Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tragedi Brondong, Terjebak dalam Kesalahpahaman (1)

Mentari Tuban yang sedari tadi menganga menyengat siapa pun yang menantangnya itu, kini perlahan mulai mengendurkan terkamannya. Yup, tentu saja mulai lebih bersahabat. Yeah, akhirnya.

Suara 'emas' qori' Muammar dari menara Masjid Jami' Tuban mengiringi langkahku perlahan meninggalkan area makam. Pertanda adzan ashar akan segera menggema. Suara merdu Qori' Jawara internasional itu memang tersohor hingga seluruh pelosok nusantara. Beliau mampu menginspirasiku untuk terus belajar 'Tilawah' hingga menjadi 'muammar-muammar' baru. Amin, semoga saja. Sosok Muammar memang begitu  'beken' di kampungku. Kenapa? Karena setiap hari jum'at beliau tak pernah absen menghiasi "tape" masjid kampungku. Tak mengapa, meskipun hanya berupa 'cassete', tapi suaranya mampu menggetarkan gendang telinga ku untuk lekas segera menunaikan kewajiban sholat jum'at.

Lantas, apa yang terjadi dengan judul 'aneh' di atas? tunggu dulu..

Let's back to my journey.

Setelah hasrat 'religi' ku di Makam Sunan Bonang terpenuhi, gegera ku 'tanjap gas' dengan semangatnya menuju tempat bisku yang duduk manis menantiku. Maklum, tujuan berikutnya adalah sebuah tempat yang membuatku 'ngiler' satu ember. Apa? Tentu saja "Pantai".  Pantai Delegan, sebuai pantai indah di perbatasan Kabupaten Lamongan dan Gresik. Namun sebelum itu, rombongan yang kebanyakan hobi masak ini ingin sekadar mampir melihat ikan berjemur telanjang di TPI Brondong.

Aku pun tak tahu, apa itu TPI? Channel teve yang sekarang ganti nama jadi MNC TV kah? atau, Tempat Penampungan Ikan? Tempat Pelelangan Ikan? Tempat Penimbunan Ikan? Tempat Pembelian Ikan? Tempat Penjemuran Ikan ? Tempat Pembunuhan Ikan? Tempat Penyiksaan Ikan? 

Bis ku merambat pelan keluar halaman parkir 'Wisata Religi Sunan Bonang'..  Aku yang duduk santai di belakang sopir memang tak tahu apa-apa kalau nantinya ada peristiwa langka yang baru sekali ini ku alami.. hingga peristiwa itu seakan ''nyaris' mengubur mimpiku dan mimpi ibu-ibu rombongan untuk memandang indahnya pantai Delegan... wkwkwkwk.. kasiand..

Lanjuuuttt.........Bis ku berjalan mulus mengitari Kota berharap menemukan titik terang jalan keluar dari Kota Legen ini.... (kayak tersesat aja ya.. hehe)... Okelah....

"gak ngapa-ngapain" di Bis buatku jadi pengen tidurr.. 'ngantuk'.. sebuah kata yang lumrah di jumpai ketika bosan menunggu sampai ke tujuan wisata... itu lebih mendingan dari pada hanya diam melototin aspal dan pohon-pohon samping jalan yang juga seakan bergerak mengamini 'teori' aneh tapi nyata pelajaran Fisika ku dulu... "Relativitas Khusus"... hehehe jadi pengen sekolah SMA lagi nih..

Bagi teman-teman SMA kelas XII atau pernah atau akan menjadi siswa kelas XII pasti 'dipaksa' mendalami salah satu teori fisika ini. gak papa.. teori ini anehh, tapi sangat bermanfaat karena aplikasinya memang benar-benar ada dalam kehidupan kita lhoo.. salah satunya ya peristiwa tadi.. Pohon yang relative bergerak berlawanan dengan bis ku, padahal, yang sebenarnya bergerak adalah bis ku.. makanya pohon tadi disebut bergerak 'relative'.. (kayak guru aja... heheh.. Amin)

Sebab dari Kesalahpahaman Itu

Setengah jam berlalu meninggalkan Kota Tuban.. cerita rumit itu mulai menunjukkan kisahnya..  Aku terbangun dari tidurku melihat secara tak sengaja gapura besar yang umum di jumpai di setiap perbatasan Kabupaten.. "Selamat Datang Di Kabupaten Lamongan" "berarti sudah sampai lamongan nih, selamat tinggal Kabupaten Tuban tercinta.." huhuhuhuhu... kenanganku bersamamu tak akan pernah hilang kok... jangan lupain aku juga ya... hikz.. (apaan sech!!... lebay banget, wkwkwkwk)

Aku merasakan hal yang kurang nyaman dari tadi.. "bisku kok lemot ya" heheheh.. pikiranku udah terlanjur terdoktrin oleh pemahaman aneh.... 'bis itu normalnya melaju kencang berlomba menggapai tujuan dengan cepat' tapi bis ku beda nih.. tak apalah... meskipun juga banyak yang protes "kapan tutuk'e nek bise koyok ngene"

Dari kejauhan ku lihat mobil lawas L 300 yang melaju kencang .. heheheh ...mungkin sopirnya lagi "kebelet"....

tiba-tiba ku dengar suara yang cukup mengejutkan seluruh penumpang walaupun ku dengar samar-samar..

"Bruak.... "  srueeekkk... seperti benda keras yang terseret di atas kerasnya aspal...

Dan menurut penumpang yang duduk di bangku belakang.. itu adalah suara sepeda motor yang terjatuh tepat di belakang bis karena menghindari mobil L300 tadi yang melaju kencang ketika akan mendahului bis........

Mudah-mudahan tidak apa-apa...

"Yeah.. Tiba juga di kawasan Kecamatan Brondong, Lamongan, Tempat TPI Brondongnya  pasti sudah dekat.. "pikirku

"Heh... woy.. Mari nabrak gak Tanggung Jawab.. ".. Ku di kejutkan oleh seorang pemuda berambut lancip menggedor-gedor pintu sopir dengan motor modifnya...

Wah... Apa yang terjadi ini..

"Arek iku maeng ngarani kene (kita).. padahal kene gak salah lho.." Seloroh sang sopir kaget...

"Ojok wedi pakk... saksi ne wong sak bis" teriak ketua rombongan...

Akhirnya bis tetap melaju pelan.. mana orang yang menuduh tadi?? dia melaju kencang seakan mengejar sesuatu.. ckckck... Haduh.. Hati ku semakin berkecamuk tak karuan.. pasti bakal  terjadi apa-apa ini... Jantungku pun semakin berdetak kencang ketika melihat pemuda penuduh tadi berdiri di tengah jalan bersama petugas kepolisian tepat di depan SPBU samping Kantor Polsek Brondong. "Turun pak" teriak salah seorang petugas kepada sang sopir.. "Saya tidak bersalah pak... Saya tidak merasa nabrak kok"  bela sang sopir dengan sedikit gugup

"Iya.. pak.. kami hanya mendapat laporan, bapak kami mintai keterangan dulu... surat-suratnya mana"

Tegang : salah satu polisi yang "memaksa" untuk mengambil kelengkapan surat-surat bis


Memeriksa dengan teliti STNK bis dan SIM sang sopir

Gagal memotret wajah Pemuda Penuduh (kiri) yang berdebat panjang dengan sopir dan para penumpang.


Ku sampai lupa sudah berapa kali para penumpang dengan nada kotor menghujat mati-matian sang pemuda yang di nilai sebagai 'pefitnah', Asal nuduh, 'tak becus' hingga munculnya kata-kata khas Jawa Timur.. apa lagi kalau bukan 'misuh-misuh'

sang pemuda pun tak mau kalah...

"Aku rene iki mbelo seng mbok tabrak, sakno Pak.. buk... Sampek gak sadar iku loh.. "

"Heh... Koen jok ngawur.. bisku iki gak salah, saksine iki wong sak bis.. cangkem mu ojok ceplas-ceplos ae lah..." jawab salah satu penumpang laki-laki tak kalah pedass...   "Nek gak terimo ayo gelut ae... c*k" (sensor untuk kata kotor)... teriak Penumpang lain..

"Sudah.. Sudah... Semua tenang..." Pak sopir, tolong bawa bisnya untuk di perkir di samping Polsek, Kita akan selesaikan dengan baik-baik, saya tak mau jika malah terjadi kericuhan yang lebih condong ke pelangaran hukum" Sahut Polisi mencoba mendamaikan dengan bijak.....

Aku pun tak berharap kejadian ini terjadi hingga separah ini.. Bagaimana jika sopirku di tahan?? Bagaimana jika para penumpang sampai bentrok dengan pemuda itu?? Sangat mungkin jika penduduk sini pun pasti membela sang pemuda tadi... wah...Semakin keruh kan... ??? Aku percaya ini hanya salah paham.. kenapa harus saling hujat???



Posted By

Tanda Tangan

Posting Komentar untuk "Tragedi Brondong, Terjebak dalam Kesalahpahaman (1)"