Daripada Pilkada, Pilkades Tetap Lebih Menarik
Beberapa hari terakhir, pemberitaan di layar kaca penuh oleh kabar perpolitikan ibu kota yang kian memanas. Bursa pencalonan DKI 1 bertambah heboh seiring salah satu pasang calon yang telah mantap pendaftaran diri ke KPUD. Di sisi lain, mereka yang mengklaim sebagai koalisi kekeluargaan masih sibuk mencari komposisi yang pas untuk menyaingi sang petahana.
Hiruk pikuk pra pilkada ibu kota rupanya nyaris tak terdengar di Mojokerto hari ini. Betapa tidak, tidak kurang dari 36 desa di Kabupaten Mojokerto serempak mengadakan pemilihan kepala desa untuk masa jabatan enam tahun mendatang. Unik memang, ternyata tidak hanya pilkada yang bisa serempak. Pilkades pun demikian. Entah mengapa, saya sebagai rakyat jelata justru merasakan atmosfer pilkades jauh lebih terasa dibandingkan pilkada. Ada yang menarik untuk ditesilik. Pilkades memunculkan dimanika yang unik di masyarakat.
Desa saya, belahantengah, menjadi salah satu penggembira dari pesta demokrasi kerakyatan ini. Pemilihan kades di desa ini menjadi menarik karena semua calon adalah non-incumbent. Kalau dalam prinsip ekonomi, kompetisi macam ini namanya persaingan sempurna. Sempurna karena dalam pilkades, apapun yang dimiliki sang calon harus dipertaruhkan, bahkan harus rela dikorbankan. Terutama uang.
Hari ini, dimana-mana saya melihat begitu banyak masyarakat antusias mendatangi kantor desa. Rela antri, bahkan berjubelan sedari pagi hanya untuk memilih calon yang dirasa tepat. Yang lebih menarik, antusias masyarakat lebih membuncah ketika perhitungan suara mulai dilakukan. Setiap calon rupanya memiliki basis massa sendiri. Terkadang, mereka bersorak sorai manakala nomor urut calonnya disebutkan oleh sang moderator.
Dinamika pilkades berlanjut. Ada yang menarik dari pilkades desa saya kali ini. Terutama sang calon. Ada tiga calon kades dari lima batas maksimum calon kades yang diperkenankan. Saya rasa, semua calon berkualitas, sangat pantas jika salah satu calon terpilih jadi kades. Mengapa? Ya tentu saja karena mereka sudah kadung terdaftar jadi calon kades. Jadi kalau terpilih, ya harus memantaskan diri dong. Hehe...
Calon pertama, ada mas fondra. Beliau masih tetangga saya. Masih muda, inovatif, berpendidikan tinggi, dan pastinya berpengalaman di organisasi kemasyarakatan. Beliau bahkan pernah menjadi ketua karang taruna di dusun saya. Cukup kaget saya mendengar beliau mencalonkan diri jadi kades. Jarang saya tahu ada pemuda dusun, 25 tahunan kira-kira, mampu seberani beliau. 2 jempol lah. Andai beliau benar-benar jadi. Tentu sejarah per-kades-an belahantengah akan berubah haluan.
Calon kedua, bapak senedi. Sejujurnya saya belum begitu mengenal beliau karena memang belum mengenal. hehe. Desas desus kabar burung yang terdengar, beliau orang yang cukup berpengaruh dengan modal keuangan yang kuat. Apalagi kades yang baru mengakhiri jabatan, ternyata masih berkerabat dengan beliau. Semoga belahantengah menjadi lebih baik di tangan beliau.
Calon terakhir. Seorang ibu-ibu. Ibu-ibu naik motor tentu menakutkan bagi pengendara yang lain. Kalau ibu-ibu nyalon kades, tentu lain lagi ceritanya. Perempuan ikut berpolitik memang bukan lagi hal tabu. Jika perempuan saja bisa nyapres, apalagi nyalon kades. Tentu wajar lah. Saya mengenal beliau dengan nama mbak cuk (bukan cuk misuh, ya!!!). Boleh di bilang masih ada darah kekerabatan lah dengan keluarga besar saya. Apalagi beliau anak mantan kades. Mungkin dengan itu, beliau berharap dapat mendompleng suara pemilih. Namun, ternyata hasil berkehendak lain. Baik, tak mengapa. Yang penting kalau naik motor jangan ugal-ugalan ya. Hehehe. Bercanda.
Pilkades tetap lebih menarik, lebih menguras emosi masyarakat. Bangga setengah mati bagi calon yang menang, kecewa sangat bagi mereka yang gagal. Mereka semua adalah masyarakat sekitar kita. Tak heran, saudara sendiri akan bermusuhan gara-gara beda dukungan. Yang terpenting, dinamika serangan fajar ternyata tetap mempengaruhi hasil. Entahlah...
![]() |
| Pilkades belahantengah. Foto oleh panitia |
![]() |
| Dimanika pilkades serempak mojokerto |
![]() |
| [masih] Dimanika pilkades serempak mojokerto |
Mojosari, 21 September 2016



Posting Komentar untuk "Daripada Pilkada, Pilkades Tetap Lebih Menarik"