Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makam Sunan Bonang : Untaian Kisah Itu Mengantarkanku Kesana

Terkaman sinar sang surya Kota Tuban kian mengganas di atas ubun-ubunku.... Wew, laksana ikan asin yang dikeringkan hidup-hidup,   aku pun hanya bisa 'super' pasrah duduk termangu mengamati peziarah hilir mudik dengan kesibukannya di pelataran parkir "Wisata Religi Sunan Bonang". ow..ow..ow.. panasss... panasss..... Lirik lagu 'GIGI' yang sempat populer itu terasa mengguncang keras dari lubuk hatiii... hehehehe

Adik-Adik Kecilku yang kepanasan di tengah lautan aspal terminal Sunan Bonang

Panasnya bener-bener terasa seperti di Tanjung Benoa (Bali), Bedanya.. di Pantai sana ku dapat melototin Turis sepuasnya, tapi kalau di Tuban sini ya.. melototin 'Sutris' kali ya... wkwkwkwk... Wih, kebanyakan melamun membuatku lupa akan tujuanku ke sini, Segera ku berlari dengan 'lebay' nya menuju kerumunan rombonganku... Hmm... Pasti semua naik becak deh,,, Aku sama siapa dong... huhuhuhuhu... Tau Ah... (Gak pakek 'gelap'). Bagi teman-teman yang pernah kesana, pasti tak akan kaget jika di wajibkan atau lebih tepatnya "dipaksa" naik becak dari pelataran parkir bisnya. Yah.... wajarlah.. wong jarak menuju komplek makamnya saja hampir 1 KM, pasti peziarah milih naik becak aja dari pada susah-susah 'olahraga kaki' dengan perasaan terpaksa banget..   "Ayo buk... Cepetan ndang numpak'o becak'e.." teriak tukang becak pada dua orang ibu-ibu gemuk yang terlihat ragu-ragu ketika ingin naik. "Emoh, wez pak". Seloroh Salah satu ibu tadi dengan wajah cemas,  "Sampeyan wez tuek pak.. kuru pisan, aku wedi nek becak'e njomplang (terbalik) nek sampeyan seng nyetir." "gak popo buk,, wez talah.. Masio (meskipun) tuek ngene aku yo ndolek mangan" "emohhh...  nggolek seng enom ae pak... " hahahahahahaha,,, nguenyek polll...... atau ibu-ibu tadi emang suka yang masih brondong-brondong tuh..... kasian juga tukang becaknya, masa harus pensiun sih, terpaksa 'gantung becak' dong, kan kalau pemain sepak bola pensiun harus 'gantung sepatu', lah tukang becak??? berat banget harus gantung becak, ruepot koyok knalpot... meskipun sudah dua kali berturut-turut aku belum pernah naik becak ketika ziarah kesana akibat mengikuti aksi nekat guruku beberapa tahun lalu..   Namun.. "Aksi nekat" ku kali ini kayaknya sedang gak mood, ckckckck.. kasian.. terpaksa deh kurogoh saku ku dalam-dalam mengambil secuil kertas berharga... Yeahhh.. dapat 5 ribu perakk... Ku rasa sangat cukup bagiku untuk mendendangkan lagi lagu nostalgila.... eh maksutnya.... nostalgia masa kecilku...   "Saya mau tamasya Berkeliling keliling kota Hendak melihat-lihat keramaian yang ada Saya panggilkan becak Kereta tak berkuda Becak, becak, coba bawa saya" Hahahahahaha... let's goooo.....

Para Becakers yang rela berjubel di tengah keramaian perempatan menuju area makam.

Udah nyaris lupa... berapa tahun tak naik becakk.. barangkali kalau wabah demam berdarah semakin menggila, becak akan semakin  laris... kan rodanya tiga... sementara nyamuk takut 'roda tiga' hehehehe... Tak terasa, Terjangan becak yang memang sedari tadi kayak 'balapan F1' ini mengantarku sampai secepat kilat, (kayak buroq aja ya, lebih tepatnya... Buroq cap tiga roda).   Hmm..... Ini dia, yang paling kubenci ketika ziarohh... apalagi kalau bukan karena di serang ribuan ulat bulu... ehh.. salah lagi.. maksutnya di serang berbagai pengemis... haduhh... dari dulu aku emang gak tega banget lihat pengemis, apalagi jika yang sudah tua sekali, sebatang kara, tak punya apa-apa ataupun pengemis yang cacat, dari yang jalannya terseak-seok di tengah ratusan pasang mata yang tak mempedulikannya hingga yang tak mampu berjalan  sama sekali.. Ya Allah.. Hati ini terasa tercabikk (emang hatinya habis dicakar macan kali ya)... huhuhuhuhu... gak tega buangggett ngett... "Tapi"  kalau pengemisnya kayak gini.. wah.. ingin ku labrak aja, betapa tidak, wong masih sueger bugerr.. apa lagi yang perempuan, kelihatan gemuk walaupun pengemis, jadi walaupun pengemisnya gak makan 3 hari pun gak seberapa kelihatan, wong masih gemukk... Dan yang paling menggelikan malah ada pengemis yang pakai kalung emas, busyettt... "pengemis berkalung emas" cocok jadi judul filem tuch.. hal ini pula yang membuat Ibu-Ibu rombongan kelagapan dan seakan 'ngiri' banget sama pengemisnya.. "Mosok, wong ngemis ae duwe kalung, kene (kita) seng nyelengi pirang-pirang tahun gak keturutan" gerutu salah seorah peziarah di belakangku. "Ealah bukk... kan udah ada yang sukses jadi pengemis, kenapa gak ikut coba aja, siapa tahu jadi pengemis terkaya yang malah bisa beli mobil"' hahahahaha.... Gumamku (masih dari dalam hati) hehehe...   Walah-walah... Gang kecil yang di apit puluhan pedagang ini mengantarkan langkahku menuju tujuan utama, Tak ku pedulikan orang-orang yang menawari minyak wangi, kurma, kopiah, hingga mainan anak-anak (emang dikira aku masih TK kali ya.. huh). pikiranku melayang jauh... memikirkan pengemis 'gadungan' yang meresahkan itu... feuh.. hanya mampu menarik gulungan  'benang merah' Memang susah mengentaskan Indonesia dari jurang kemiskinan, namun hal itu harusnya tak membuat kita malah berpangku tangan dan rela menurunkan harga diri kita menjadi sosok yang paling dicari satpol PP ini.. Kita sudah miskin ilmu dan miskin harta akibat dibelenggu lebih dari 350 tahun lamanya... jangan sampai bangsa ini rela di juluki 'budak lagi', buat apa kita punya semboyan maut "otot kawat tulang besi" kalau ujung-ujungnya menyerah dengan keadaan... kita di takdirkan untuk menang... kitalah yang menggenggam nasip kita sendiri..  kalau bukan kita sendiri merubahnya.. Allah pun enggan merubahnya... Bukankah agama kita tidak menyuruh bahkan tidak menginginkan umatnya 'memeras' belas kasihan orang dengan menjadi pengemis gadungan???????   Wallahu A'lam Bisshowab Okelah... Lanjut... Di catatan berikutnya... huh...

Masih sempat berfoto ketika sampai di depan Makam Sunan Bonang (Tertutup rumah kecil)


Posted By

Tanda Tangan

Posting Komentar untuk "Makam Sunan Bonang : Untaian Kisah Itu Mengantarkanku Kesana"