Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manakala Senja Ramadhan Mendadak Ricuh

Sinar matahari senja perlahan memudar terhempa gugusan bukit di ujung barat Kota Malang.  Menantikan suasana malam yang kunjung tiba.  Alunan merdu sang muadzin, mendayu-dayu memanggil umat islam untuk menjalankan kewajiban. Masjid Putih, begitu saya memanggilnya, tengah sibuk dengan banyaknya pemuda dari berbagai arah yang datang untuk sekadar mencari pelepas dahaga pembatal puasa. Saya dan semua pemuda yang ada disitu memang sepertinya sengaja datang untuk mencari ta'jil. Maklum, sedari dulu memperoleh apapun yang bisa didapat secara gratis memang menjadi tabiat normal mahasiswa. Termasuk saya.

"Kita sholat maghrib dulu ya, nanti kita lanjutkan buka bersama", ucap salah seorang berkopiah memberikan komando, mungkin beliau salah satu pengurus masjib putih itu, pikir saya. Jika tidak ada aba-aba seperti itu, kemungkinan mereka mahasiswa yang mulai lapar akan menyerbu puluhan makanan yang telah terhidang diteras masjid, tanpa harus tahu makanan itu sudah boleh dimakan atau belum. Memang  ada yang bilang, rasa lapar dapat mengalahkan akal sehat. Kalau sudah lapar, semua diembat.

Sholat maghrib berjamaah di masjid putih berlangsung khusuk hingga memasuki rakaat terakhir.  Mendadak dari arah Taman Merjosari, terdengar suara keras alunan musik yang saya sendiri tidak tahu bergenre apa.  Suara musik yang berasal dari kombinasi pukulan drum, terompet, gitar, dan berbagai alat musik lain itu sampai terdengar menggema di dalam masjid putih.  Hingga sang imam menguluk salam tanda berakhirnya shalat mahrib, suara musik itu masih terdengar jelas. "Apa mereka yang main musik tidak tahu, kalau musiknya bakal mengganggu para jamaah ya?  atau jamaahnya yang tidak merasa terganggu? Atau mungkin malah konser musik di situ sudah biasa? Walau tak peduli sekarang bulan apa? ", pikir saya penasaran.

Tiba-tiba kejadian yang tak terduga muncul, bapak berkopiah yang memberikan komando sholat jamaah tadi berdiri dan memberikan isyarat agar jamaah lain ikut berdiri, sementara kami para mahasiswa yang dengan wajah polos hanya bisa melongo dengan fikiran berbunga-bunga, berharap bapak itu mengajak kami semua menyerbu santapan buka puasa yang telah meronta-ronta minta dimakan.  Ternyata bapak itu memberikan komando mengejutkan. "Wahai saudara-saudara jamaah sekalian, kekhusukan sholat kita telah diganggu oleh mereka-mereka yang tidak tahu sopan santun, dengan seenaknya mereka memainkan musik keras-keras ditengah waktu maghrib, apalagi sekarang malam jumat di bulan suci ramadhan. Saya mengajak saudara-saudara untuk ikut serta, bersama-sama kita membubarkan kemunkaran yang merisaukan warga sini. Ayo ! Buka puasa kita tunda hingga mereka bisa dibubarkan, harap semua jamaah sadar dan ikut serta." Teriak bapak itu berapi-api. Begitu membaranya komando bapak berkopiah seakan menyemangati laskar perang yang akan bertempur di medan jihad.

"Iki ape nyapo to?" Tanya saya penasaran pada teman di samping saya. Teman saya hanya mengangkat bahu, pertanda kita memang anak yang benar-benar polos. Tanpa banyak tanya lagi, saya segera menyusul bapak berkopiah yang sudah berada diluar masjid bersama jamaah lain, saya anggap ini kejadian seru yang jarang saya alami, sementara para mahasiswa terpecah, ada yang ikut rombongan pembubaran termasuk saya, ada pula yang dengan setia menanti hidangan di teras masjid. Biasalah, kelakuan pasukan nasi bungkus.

"Ayo, kumpul semua, kita rapatkan barisan untuk memberantas kemunkaran, kami warga disini sudah sering resah dengan berbagai kegiatan tanpa izin, kalau bermanfaat sih tak mengapa, lah ini kegiatan hura-hura tak jelas, apalagi ini malam jumat, bulan ramadhan lagi." ucap bapak berkopiah yang dibenarkan para jamaah lain. Dengan langkah pasti bak melakukan sweeping ala ormas islam, kami bergerak bergerombol menuju pusat kegiatan konser musik berlangsung. Rupanya, sejak beberapa saat lalu, musik telah berhenti. Mungkin alunan keras tadi adalah bagian dari cek sound mereka.

Rombongan kami semakin dekat menuju pentas konser, ternyata kami melihat begitu banyak pasangan muda-mudi yang berjubel memadati sudut-sudut taman demi melihat konser musik berlangsung, ada yang nongkrong di gazebo taman, rerumputan taman hingga tempat parkir sepeda motor.  "Ironis, bulan ramadhan tapi maksiat jalan. Mereka sholat maghrib dimana ya? Apa mungkin dijama' sekalian dengan isya'?", pikir saya macam-macam. Barangkali karena personel band mereka tidak melihat rombongan kami yang kian mendekati panggung, mereka justru langsung menabuh seluruh alat musik untuk melanjutkan konser. Bum… Prak… Bum… Tet… Toott… tett… alunan musik menggema keras menggetarkan sudut-sudut taman.

"Woyyyy…… Berhenti…. ", "Hentikan musiknya….."


Teriak para jamaah yang dipimpin oleh bapak berkopiah tadi, sambil mengacung-acungkan tangan mengisyaratkan berhenti. Untungnya, para jamaah tidak ada yang sampai bawa celurit. Karena teriakan berhenti tidak dihiraukan, kami kian beringas menyerbu panggung. "Hentikan musiknya woy….", teriak para jamaah dihadapan personel band itu. Beberapa penonton muda-mudi terlihat ketakutan. Tak lama berselang, musik pun dihentikan.

"Ada apa ini ribut-ribut?" teriak pemimpin band tak mau kalah. Adu mulut pun terjadi. Suasana kian tegang karena kedua kubu mempertahankan argumen masing-masing, walau tidak sampai ada kontak fisik. Saya yang sedari tadi melihat dari dekat tak mau ikut campur memperkeruh suasana. Saya khawatir, jangan-jangan nanti wajah saya malah kena bogem. Saya hanya menyamar jadi wartawan yang sibuk memotret momen langka itu.
Para jamaah menggeruduk tempat acara

"Kami warga sekitar taman ini merasa terganggu dengan kegiatan macam ini. Ini bulan ramadhan mas, harusnya kalian sadari itu. Ini kegiatan tak berizin !", ucap bapak berkopiah dengan nada tinggi.

"Betuuulll….. Harusnya dibubarkan saja, mengganggu ketenangan !", ucap jamaah lain.

"Siapa bilang kegiatan ini tidak berizin, kami sudah mendapatkan izin dari pejabat berwenang." Bela personel band.

"Kami punya suratnya." seloroh personel lain.

Agar tidak berlanjut gontok-gontokan, salah seorang personel mengajak rombongan kami untuk melihat surat perizinan yang dimiliki, dia berjalan menuju ke sebuah rumah kecil semacam pos satpam ditengah taman. Personel itu masuk ke pos sementara jamaah lain menunggu di luar. Suasana semakin ricuh.

"Siapa yang mengizinkan ada kegiatan merusak macam ini? Apa yang mengijinkan gak mikir ini akan mengganggu !" keluh beberapa jamaah.

"Kalau acaranya bermanfaat macam istighosah atau tablig akbar kami tak akan mempersoalkan walau tidak ada izin, lah ini malah hura-hura." seloroh yang lain.

Tak lama, personel tadi keluar membawa selembar surat keterangan yang berisi perijinan kegiatan. Berbekal surat itu, dia membela diri bahwa kegiatan itu telah dilegalkan.

salah satu personel mengklarifikasi perijinan

"Kegiatan macam ini tak perlu surat pun sudah jelas mas, harus dibubarkan !" teriak salah seorang jamaah. Ditengah situasi yang tidak kondusif, maka untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk, bapak berkopiah selaku pimpinan jamaah memberikan keputusan akhir, "Kami, selaku warga menyatakan menolak ada kegiatan macam ini mas, tidak pantas jika bulan ramadhan yang berkah harus dikotori oleh kegiatan tak bermanfaat macam ini, tolong sadar sedikitlah,, pokoknya sekali lagi kami mendengar suara alat musik dimainkan, panggung kalian akan kami ratakan !" ucapnya dengan tegas.

"Setuju……", jawab jamaah kompak.

Raut wajah personel band mendadak pucat, dia bingung harus melakukan apa, tidak ada jalan lain selain harus tunduk pada kemauan para jamaah. Akhirnya, rombongan kami membubarkan diri kembali ke masjid putih untuk melaksanakan acara inti, yaitu buka bersama dengan tertib.

Sejujurnya, saya sendiri merasa salut dengan warga masyarakat sekitar masjid putih, ditengah banyaknya warga kota yang cuek bebek dengan kondisi lingkungan mereka, ternyata masih ada warga yang dengan tegas mengingatkan kebatilan dan mengajak kepada kebaikan.  Peringatan keras seperti yang dilakukan warga barangkali adalah bentuk klimaks dari keresahan yang berkelanjutan.  Apalagi jika melihat taman kota seperti Merjosari yang baru saja dibangun ternyata dipenuhi oleh berbagai bentuk kemaksiatan. Siapapun yang tidak miris melihat berbagai bentuk kemaksiatan, tanda matinya mata hati.

"Cegahlah kemungkaran dengan kekuasaanmu, jika tidak mampu, cegahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hatimu, itulah selemah-lemahnya iman", sabda Rasulullah yang saya ingat ketika mengaji dulu.

Wallahu A'lam Bisshowab

Posting Komentar untuk "Manakala Senja Ramadhan Mendadak Ricuh"