Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulislah, Engkau Akan Hidup Sepanjang Zaman


Syeikh Abdullah Azzam, seorang pejuang islam terkemuka pernah mengatakan bahwa majunya peradaban islam diukir oleh dua hal, hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada. Kenyataanya, sepanjang kehidupan beliau hingga terbunuh di akhir dekade 80-an, lahir puluhan karya tulis yang hingga kini masih menggambarkan keteguhan pemikiran beliau membela islam. Lain lagi dengan pejuang islam sekaliber Sayyid Quthb, tokoh ikhwanul muslimin ini menjelang dieksekusi mati dengan lantang mengatakan, "Tuan, sebutir pelurumu yang nanti menembus kepalaku hanya akan membunuhku. Tapi tulisan dan buah pikiranku akan menembus ratusan, ribuan, jutaan kepala orang." Ucapan Sayyid Quthb ini jelas meneguhkan bahwa sebuah tulisan bisa jadi jauh lebih berpengaruh daripada sang empunya tulisan sekalipun. Mengapa? Karena tulisan akan lebih abadi daripada penulis tulisan itu sendiri. Mengutip apa yang pernah disampaikan Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk hidup di zaman modern yang gegap gempita dengan kemajuan teknologi. Siapa yang menyangka, di zaman modern yang hampir setiap orang hidup ber-gadget ini masih ditemukan karya tulis para ulama yang hidup ratusan tahun silam. Membaca buku ulama-ulama klasik seakan-akan kita bisa berguru dan berinteraksi langsung dengan mereka. Bahkan, seakan-akan mereka tetap hidup ditengah-tengah kita, mempengarui perilaku hingga pemirikan kita. Sulit dibayangkan, bagaimana bisa pemikiran mereka tetap abadi dan masih dengan mudah kita pelajari walaupun sesungguhnya mereka telah tiada. Ya, penyebabnya cuma satu. Tulisan ternyata berumur jauh lebih panjang dari pada sang penulis. Penulis hanya mampu hidup di satu zaman, namun tulisan akan mampu hidup melampaui segala zaman.

Seharusnya, kekalnya tulisan menjadi motivasi utama bagi setiap insan untuk berlatih menulis dan membiasakan menulis. Menulis adalah ladang dakwah, bukankah setiap umat islam wajib berdakwah? Jika kita tak pandai berbicara, lantas dengan apa kita berdakwah? Salah satu solusinya adalah dengan menulis. Tentu dengan memberikan tulisan yang berguna dan mencerahkan bagi pembacanya. Bahkan, saya kira dakwah dengan menulis lebih tahan lama daripada dengan pembicaraan. Coba kita teliti, seberapa persenkah kita mampu menyerap ucapan seseorang yang memberikan ilmu? Apalagi disaat kita tidak sedang berapa pada titik fokus untuk mendengar ucapan tersebut, lalu bandingkan dengan kita yang mampu dengan detil menyerap ilmu yang ada dalam sebuah tulisan. Karena tulisan adalah wujud nyata yang bisa kita simpan dan baca kapanpun, sementara ucapan adalah wujud abstrak yang datang sekali saat itu juga, kemudian menguap entah kemana.

Sejatinya menulis di zaman modern ini sungguh luar biasa mudah. Bahkan mungkin tidak relevan lagi jika dikatakan sebagai aktivitas menulis, mengingat kita lebih sering membuat tulisan dengan cara mengetik santai menggunakan media digital tanpa rasa capek. Coba tengok perjuangan ulama dulu untuk membuat tulisan dan menyatukannya menjadi buku tebal berjilid-jilid. Perjuangan yang dipastikan sungguh tidak mudah. Namun masya Allah, dengan segala kesulitan yang dihadapi ternyata banyak ulama kita yang menghasilkan karya tulis yang lebih tebal, kompleks dan lebih berkualitas dibandingkan karya tulis orang modern. Namun apapun itu, harusnya lebih malu lagi jika kita sepanjang hayat tidak mampu menghasilkan karya tulis apapun. Sama saja dengan kita telah lebih dulu mati sebelum kematian itu sendiri.

Menulis memang susah-susah gampang, susah karena berat untuk memulai, gampang karena menulis tidak sesusah yang dibayangkan. Banyak dari kita yang dengan semangat ingin sekali untuk menulis. Sayangnya, keinginan kita berakhir pada sebatas keinginan tanpa mencoba untuk memulai. Hasilnya? tetap tidak menghasilkan apapun kecuali ingin menulis. Pun dengan saya, hanya bisa berharap semoga tulisan ini menjadi cambuk untuk menyindir diri saya sendiri, yang belum mampu berkontribusi apapun dengan tulisan. Semoga kita tidak menjadi orang pandai yang nantinya akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Karena selain batu nisan, tulisan adalah bukti bahwa kita pernah hidup dan pernah berkontribusi. Mulai sekarang, ayo menulis ! Tulisanmu akan membuatmu hidup abadi sepanjang zaman.

oleh

Tanda Tangan

Posting Komentar untuk "Menulislah, Engkau Akan Hidup Sepanjang Zaman"