Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Balada Rentetan Tashrif, Serpihan Catatan Santri Abangan

Fa'ala Yaf'ulu Fa'lan Wamaf'alan Fahuwa Fa'ilun Wadzaka Maf'ulun Uf'ul Lataf'ul Maf'alun Maf'alun Mif'alun.

Lafadz-lafadz aneh itulah yang pertama kali saya baca ketika membuka bab pertama buku Tashrif pemberian guru Madrasah Diniyah awal-awal masuk dulu. Sebagai seorang anak polos yang sama sekali belum pernah 'nyantri', tentu saja saya bingung tak karuan kala memahami apa yang di maksud lafadz-lafadz itu. Sejarah di memori otak telah mencatat, belum pernah sekalipun saya menemui Tashrif semenjak duduk dibangku TK, SD, SMP hingga SMA. Terus mengapa tiba-tiba harus saya pelajari?

Kriekkk.... Mesin sejarah kembali berputar ke masa silam, masa ketika saya dipaksa harus berhadapan dengan angkernya cabang-cabang ilmu Nahwu Shorof yang salah satunya adalah Ilmu Tashrif. Ya, akhir tahun 2009, menimbang tingkat keilmuan islam saya yang kering, saya didaftarkan Ibu saya untuk mengikuti Madrasah Diniyah yang dikelola oleh teman lama beliau semasa Mondok dulu. Meskipun lokasi Madrasah cukup jauh di desa sebelah dan ngajinya pun hingga larut malam tiap harinya, ditambah dengan tugas-tugas sekolah yang berat, namun dengan niat tholibul ilmi yang agak maksaya sudahlah, saya terima saja.

Asumsi saya mengira bahwa Madrasah Diniyah tidak lebih dari perkembangan TPQ saja, paling yang diajarkan ya kitab-kitab gituan, Sulam Safinah, Sulam Taufiq, dan kitab-kitab pengantar yang lain. Namun kenyataannya, pelajaran diniyah yang ada membuat saya pengen jungkir balik. Semua kitab yang diajarkan belum pernah sama sekali saya dengar, dan seluruh pelajaran sudah terjadwal rapi dari hari senin hingga minggu. Liburnya mana ini? Ternyata butuh nama hari baru untuk penetapan hari libur tiap minggunya atau jika kesulitan ngarang nama hari baru berarti santri jika ingin libur ya meliburkan diri.

Lalaran Tashrif

Sejatinya, madrasah ini memiliki 4 tingkatan kelas, yang masing-masing kelas diisi oleh santri-santri sesuai tingkat kefahamannya. Awalnya saya sudah meronta-ronta ingin masuk kelas 1 saja, mengingat saya gak punya bekal apa-apa. Saya pun ikhlas jika harus disandingkan dengan bocah-bocah ingusan yang rata-rata masing SD/MI, malah saya anggap santri kelas 1 tersebut jauh melampaui kemampuan saya walaupun hanya sebatas kemampuan memaknai kitab dengan tulisan pego. Lah, saya memaknai kitab dengan tulisan pego pun tidak bisa. Tapi, guru diniyah punya pikiran lain, beliau yang biasanya dipanggil santri dengan panggilan Abah Mail menginginkan saya agar masuk kelas 4 saja. Alasannya, agar saya yang udah kelas 10 SMA kala itu, punya teman ngaji yang sepadan. Padahal kelas 4 itu kelas mistis, santri-santri udah pada superior, baca kitab gundul saja udah kayak baca koran, kecepatan memaknai kitab seperti ketikan komputer, jangankan cuma berdebat masalah nahwu shorof, lah kitab nahwu shorofnya saja mereka udah pada hafal semua.

Oleh senior kelas, saya ditunjukkan deretan angker kitab-kitab yang dipelajari tiap hari, tercatat mulai hari senin Kitab I'lal (cabang ilmu shorof), Tashrif, Jawahirul Kalam, Fathul Qorib, Jurumiyah (Ilmu Nahwu), Ta'lim Muta'allim, dan berbagai nama lain. Aduh ampun... Tidak paham semua saya.

Saya berpikir ulang, jangan-jangan saya salah masuk diniyah ya. Melihat tingkah pola saya yang pendiam dan terkesan kaku bahkan plonga plongo, beberapa santri mengingatkan jika semua ilmu itu mudah dipelajari, asalkan dibarengi dengan niat ikhlas dan rasa ingin tahu yang dalam. Saya bahkan sempat menyesal mengapa tidak dari dulu saja saya nyantri., ... Tak apalah, kalau tidak dari sekarang kapan lagi, gumam lubuk hati saya.


Bersambung


Posting Komentar untuk "Balada Rentetan Tashrif, Serpihan Catatan Santri Abangan"