suka memikirkan hubungan yang rasional. Apalagi menyangkut simbol-simbol adat jawa. Saya percaya, simbol tradisi jawa bukanlah hal-hal mistis yang berbau kejawen. Simbol tradisi jawa adalah kumpulan makna filosofi yang ditanamkan oleh leluhur, mempertandakan kearifan yang disimpan untuk generasi mendatang secara turun-temurun. Simbol adalah sebuah cara penyampaian dalam diam yang saya yakini lebih tahan lama meskipun susah dipahami. Makna filosofi simbol itulah yang coba saya renungkan.

Kembali pada acara pernikahan yang saya hadiri tadi. Acara temu manten berjalan lancar sesuai dengan adat istiadat jawa, yang dipandu oleh pranoto acoro dengan bahasa jawa halus yang saya sendiri kurang faham artinya, mungkin jawa halus pada jaman kuno. Saya sendiri bahkan sudah terlalu sering menyaksikan prosesi seperti itu. Namun, diakhir prosesi, sang pranoto acoro menyampaikan pesan-pesan yang membuat saya terhenyak. "Hadarin sekalian, Alhamdulillah, kita sudah melaksanakan prosesi temu manten sesuai dengan adat istiadat jawa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Yang memprihatinkan, banyak orang jawa kita yang telah kehilangan jati diri ke-jawa-an mereka. Banyak dari mereka yang malu untuk memakai identitas jawanya. Bahkan, tega untuk menghilangkan adat jawa yang luhur ini demi ambisi ideologi mereka. Marilah bapak ibu, kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi yang mempertahankan?".

Seakan mengerti isi hati saya, ternyata pranoto ocoro saat itu tiba-tiba menjelaskan arti pohon pisang yang sedari kecil saya pertanyakan. "Mungkin bapak ibu heran, mengapa harus ada pohon pisang dalam sebuah pesta pernikahan. Asal bapak ibu ketahui, bahwa pohon pisang itu cuma berbuah sekali selama hidup, setelah berbuah, pohon pisang tidak dapat berbuah lagi hingga menemui ajal. Inilah kearifan tradisi kita, para leluhur kita berusaha memberikan pitutur (nasehat) melalui perantara pisang. Bahwa hendaknya mempelai berdua mencontoh pohon pisang, yaitu melangsungkan pernikahan sekali, tetap langgeng, membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah hingga maut memisahkan kehidupan mereka berdua".

Saya amat terharu mendengarkan makna filosofi pohon pisang yang dijelaskan pranoto acoro. Padahal cuma simbol pisang, belum lagi puluhan simbol lain yang saya sendiri susah memahami. Saya sedih manakala menyaksikan betapa mudahnya orang-orang zaman sekarang yang begitu tega menyalah-nyalahkan budaya jawa sebagai penyebab rusaknya aqidah. Ataupun berambisi menghilangkan tradisi demi slogan kemurnian agama. Mereka sejatinya tidak melihat kearifan tradisi dalam balutan kemulyaan filosofi, melainkan hanya melihat bungkusan luar dengan tatapan sinis. Semoga generasi muda jawa tidak terjangkiti virus ini.

Wallahu A'lam Bishowab

2 komentar untuk "Filosofi Pohon Pisang dan Pesta Pernikahan"