Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana UNU Blitar di 'Mata' Sinta dan Webometrics?

Saya pernah menyampaikan curhatan ke Rektor UNU Blitar, Prof. Dr. H. M. Zainuddin. Seingat saya, awal Tahun 2019. Saat itu ada momentum rapat pimpinan yang juga dihadiri oleh jajaran Wakil Rektor. Berkenaan dengan penguatan tugas pokok dan fungsi masing-masing pemegang amanah struktural. Jika tidak diminta menyampaikan sesuatu, saya banyak diam di forum rapat. Saya harus banyak mendengar dan menerima masukan. Untuk selanjutnya, mengeksekusinya di tataran teknis. Sesuai bidang saya dalam mengelola teknologi informasi. 

Karena diminta menjelaskan rencana dan kendala yang dihadapi, akhirnya saya jelaskan sekilas. Di akhir sesi, saya selingi curhatan itu. Isinya tentang informasi yang tidak penting-penting amat. Namun, karena berpengaruh ke prestise dan wibawa perguruan tinggi, maka informasi ini harus sampai ke pimpinan.    

"Mohon maaf, Prof. Saat ini UNU Blitar tidak terdaftar di website perangkingan kampus, semacam Webometrics."

Webometrics merupakan sistem perankingan perguruan tinggi se-dunia berbasis website. Dibandingkan dengan situs perangkingan lain, misalnya 4ICU, Webometric lebih terkenal dan sering menjadi patokan untuk melihat universitas terbaik, baik lingkup nasional maupun internasional.

Beliau tersenyum dan bertanya balik, "Berarti kampus kita belum dikenal, ya mas?"

"Nggih, benar, Prof". 

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, mas?". 

Saya diam dan berpikir sejenak. 

"Sejauh yang saya tahu, Webometrics ini mengambil segala macam informasi dan data perguruan tinggi dari dunia maya, Prof, terutama publikasi ilmiah."

"Baik, nanti kita buat kebijakan terkait dengan publikasi dosen, semoga (UNU Blitar) muncul".

Ternyata benar. Beliau merumuskan kebijakan itu. 

Waktu itu, memasuki tahun akademik 2019/2020. Melalui forum pembinaan dosen, beliau mencanangkan kebijakan yang wajib dilakukan setiap dosen. Yakni satu dosen satu karya ilmiah. Minimal satu tahun sekali. Setidaknya ada satu publikasi hasil penelitian dan satu publikasi pengabdian. 

Untuk itu, beliau mendorong LPPM untuk mengusulkan akreditasi seluruh Jurnal UNU Blitar via Arjuna. Juga menambah jurnal ilmiah khusus bidang pengabdian masyarakat. Rencana itu berhasil, akhir Desember 2019, 2 Jurnal terakreditasi Sinta 4 dan 1 Jurnal terakreditasi Sinta 3. Permintaan publikasi artikel ilmiah dari luar UNU Blitar meningkat drastis. 

Selanjutnya adalah memotivasi para dosen untuk publikasi ilmiah. Sayangnya, tidaklah mudah untuk mendorong dosen untuk melakukan publikasi ilmiah. Harus ada motivasi kuat dalam diri setiap dosen. Apalagi bagi kampus yang baru berdiri. Tidak sedikit dosen yang berorientasi mengajar saja, layaknya guru. Padahal dosen lebih dari guru, terutama masalah kewajiban tri dharmanya. 

Sebagai pimpinan, Rektor UNU Blitar tidak hanya membuat kebijakan, namun ada realisasi nyata, buah dari turunan sebuah kebijakan. Yakni memberikan anggaran pendanaan penelitian dan pengabdian dari hibah internal perguruan tinggi. Terealisasi pada Desember 2019. Walaupun tidak seberapa, setidaknya sudah cukup untuk biaya publikasi di jurnal nasional terakreditasi Sinta. Sangat patut diapresiasi. Semoga di tahun berikutnya ada peningkatan.  

Ditambah juga adanya publikasi ilmiah dari dosen UNU Blitar yang mendapatkan hibah Penelitian Dosen Pemula. Ada belasan judul tiap tahunnya. 

Dampak yang lebih signifikan didapatkan dari publikasi ilmiah yang terindeks Scopus. UNU Blitar beruntung memiliki beberapa dosen muda yang sangat getol dan telaten untuk publikasi yang terindeks Scopus. Terutama dosen yang Studi S3, hukumnya wajib 'ain terindeks Scopus.

Beberapa waktu berlalu. Saya cek sepanjang Tahun 2020 yang penuh gejolak karena pandemi Covid-19, UNU Blitar justru makin bertaring di kancah perankingan nasional dan internasional. Tidak perlu muluk-muluk. Targetnya, unggul di lingkup Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). Khususnya yang PTNU Berbadan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama, karena UNU Blitar ada didalamnya, bersama puluhan PTNU yang baru dilahirkan di seluruh Indonesia. 

Kita mulai dengan pencarian ranking di Sinta. Situs ini milik Kementerian Ristek/BRIN untuk mengukur kinerja dosen dan institusi berdasarkan publikasi ilmiah dan sitasinya. Melalui Sinta, kita bisa mengetahui rangking kampus antar Universitas Nahdlatul Ulama. Cukup masukkan kata kunci "Nahdlatul Ulama" di pencarian. Maka muncul sejumlah 41 kampus se-Indonesia yang menggunakan kata "Nahdlatul Ulama" pada nama perguruan tingginya. Silakan anda coba di situs sinta.

Perangkingan versi Sinta


UNU Blitar tercatat berada di posisi tiga nasional. Terpaut sangat banyak dengan UNUSA yang sudah menembus score lebih dari 20 ribu. Hampir mustahil UNU Blitar bisa bersaing dengan UNUSA dalam waktu dekat. Sebanding dengan pesatnya perkembangan infrastrukur dan SDM di UNUSA saat ini. Peringkat kedua diisi oleh UNISNU Jepara. Sebenarnya score yang ada tidak terlampau jauh. Tapi, menyandingkan UNUSA dan UNISNU Jepara dengan UNU Blitar tidaklah apple to apple. Mengapa? UNUSA dan UNISNU Jepara bukanlah PTNU Berbadan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama. Kedua kampus itu sudah menjadi kampus senior PTNU yang sudah berdiri puluhan tahun. Sedangkan, mayoritas PTNU Berbadan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama baru berdiri kemarin sore, di era Menteri Ristekdikti Prof. M. Nasir. 

UNU Blitar boleh sedikit berbangga. Karena jika diukur dengan perbandingan PTNU Berbadan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama, UNU Blitar sudah menduduki peringkat terbaik di Sinta. Disusul dengan UNU Lampung, UNU Sidoarjo, UNU Sumatera Barat, dst. Itu baru perangkingan Sinta yang menasional. Bagaimana jika perangkingan internasional?

Kita cek di situs Webometrics. Dengan cara yang sama, dicarilah kampus dengan nama afiliasi "Nahdlatul Ulama". Hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil perangkingan versi Sinta. 


Perangkingan versi Webometrics

Hasilnya, didapatkanlah rangking Universitas Nahdlatul Ulama berikut:
  1. UNUSA dengan peringkat 196 Nasional dan 8446 Internasional
  2. UNISNU Jepara dengan peringkat 234 Nasional dan 9671 Internasional
  3. Disusul UNU Blitar peringkat 244 Nasional dan 9972 Internasional
Total yang terindeks di Webometrics secara nasional ada 2.626 kampus. Dan UNU Blitar peringkat 244 Nasional, diusianya yang belum genap 5 Tahun berdiri. Keren kan? 

Saya penasaran, bagaimana cara Webometrics sesungguhnya dalam melakukan perangkingan kampus? Lha wong mereka tak pernah asesmen lapangan layaknya BAN-PT. Tapi bisa menilai. Saya coba menelusuri penjelasan metodologinya di situsnya langsung. 

Metodologi Perangkingan Webometrics

Ternyata mereka menerapkan 4 indikator untuk menilai kampus seluruh dunia. Namun, satu indikator sudah DISCONTINUE, yaitu Presence. Entahlah, apa sebabnya. Indikator lain yang difungsikan adalah VISIBILTY yang bobotnya tertinggi (50%), lalu TRANSPARENCY (10%), disusul EXCELLENCE (40%). 

Penjelasan simpelnya: VISIBILTY didapatkan dari website di luar domain kampus yang didalamnya berisikan link merujuk ke domain kampus. Kok ribet ya? Bagaimana jika banyak website luar domain kampus yang didalamnya hanya berisikan data dan informasi seputar kampus tanpa ada link yang merujuk ke domain kampus? Saya tidak tahu. Kemungkinan, visibility ini bisa didapatkan dengan memperbanyak berita-berita UNU Blitar di portal-portal berita. Kalau TRANSPARENCY bisa via citasi dan EXCELLENCE via publikasi ilmiah, terutama Scopus. 

Berarti, dugaan saya benar. Menggunakan indikator itu, data dan informasi cukup didapatkan via dunia maya. Tak perlu capek-capek visit lapangan. Kelemahannya adalah hasil perangkingan tidak bisa menunjukkan kualitas 100% dari perguruan tinggi. Berlaku untuk Sinta maupun Webometrics. Jika menunjukkan gengsi dan wibawa, ya pasti bisa. Apalagi menunjukkan pencitraan kampus. 

Perjalanan masih panjang. Tidak perlu terlena dengan rangking Sinta walaupun Webometrics. Justru poin pentingnya adalah bagaimana agar seluruh Civitas Akademik UNU Blitar bersama-sama memperbaiki kualitas mutu internal perguruan tinggi, pada seluruh indikator kinerja utama. Kualitas perguruan tinggi justru bakal ditunjukkan oleh penilaian akreditasi oleh BAN-PT, yang menilai dari luar dan dalam. 

Saya bersyukur sekali memiliki Rektor yang berdedikasi luar biasa dalam memajukan UNU Blitar dengan kebijakan dan berbagai terobosannya yang cemerlang. Semoga Allah senantiasa mudahkan perjuangan ini. 

Posting Komentar untuk "Bagaimana UNU Blitar di 'Mata' Sinta dan Webometrics?"