Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ziarah Kubur, Pengingat Kematian

Meskipun siang kemarin langit nampak bergulung-gulung penuh awan hitam tebal pertanda cuaca yang memang tak bersahabat, tak menyurutkan langkahku untuk menemani ibu dan Bu Dhe yang jauh-jauh menyempatkan datang. Bukan tanpa alasan kami siang itu datang ke kampung terpencil langganan banjir, Desa Salen, Bangsal, sekitar 3 kilometer masuk ke utara setelah jalan raya Mojosari - Mojokerto.

Ketika berziarah beberapa tahun silam, dan berfoto dengan juru kunci makam yang sekarang juga sudah wafat


Sudah menjadi rutinitas kalau setiap Kamis Malam Jum'at Legi, Anak-anak Alm. Nenekku rutin melakukan ziarah kubur ke makam nenek. Ku lihat dibatu nisan beliau, beliau wafat tahun 2009 silam. Berarti Tahun ini adalah tahun ke empat beliau telah berpulang kerahmatullah. Setelah kami berdoa untuk beliau, ku lihat sekeliling area pemakaman. begitu padatnya penghuni kuburnya hingga yang kulihat hanyalah hamparan ratusan batu nisan berjejer berantakan entah dari tahun kapan saja mereka telah menjadi penghuni disini.

Kulihat diujung timur area pemakaman ternyata pada saat yang sama banyak orang dari dusun sebelah yang berkerumun. Maklum, ada orang yang meninggal dunia dan hendak dikebumikan.

"Meninggal Dunia Kamis malam Jum'at Legi.... Berarti makamnya harus ditunggu ya??" bisik ibuku kepada bu Dhe...

Entah mengapa orang dulu sangat meyakini kalau orang yang meninggal dunia hari itu, makamnya harus ditunggu oleh kerabat otau orang suruhan terutama dimalam hari selama 40 hari atau bahkan 100 hari penuh. Apabila tidak ditunggu dikhawatirkan makamnya akan digali oleh Para Pencari Ilmu hitam dan mengambil kain kafan jenazahnya yang memang konon sangat bertuah untuk ritual ilmu hitam. Mengenai kebenarannya ya Wallahu A'lam.

Ditengah iringan gerimis yang mulai membasahi lebatnya dedaunan pohon kamboja, ku melangkah pelan ingin melihat siapa yang meninggal dari dekat.

"Lare Dadapan Mas, Tasek Nem sak sampeyan niki ... Peja e ndadak,, Sesek terose". (Anak Dusun Dadapan mas, ini Masih muda seperti Sampeyan, Meninggal mendadak, Kata sih sesak)

begitulah jawaban salah seorang lelaki tua yang kutanyai siapa yang meninggal. Darahku berlahan berdesir pelan, bulu kudukku merinding mendengar jawaban itu. Banyak sekali hikmah yang dapat kupetik dari peristiwa ini. Betapa banyak orang diluar sana yang menganggap kematian mereka masih jauh. Padahal begitu banyak orang yang meninggal sangat mendadak, bahkan mereka yang akan meninggal tak terbesit dibenaknya sama sekali kalau beberapa saat lagi mereka akan meninggal. Kalau sudah begini yang datang hanyalah 'penyesalan'. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika yang dikuburkan disana itu adalah aku.... huhhhuhuhu.....

Ya Allah... Ampunilah aku yang selama ini lalai mensyukuri nikmatmu....

Tak berdaya dimasukkan ke liang lahat yang gelap, sempit, pengap, sendirian...... Hwa...... Penuh dengan binatang tanah yang banyak orang melihatnya saja sudah jijik. Hingga perlahan-lahan membusuk dimakan cacing dan belatung. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan, Kecantikan, ketampanan, Kekayaan, Harta,... Apalagi yang bisa kita sombongkan bila jasad sudah ditanam di tanah???  Tidak Ada... Kita menjadi makhluk hina yang tak sanggup berbuat apa-apa, bahkan dunia yang kita bangga-banggakan selama hidup pun pasti juga akan  meninggalkan kita.. Harta benda dan keluarga kita pun tak akan mau menemani kita walaupun kita berteriak ketakutan dialam kubur sendirian...   Coba kita renungkan syair jawa ini...

Ditumpakke kereto jowo seng rodane rupo menungso...

Dilebokke njero guwo tanpo bantal tanpo kloso...

Diderekke keluargane, bandane, serto amale..

Mongko bali rong perkoro kejobo amal sholeh olo...

Ditutupi Anjang-anjang, Diuruki, disiram kembang..

Seng Sholate.. Arang-arang, Pertandakke imane kurang..


Memang, kematian itu kepastian yang pasti akan terjadi kepada setiap yang bernyawa. Begitulah firman Allah yang termaktub jelas dalam Al Qur'an...  kematian akan menjemput siapa saja, Tak peduli kau siapa, walau kau berlindung dibenteng yang kuat sekalipun. hanya waktu yang akan menjawab,  menunggu detik demi detik yang terus berjalan cepat.

Namun mengapa begitu banyak yang lalai mengabaikan nikmat kesehatan dan kesempatan. Apalagi kawula muda seperti aku. Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma, Astagfirullah. (_ _)

Ya Allah berilah kami hidayah-MU agar setiap detik yang kami lalui bisa bermanfaat bagi kami, sebagai bekal untuk menghadap-Mu kelak... Amin.....

Begitu banyak Hikmah yang dapat diambil dari apa yang terjadi disekitar kita...

Wallahu A'lam Bisshowab....

Posting Komentar untuk "Ziarah Kubur, Pengingat Kematian"