Nekat, Bertaruh Nyawa Seberangi Bengawan Solo
Tadi siang, tiba-tiba saya mendengar kabar yang mengejutkan. Bukan soal kisruh pra pilkada ibu kota yang kian memanas. Bukan soal politik. Tapi soal perahu penyeberangan penumpang di Bengawan Solo dari Desa Ngadirejo, Kecamatan Widang, Tuban yang menuju ke wilayah Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan terguling saat berada di tengah aliran Sungai Bengawan Solo. Apesnya, penumpung perahu yang terguling itu adalah 25 santri dari salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia, Pesantren Langitan. Kabar terakhir yang diperoleh, ada 18 santri selamat karena bisa berenang. Sementara 7 lainnya masih dalam proses pencarian. Semoga mereka dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Amin.
Saya sengaja menulis ini karena pernah merasakan pengalaman 'horor' serupa, yakni menyeberangi sungai terpanjang di pulau jawa itu menggunakan perahu kayu, entah apa namanya. Belum terlalu lama, hari sabtu seminggu yang lalu. Kala itu, kami keluarga besar Asrama Al-Ikhsan bertolak dari Kota Malang menuju Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, tepatnya di Desa Pumpungan untuk bertakziyah ke rumah kawan kami yang baru saja kehilangan orang tuanya. Seusai bertakziyah, kami diberitahu oleh tuan rumah bahwa tidak jauh dari rumah kawan kami ada Sungai Bengawan Solo yang setiap hari dapat disebrangi masyarakat menggunakan perahu. Penasaran, kami menuju ke tempat yang dimaksud. Karena saya tak pernah tahu sebelumya, maka bayangan saya, warga disana menggunakan perahu seperti pada umumnya, anggaplah seperti perahu nelayan, yang hanya bisa mengangut orang. Namun, ternyata saya salah sangka.
Sesampai di tepian sungai, saya mengamati sungai Bengawan Solo terlihat lebih mengerikan dibanding jika dilihat dari jembatan. Betapa tidak, kami akan diajak menyebrangi sungai selebar ini hanya dengan perahu kecil bermuatan penuh. Penuh oleh orang-orang, sepeda dan sepeda motor. Benar-benar super dan unpredictable. Ingat ! Jangan harap ada pelampung untuk safety penumpang. Jika saya ngotot minta pelampung, mungkin saja malah ditertawakan. Karena warga sana sangat terbiasa tanpa pelampung. Bahkan mungkin saja malah dianggap aneh.
![]() |
| Banyak motor dan sepeda diangkut menyeberang Bengawan Solo |
Perasaan cemas mulai menggelayut ketika perahu mulai bergerak dari bibir sungai menuju ke tempat seberang. Arus sungai yang cukup deras memaksa mesin motor perahu bekerja lebih ektra agar perahu tak terseret arus deras. "Pak, kenapa kok nekat nyebrang sungai pakai perahu? Apalagi bawa motor juga, apa gak khawatir?" Tanya saya pada salah seorang warga. "Wah, kalau nyebrang pakai jembatan ya jauh mas, malah muter-muter itu. Kalau pakai perahu gini lebih cepat. Gak khawatir karena memang sudah terbiasa begini". Jawabnya lugu.
![]() |
Perahu ketika sampai di tengah sungai
|
Arus datang semakin kencang ketika perahu sampai ditengah sungai. Perahu sedikit oleng ke arah arus sungai mengalir. Disini, para penumpang dituntut tenang, kepanikan penumpang hanya akan menjadikan kekhawatiran menjadi kenyataan. Saya hanya berpikir positif, semoga perahu ini baik-baik saja. Walaupun, yang namanya musibah, pasti datang secara tiba-tiba.
![]() |
| Ditunggu puluhan penumpang perahu dari tempat seberang |
Perahu hampir sampai di tempat seberang. Disana puluhan warga sudah mengatri menunggu perahu agar bisa menyebrang ke tempat kami naik perahu tadi. Entah anak sekolah, petani yang mau ke sawah, para pekerja kantor, ibu-ibu yang pengen ke pasar, semua berjubel mengantri.
"Pak, ini perahunya beli sendiri atau dapat dari pemerintah?", tanya saya penasaran. "Halah mas, kelamaan nunggu bantuan pemerintah, terpaksa masyarakat sini swadaya sendiri untuk membuat perahu, tinggal kami ngasih ongkos ke warga yang kebagian tugas ngurusi perahu."
![]() |
| Warga yang mengantri naik perahu |
Mungkin karena agak tergesa-gesa atau mingkin karena kondisinya licin, saya melihat beberapa motor nyaris tercebur ke sungai, baik ketika turun dari perahu atau ketika naik ke perahu. Belum lagi, banyak warga yang ngotot berebut naik ke perahu duluan karena ingin cepat sampai di tempat tujuan lebih cepat. Hal ini sempat membuat petugas perahu beradu mulut dengan warga. "Sampean seng sabar dhisik buk, ngantri, ngenteni gilirane, piye leh." Teriak salah seorang petugas perahu dengan logat khas Bojonegoro.
![]() |
| Menyeberang dengan muatan penuh tanpa pelampung |
Suasana seperti itu ternyata berjalan tiap hari tanpa henti. Masyarakat disana barangkali dihadapkan dengan pilihan yang cukup sulit untuk menyeberang sungai, memilih memutar jauh dengan memakan banyak waktu tetapi lebih aman. Atau dengan waktu tempuh singkat menggunakan perahu, tetapi dengan resiko yang besar. Bisa saja perahu terbalik atau tiba-tiba tenggelam. Tentu kita tidak mengharapkan demikian.
Namun, kabar terbaliknya perahu tadi siang serasa semakin menyadarkan kita bahwa perahu penyeberangan bengawan solo ini memang jauh dari aman. Tidak semua masalah dapat diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri. Mereka memiliki banyak kekurangan. Terutama dana untuk meningkatkan satefy penyeberangan. Maka, disinilah peran pemerintah diperlukan, terutama pemerintah daerah yang wilayahnya dilewati sungai besar macam Bengawan Solo. Saya akui, membangun jembatan sangat menghabiskan biaya anggaran daerah. Dan belum tentu juga membangun jembatan adalah solusi terbaik.
Sebagai pengganti jembatan, barangkali pemerintah juga bisa memikirkan bantuan perahu yang lebih layak untuk menyeberang sungai, bukan perahu kecil yang rawan tenggelam, melainkan perahu yang layak dimuati kendaraan dan warga. Ini yang saya kira lebih representatif untuk dimanfaatkan warga. Apalagi biaya bantuan perahu jauh lebih murah dibandingkan membangun jembatan baru. Jika bukan bantuan perahu, bantuan paling minimalis yang bisa diberikan adalah paket safety macam pelampung bagi setiap penumpang yang menyeberang. Minimal, jika tiba-tiba ada musibah perahu terbaik, peluang korban yang terselamatkan menjadi lebih besar.
Jika kejadian terbaliknya perahu yang mengangkut santri tadi siang dianggap angin lalu oleh pemerintah terkait. Tentu warga juga tidak dapat berbuat banyak. Ujung-ujungnya adalah nekat bertaruh nyawa untuk menyeberangi Bengawan solo asal bisa sampai tempat tujuan. Semoga kejadian itu tak terulang kembali.
Wallahu A'lam
Mojosari, 7 Oktober 2016





Saya Juga pernah Mas menyebrang di atas Bendungan Karangkates. seru banget!
BalasHapusWih... kalo itu wisata emang mas...
BalasHapus