Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perihal Nuzulul Quran Tanggal 21 Ramadan Menurut Peneliti Sirah Nabi

Sepulang kuliah di Gedung B, saya melihat antrian panjang di depan Fakultas Humaniora. Waktu itu semester kedua tinggal di Ma'had Sunan Ampel Al-Aly. Berjalan kaki dari Ma'had Ibnu Rusyd ke seluruh penjuru UIN Maliki Malang adalah hal biasa. Toh tidak jauh-jauh banget. Rasa kepo membuat saya tertarik mendatangi kerumunan dan ikutan antri. 

"Mas, antri apaan ini?" tanya saya kepo.

"Antri buku, mas. Dikasih gratis". 

"Wah, buku apaan, mas?" sahut saya penasaran. Tumben sekali ada bagi-bagi buku gratis. Walaupun saya tahu, buku gratis yang bakal dibagi bukanlah buku teknik informatika sesuai jurusan saya waktu itu. Lho wong antrinya depan Fakultas Humaniora. Jangan-jangan malah buku sastra arab.  

"Dikasih buku Al-Rahiq Al-Makhtum, mas", jawab salah seorang mahasiswa yang saya kepoin tadi.

"Waduh, buku bahasa arab yo, mas? Berarti salah tempat aku".

Saya ingin keluar dari antrian tapi dicegah. "Gak popo, mas. Apik bukune, tentang sirah nabawi. Lagipula, ini edisi terbatas."

Benar saja. Walaupun ngantri panjang, senang sekali rasanya ketika saya diberi buku ini. Apalagi gratis. Hal pertama yang bikin saya senang adalah ketebalan buku ini, 732 halaman. Megang bukunya saja serasa mendadak ngustadz, ngalim dan ngulama. Andai buku ini dijual sekalipun, pasti harganya mahal. Ratusan ribu. Buku ini sekaligus melengkapi koleksi buku keislaman dan menjadi buku tebal kedua setelah saya khilaf beli buku hadist Al-Lu'lu' wal Marjan setebal 1400 halaman. 

Waktu itu, buku ini diberikan cuma-cuma karena ada kerjasama antara Qossim University dengan UIN Maliki Malang. Jadi, buku yang berlogo kampus ini dicetak terbatas. Judul arabnya memang Al-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrohman Al-Mubarakfuri, namun isinya sudah hasil terjemah Indonesia. Berisikan penjelasan lengkap perjalanan hidup Kanjeng Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam. Dari sisi ilmiah, buku ini menarik sekali, karena ditulis oleh seorang muhaddits, ahli hadist komtemporer. Tidak heran, ada banyak sekali catatan kaki yang menunjukkan sumber riwayat hadist saat penulis menjelaskan bagian-bagian sirah nabawi. Bahkan, sampai pada bagian-bagian rinci yang selama ini jarang saya tahu, karena keterbatasan ilmu saya.       


Salah satunya adalah mengenai nuzulul quran yang ramai diperbincangkan saat 17 Ramadan seperti ini. Saya dan sebagaimana umumnya umat islam di Indonesia sudah terbiasa memperingati nuzulul quran setiap 17 Ramadan. Saat malam harinya, masjid-masjid dan berbagai instansi pendidikan maupun keagamaan ramai memperingatinya. Alhamdulillah, tahun ini banyak streaming-nya. Kemarin malam, saya ikuti via streaming lailatul qiroah di Masjid Agung Kota Blitar lewat akun youtube-nya.      

Namun, Syaikh Shafiyurrahman menjelaskan dalam siroh-nya dengan sudut pandang lain, salah satunya soal nuzulul quran. Ketika menceritakan khalwat-nya Nabi di Gua Hira hingga turunnya wahyu melalui Malaikat Jibril alaihissalam, beliau sampai rela membuat catatan kaki khusus hampir separuh halaman buku hanya untuk menjelaskan bahwa nuzulul quran perspektif beliau bukanlah tanggal 17 Ramadan.

Syaikh Shafiyurrahman dalam hal ini juga membantah pendapat Syaikh Al-Khudori yang menurut beliau "bersikukuh" menyatakan nuzulul quran tanggal 17 Ramadan di Kitab Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah

Menurut beliau, peneliti sirah sepakat menyatakan nuzulul quran datang pada tanggal 21 Ramadan, yang bertepatan dengan malam yang mulia, lailatul qadar. Hari itulah ketika surat pertama Al-Qur'an, QS. Al-Alaq:1-5 diturunkan ke Baginda Nabi. Hal ini dikuatkan dengan petunjuk-petunjuk hadist, sebagaimana termaktub dalam hadist riwayat Imam Muslim, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam ditanya perihal puasa hari senin, lalu Beliau menjawab, "Itulah hari di mana aku dilahirkan dan aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku". 

Kemudian, Syaikh Shafiyurrahman meneliti bahwa tahun ketika Nabi pertama kali diutus adalah tahun 610 M. Ketika dilacak hari senin pada Bulan Ramadan tahun itu, ternyata jatuh pada tanggal 7, 14, 21 dan 28. Maka, sebagaimana dalil shahih yang menyatakan lailatul qadar hadir di sepuluh hari terakhir dan di malam-malam ganjil Bulan Ramadan, disimpulkan oleh beliau, nuzulul quran yang tepat adalah tanggal 21 Ramadan.   

Tentu ini adalah perkara khilafiyah dan bukanlah hal prinsipil dalam urusan ushuluddin. Tadi pagi, sempat saya baca tulisan bagus dari Dosen Fakultas Agama Islam UNU Blitar, Gus Saifudin Yusuf yang mengulas berbagai macam pendapat tanggal nuzulul quran, lengkap disertai dalil Al-Quran dan hadist-nya.  

Saya rasa, zaman sekarang, amat mubazir berdebat tanggal nuzulul quran. Saya harus banyak-banyak bertanya pada diri, sudah berapa banyak ayat Al-Quran yang sudah dibaca hingga detik ini? Apakah rela ramadan tahun ini berlalu begitu saja tanpa khatam Al-Qur'an? Sudah yakinkah diberikan umur panjang hingga berjumpa ramadan yang akan datang?

Ya Allah, semoga diampuni, hamba yang banyak khilaf dan faqir ilmu ini. 

Wallahu A'lam.

Posting Komentar untuk "Perihal Nuzulul Quran Tanggal 21 Ramadan Menurut Peneliti Sirah Nabi"