Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengajar Dengan Ucapan, Mengajar Dengan Tulisan


Suatu hari di sebuah kelas, seorang guru bertanya kepada seluruh muridnya, “Anak-anakku, apa cita-cita kalian kelak!”. Beliau menunjuk satu per satu setiap murid yang ditanyainya. “Jadi Insinyur bu…”,”Saya polisi, bu..”, “Saya akan menjadi pengusaha saja bu…”,”kata mbah saya , saya nanti jadi sopir, bu… “. “Grrrrr….”, Sontak seluruh kelas riuh oleh tertawaan murid-murid. Cita-cita menjadi sopir adalah sebuah lelucon yang menggelitik, padahal sebetulnya sah-sah saja. Dan akhirnya, tibalah pertanyaan itu pada murid berbadan mungil yang duduk dipojok depan sebelah kanan, persis didepan meja guru. “Hmm.. Saya… bercita-cita menjadi guru, bu..”. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba menjadi senyap. Bu guru memandang murid itu dengan senyum lembutnya, “Bagus nak, engkau akan menggantikan saya kelak, mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa”.

Kisah itu saya alami ketika duduk dikelas IV Madrasah Ibtida’iyah silam. Jika ditanya tentang cita-cita, maka saya jawab bahwa cita-cita bukanlah hal remeh. Cita-citalah yang akan menentukan siapa dirimu dimasa depan, walaupun kebanyakan masa depan tidak selalu sesuai dengan cita-cita. Sejatinya, menjadi guru adalah cita-cita saya sejak kecil, sejak belum mengenal aksara. Saya terlahir di keluarga pendidik. Hampir seluruh putra-putri nenek saya adalah seorang pendidik. Baik menjadi guru sekolah maupun guru mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an, termasuk ibu saya.
Jika ada pepatah yang mengatakan, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, maka itu benar. Setidaknya memang itulah yang saya alami. Pergumulan dengan lingkungan pendidikan yang intens setiap harinya membuat saya jatuh hati untuk mendalaminya. Jiwa saya seakan terbentuk untuk menjadi seorang pengajar, menjadi guru yang menelurkan gagasan-gagasan bagi murid-muridnya.

Teringat masa ketika masih balita, ibu selalu mengajak saya ikut menyimak apa yang beliau ajarkan di kelas. Saya didudukkan diatas kursi guru, sementara beliau serius memberikan pengajaran. Tak pelak, tingkah polah konyol saya saat itu terkadang mengganggu konsentrasi kelas. Mencorat-coret buku absen, menyobek kertas nilai, membanting buku ajar hingga berlarian membawa tas guru menjadi pemandangan lumrah. Jika diajak ibu ke sekolah, yang saya benci hanya satu hal. Dijadikan objek guyonan para murid ketika jam istirahat. Dicubiti karena gemes, digendong, dijewer, ditarik-tarik hingga ditertawain rame-rame. Barangkali, jika sekarang saya tahu siapa pelaku yang membully saya saat kecil dulu maka akan saya tuntut pertanggungjawaban. Hehehe…

Pengalaman masa kecil membuat saya begitu terbiasa untuk mendalami dunia pendidikan. Pun jika sewaktu-waktu saya diminta meniru bagaimana cara mengajar, dengan semangat saya melakukannya. Pengalaman pertama diminta menjadi guru adalah ketika saya masih duduk dikelas V Madrasah Ibtida’iyah. Bukan menjadi guru sekolah, namun menjadi guru mengaji di TPQ tempat ibu biasa mengajar tiap sore. Kala itu, ibu berhalangan hadir dan meminta saya menggantikan beliau untuk mengajari teori MAD dalam tajwid. Uniknya, murid-murid beliau ketika itu adalah teman sepermainan saya. Maka, suasana janggal pun terjadi, saya bingung harus memulai dari mana dalam mengajar. Saya teramat grogi untuk memposisikan diri sebagai guru. Agar suasana mencair, saya menerangkan materi mengaji sesuai dengan gaya bahasa yang biasa saya gunakan ketika berkomunikasi sehari-hari. Benar saja, mereka ternyata nyambung dengan apa yang saja jelaskan. Jadilah sejak saat itu, mereka menjuluki saya UJE, ustadz muda pupuler yang sedang naik daun saat itu. Bahkan hingga sekarang, mereka tetap memanggil saya UJE jika saling bertemu.

Saya memiliki pengalaman konyol ketika pertama kali menapaki dunia kampus . Saat berkenalan dengan teman-teman baru satu angkatan, banyak dari mereka yang seakan tidak percaya bahwa saya adalah mahasiswa teknik informatika. Banyak yang menganggap bahwa gaya penampilan saya lebih pas untuk menjadi mahasiswa tarbiyah dari pada mahasiswa teknik. Tidak puas melihat kenyataan bahwa saya adalah mahasiswa teknik, tidak sedikit yang bertanya balik, “mengapa kau tidak mengambil jurusan keguruan saja, bukankah passion mu adalah guru?”. Entahlah, saya masih berkeyakinan bahwa menjadi seorang guru tidak harus kuliah keguruan. Setiap orang berhak untuk menjadi guru sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Toh, saya tetap berkeinginan untuk menularkan ilmu sesuai bidang yang saya kuasai.

Perputaran waktu membawa saya terbang jauh meninggalkan masa lalu. Saya seringkali merindukan masa-masa itu. Merindukan suasana belajar mengajar. Manakala menapaki dunia akademik kampus seperti saat ini, yang paling saya suka adalah menjadi narasumber presentasi. Saya seperti menemukan dunia saya yang terpendam. Dengan presentasi didepan kelas, saya bebas berekspresi sesuai dengan gaya-gaya pengajar. Dan saya akan tambah bersemangat jika topik yang saya bahas didengar dan disimak dengan seksama. Presentasi seakan menghadirkan mimpi saya untuk menjadi seorang guru, walau hanya sesaat. Pengalaman telah mengajarkan saya untuk senantiasa tampil percaya diri dan menikmati suasana ketika menjadi pembicara. Itulah karakter seorang guru yang wajib saya kuasai.

Kini, saya menyadari bahwa menjadi seorang guru tidaklah harus memiliki murid. Menjadi guru tidak harus menyampaikan materi secara langsung dengan ucapan. Cara lain yang lebih efektif untuk menularkan ilmu adalah dengan menulis. Seorang pembelajar memang haruslah bisa mengajar. Menulis adalah salah satu cara mengajar seorang pembelajar. Maka dari itu, saya membuat situs khusus yang menampung tulisan-tulisan pengajaran saya. Tulisan yang dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Biarlah tulisan itu yang nantinya menjadi saksi bahwa saya tetap bertekad untuk menjadi seorang pembelajar yang terus mengajar. Mengajar lewat ucapan, dan mengajar lewat tulisan. Wallahu A’lam.

Posting Komentar untuk "Mengajar Dengan Ucapan, Mengajar Dengan Tulisan"