Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi Kisah Orang Tua, Anak dan Keledainya : Apakah Semua Kritikan Harus Dilakukan?

Ketika membahas mengenai kritik, maka siapapun mereka yang pernah, sedang atau akan hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas daripadanya. Ya, "dikritik" adalah konseksuensi utama bagi mereka yang melakukan suatu tindakan. Kritikan akan datang dari orang-orang untuk menilai tindakan yang dilakukan seseorang dengan cara yang baik-baik, hingga menyakitkan hati. Bagaimana pun cara orang-orang untuk memberikan kritik, tujuan utamanya adalah agar dia yang melakukan tindakan tersebut dapat merubah tindakannya. Namun ada beberapa hal yang perlu dicatat, apakah semua kritikan yang diberikan orang-orang itu perlu didengarkan? Jawabannya jelas, ya, tentu saja harus. Orang bijak akan mendengarkan dan menerima semua masukan yang diberikan. Tapi ingat, apakah semua kritikan perlu dilaksanakan? ini yang menjadi persoalan. Belum tentu kritikan maupun masukan yang diberikan itu baik untuk dilaksanakan, meskipun si pengkritik menganggapnya baik.

Masih tentang kritik, ada sebuah kisah populer tentang orang tua dan anak yang menaiki keledai untuk pergi ke suatu kota. Dikisahkan, agar tidak terlalu capek diperjalanan, maka orang tua dan anaknya bersama-sama menunggangi keledai. Namun ditengah perjalanan, orang-orang yang melihatnya sontak memperbincangkannya, "bagaimana bisa keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang, dasar tidak tahu kasihan terhadap hewan", gerutu mereka. Mendengar ocehan orang-orang, orang tua itu segera memerintahkan anaknya untuk turun berjalan kaki sedangkan dia tetap diatas keledainya. Orang-orang yang melihatnya memperbincangkannya kembali, "dasar orang tua tak tahu diri, bagaimana bisa dia membiarkan anaknya berjalan kaki sedangkan dia menunggai keledai sendiri", gerutu mereka. Tanpa pikir panjang, orang tua itu meminta anaknya naik kedelai kembali sementara dia berjalan kaki sambil menuntun keledai berjalan. Melihat orang tua itu berjalan kaki sementara anaknya naik di keledai, orang-orang kembali mengomentari tindakannya. "Benar-benar anak durhaka, tidak mengerti adab kepada orang tua, dia menunggangi keledai dan membiarkan orang tuanya berjalan, sungguh keterlaluan". Mendengar orang-orang yang terus memperbincangkannya, lama-lama orang tua itu mulai kesal, segera dia memerintahkan anaknya untuk turun dan bersama-sama berjalan kaki. Melihat orang tua dan anaknya berjalan kaki sambil menuntun keledai, orang-orang semakin heboh memperbincangkan bahkan menggunjingnya, "Dasar orang bodoh, apakah mereka berdua tidak tahu bagaimana cara menunggangi keledai?" komentar orang-orang sambil tertawa cekikikan.

Ilustrasi Ayah, Anak dan Keledainya (sumber : kucingberandal.blogspot.co.id)

Kisah orang tua, anak dan keledai diatas tentu dapat menjadi bahan refleksi dan perenungan bagi kita semua. Betapa kita akan disadarkan, melakukan semua tindakan sebagaimana yang dikritikkan oleh orang-orang akan semakin membuat kehidupan terasa tidak nyaman. Apa yang harus dilakukan? Tentu saja, tetap terima semua masukan dan kritikan namun pilih mana masukan yang terbaik, atau bahkan jangan hiraukan kritikan jika malah membuat keadaan semakin rumit.

Menukil dari apa yang disampaikan guru saya, jika engkau tidak mau dikritik, caranya gampang, Jangan jadi siapapun, jangan berkata apapun dan jangan melakukan apapun. Mustahil bukan? karena konseksuensi orang hidup pastilah akan dikritik. Sekali lagi, sebagai orang yang bijak, terima dan dengarkan baik-baik semua kritikan walaupun cara penyampaiannya menyakitkan. Kita tidak berhak dipuji jika kita tidak bisa menerima kritikan. Terakhir, tetap putuskan mana tindakan terbaik agar kisah kita tidak berakhir pilu seperti kisah orang tua, anak dan keledai yang melakukan semua tindakan sebagaimana yang dikritikkan orang-orang. Semoga bermanfaat.

ditulis oleh

Tanda Tangan

Posting Komentar untuk "Refleksi Kisah Orang Tua, Anak dan Keledainya : Apakah Semua Kritikan Harus Dilakukan?"